AMBON, MM — Kinerja ekonomi Provinsi Maluku pada triwulan I-2026 menunjukkan dua wajah berbeda. Di satu sisi tumbuh kuat secara tahunan, namun di sisi lain mengalami kontraksi bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, mengungkapkan bahwa ekonomi Maluku tumbuh sebesar 5,16 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), namun terkontraksi -3,26 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q).
“Secara kumulatif hingga triwulan I-2026, ekonomi Maluku tetap mencatat pertumbuhan 5,16 persen,” ujar Maritje dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Ambon, Selasa (5/5/2026).
BPS mencatat nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2026 mencapai Rp17,15 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, nilainya sebesar Rp9,87 triliun.
Pertumbuhan tahunan tersebut ditopang oleh sejumlah sektor unggulan, terutama dari sisi produksi. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat lonjakan tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 18,89 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen impor luar negeri menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan signifikan sebesar 52,13 persen. Meski mencatat pertumbuhan tahunan positif, ekonomi Maluku mengalami kontraksi -3,26 persen dibandingkan triwulan IV-2025. Kondisi ini dinilai sebagai fenomena musiman yang kerap terjadi pada awal tahun.
Dari sisi produksi, sektor akomodasi dan makan minum tetap menunjukkan pertumbuhan tertinggi secara triwulanan sebesar 2,97 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, impor luar negeri kembali menjadi komponen dominan dengan pertumbuhan 16,71 persen.
Kontraksi ini mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi setelah puncak konsumsi pada akhir tahun sebelumnya, yang biasanya dipicu oleh momen libur panjang dan peningkatan belanja masyarakat.
Capaian pertumbuhan 5,16 persen secara tahunan memberikan sinyal positif terhadap daya tahan ekonomi Maluku di tengah dinamika global dan domestik. Namun, tingginya pertumbuhan impor juga menjadi catatan penting karena berpotensi menekan keseimbangan ekonomi daerah.
Selain itu, ketergantungan pada sektor tertentu seperti akomodasi dan konsumsi menunjukkan perlunya diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi agar lebih stabil dan berkelanjutan.
BPS menilai, penguatan sektor produktif, peningkatan investasi, serta pengendalian inflasi akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Maluku pada triwulan-triwulan berikutnya.
Dengan kombinasi pertumbuhan yang tetap solid secara tahunan dan tantangan kontraksi jangka pendek, ekonomi Maluku di awal 2026 berada pada fase transisi yang membutuhkan strategi kebijakan yang adaptif dan berimbang.(MM-3)
















