JAKARTA,MM.- Memasuki era peperangan modern berbasis teknologi tinggi, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menunjukkan kesiapan tempurnya melalui latihan operasi gabungan berskala besar yang melibatkan kekuatan laut dan udara secara simultan.
Dalam skenario tempur tersebut, sasaran eks-KRI Teluk Hading berhasil dihancurkan dalam waktu singkat melalui serangan terintegrasi di Perairan Karimun Jawa, Kamis (23/4).
Latihan yang dikemas dalam Latihan Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) ini menjadi ajang uji kemampuan tempur lintas matra, dengan melibatkan sedikitnya 20 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dari TNI Angkatan Laut serta dukungan udara dari pesawat tempur F-16 TNI Angkatan Udara.
Tahap pertama latihan diawali dengan penembakan rudal anti-kapal jenis Exocet MM40 Block 3 dari unsur KRI. Rudal tersebut meluncur presisi tinggi dan menghantam target laut secara efektif, menunjukkan kemampuan sistem persenjataan modern TNI AL dalam menghadapi ancaman maritim.
Memasuki tahap kedua, operasi dilanjutkan dengan skenario Operasi Udara Lawan Laut (OULL). Tiga unit pesawat tempur F-16 TNI AU dikerahkan untuk melakukan serangan udara dengan menjatuhkan bom MK-12 secara presisi ke sasaran yang telah ditentukan.
Tak hanya itu, latihan juga mencakup duel artileri (artillery duel) yang melibatkan unsur Striking Force TNI AL. Dengan sistem penembakan modern berakurasi tinggi, sasaran darat di Pulau Gundul berhasil dihancurkan, memperlihatkan kesiapan TNI dalam menghadapi berbagai spektrum ancaman, baik laut maupun darat.
Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto serta para Kepala Staf Angkatan, turut menyaksikan langsung jalannya latihan dan memberikan apresiasi atas profesionalisme prajurit di lapangan.
Latihan ini dinilai sebagai bentuk nyata kesiapan tempur TNI dalam menghadapi dinamika peperangan modern yang semakin kompleks dan terintegrasi. Selain menguji kemampuan teknis alutsista, Latopslagab juga menjadi sarana memperkuat interoperabilitas antar matra dalam satu komando operasi terpadu.
Lebih dari itu, latihan ini mengandung pesan strategis sebagai daya tangkal (deterrence) terhadap potensi ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan demonstrasi kekuatan yang melibatkan rudal, pesawat tempur, hingga sistem artileri modern, TNI menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapan dan profesionalisme dalam menjaga kedaulatan wilayah nasional di tengah perkembangan teknologi militer global yang kian pesat.(MM-3)
















