AMBON, MM. — Kunjungan Komandan Satuan Kapal Patroli (Dansatrol) Kodaeral IX, Kolonel Laut (P) Imam Ibnu Hajar ke KRI Kerapu-812 di galangan PAL Indonesia Surabaya tak sekadar seremoni. Di balik agenda “Jam Komandan”, tersirat penekanan tegas soal disiplin, keselamatan, dan kesiapan tempur yang tidak boleh kendor meski kapal tengah menjalani perbaikan besar.
KRI Kerapu-812 saat ini sedang memasuki fase penting refurbishment, re-engine, dan repowering—tahapan krusial yang menentukan masa depan performa kapal dalam mendukung operasi patroli di wilayah timur Indonesia.
Dalam arahannya, Dansatrol mengingatkan bahwa masa docking bukanlah waktu jeda bagi prajurit, melainkan periode strategis untuk memastikan kapal kembali dalam kondisi optimal.
“Ini bukan masa istirahat. Justru di sinilah kesiapan tempur dibangun ulang secara menyeluruh,” tegasnya.
Lingkungan galangan kapal disebut memiliki tingkat risiko tinggi, mulai dari pekerjaan teknis berat hingga potensi kecelakaan kerja. Karena itu, Dansatrol menekankan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Seluruh personel diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD), serta memastikan setiap pekerjaan diawali dengan safety briefing yang ketat.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan agar prajurit tidak sepenuhnya bergantung pada pihak galangan. Dalam penekanannya, Dansatrol menyoroti pentingnya peran teknisi internal kapal untuk aktif mengawasi pekerjaan vendor.
Hal ini dinilai krusial guna memastikan seluruh komponenmulai dari mesin, sistem elektronik, hingga persenjataan, dipasang sesuai standar operasional dan spesifikasi teknis.
“Jangan hanya menyerahkan pada pihak galangan. Personel KRI harus paham dan mengawal setiap proses,” ujarnya.
Selain itu, awak kapal juga diminta tetap menjalankan pemeliharaan mandiri pada sistem-sistem vital seperti bakap dan Sewaco (Sensor, Weapon, and Command), guna menjaga kesinambungan kesiapan operasional.
Dansatrol juga menekankan bahwa disiplin militer tidak boleh luntur meski kapal tidak sedang beroperasi di laut. Ia mengingatkan bahwa fase docking justru menjadi ujian mental dan profesionalisme prajurit.
Kepatuhan terhadap komando, soliditas tim, serta etos kerja tinggi disebut sebagai faktor utama keberhasilan proses perbaikan.
“Perbaikan yang sukses bukan hanya soal kapal, tetapi juga keselamatan personel dan keberhasilan misi ke depan,” katanya.
Selain aspek teknis dan disiplin, masa overhaul juga dinilai sebagai peluang emas bagi prajurit untuk memperdalam pemahaman terhadap sistem kapal, baik dari sisi teknis maupun operasional.
Dengan terlibat langsung dalam proses perbaikan, personel diharapkan memiliki penguasaan yang lebih komprehensif terhadap kapal yang mereka operasikan.
Menutup arahannya, Dansatrol mengajak seluruh awak untuk menjaga kekompakan dan merawat kapal dengan penuh tanggung jawab.
“Rawat kapal seperti rumah sendiri. Dari sinilah kita menjaga kedaulatan laut NKRI,” pungkasnya.(MM-3)
















