Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahHeadline

HUT ke-91 GPM, Lewerissa: Jangan Terjebak Romantisme Masa Lalu, Gereja Harus Berani Melangkah

5
×

HUT ke-91 GPM, Lewerissa: Jangan Terjebak Romantisme Masa Lalu, Gereja Harus Berani Melangkah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. – Memasuki usia ke-91 tahun, Gereja Protestan Maluku (GPM) diingatkan untuk tidak larut dalam romantisme perjalanan masa lalu, tetapi berani melangkah menghadapi tantangan masa depan.

 

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dalam resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 GPM yang berlangsung di Gedung Baileo Oikumene Ambon, Minggu (6/9/2026).

 

Lewerissa mengatakan, usia 91 tahun merupakan bukti panjangnya perjalanan dan penyertaan Tuhan bagi GPM. Namun, perjalanan sejarah tersebut harus menjadi kekuatan untuk menatap masa depan, bukan alasan bagi gereja untuk berhenti dan terlena dengan pencapaian masa lalu.

 

“91 tahun adalah bukti penyertaan Tuhan bagi GPM. Namun masa depan tidak menanti gereja yang terpukau pada romantisme masa lalu, sebab masa depan adalah milik mereka yang berani melangkah dengan syukur dan tekun mengerjakannya,” tegas Lewerissa.

 

Menurutnya, momentum HUT ke-91 harus dimaknai sebagai kesempatan bagi seluruh warga GPM untuk kembali melihat panggilan gereja di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

 

Lewerissa yang juga merupakan warga GPM menilai, GPM memiliki posisi penting dalam perjalanan peradaban Maluku. Gereja tidak hanya menjadi pilar kehidupan spiritual, tetapi juga telah menjadi rumah bersama yang ikut membentuk jiwa, identitas, serta karakter masyarakat Maluku.

 

Karena itu, gereja dituntut untuk terus hadir secara nyata di tengah kehidupan masyarakat dan menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat.

 

Ia menyinggung perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta media sosial yang telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi. Di tengah kemajuan tersebut, masyarakat juga menghadapi berbagai persoalan seperti kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan, narkoba, kerusakan lingkungan, krisis keluarga, intoleransi hingga melemahnya karakter dan nilai-nilai kehidupan.

 

“Manusia semakin terhubung secara digital, tetapi cenderung semakin jauh secara emosional dan spiritual. Kita memiliki banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan,” ujarnya.

 

Dalam konteks tersebut, Lewerissa mengajak GPM untuk tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi mengambil bagian secara langsung dalam menjawab pergumulan masyarakat.

 

Gereja, katanya, harus mampu menyapa mereka yang kehilangan harapan, menguatkan keluarga yang sedang menghadapi persoalan, membela martabat manusia, menjaga lingkungan, membangun generasi muda, serta menghadirkan pelayanan yang membebaskan.

 

Pesan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan tema HUT ke-91 GPM, “Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Menaruh Takut akan Allah.”

 

Lewerissa mengatakan, bersyukur tidak berarti bahwa perjalanan kehidupan selalu berlangsung tanpa kesulitan. Sebaliknya, rasa syukur merupakan kemampuan untuk melihat penyertaan Tuhan dalam setiap keadaan, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan.

 

“Pada usia 91 tahun ini, marilah kita mengatakan dengan rendah hati: Eben-Haezer, sampai di sini Tuhan telah menolong kita,” tuturnya.

 

Namun, rasa syukur tersebut harus diikuti dengan keberanian untuk terus bermisi. Menurut Lewerissa, gereja dipanggil untuk menghadirkan Kristus di tengah dunia yang terus berubah.

 

Ia juga menekankan pentingnya nilai takut akan Allah sebagai fondasi dalam menjalankan pelayanan. Rasa takut akan Allah, kata dia, merupakan kesadaran bahwa setiap tindakan, kebijakan, maupun pelayanan harus berpijak pada keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab moral.

 

Dalam pembangunan Maluku, Lewerissa menegaskan bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia.

 

“Maluku tidak hanya membutuhkan infrastruktur beton dan baja, tetapi Maluku membutuhkan jiwa-jiwa yang kokoh dan berintegritas,” tegasnya.

 

Menurutnya, pemerintah dan gereja memiliki ruang pengabdian yang dapat berjalan berdampingan. Pemerintah berupaya menghadirkan kesejahteraan material, sementara gereja memiliki peran penting dalam memperkuat kedewasaan spiritual dan karakter masyarakat.

 

Ia menyebut penurunan angka kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, serta upaya menjaga perdamaian dan persaudaraan sebagai agenda bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

 

Pada kesempatan itu, Lewerissa juga meminta dukungan doa dari pimpinan, para pelayan, dan seluruh warga GPM terhadap berbagai agenda strategis pembangunan Maluku.

 

Sejumlah agenda tersebut antara lain pembangunan Blok Masela, pengembangan Maluku Integrated Port atau Maluku Integrated Lumbung Ikan Nasional, penyelesaian Bendungan Wae Apu, hilirisasi sektor pertanian, kelapa dan pala, hilirisasi migas di Buru Selatan, pengembangan Koperasi Kelapa Unggulan Daerah Putih, program bedah rumah, pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Tipe B, serta perjuangan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan.

 

Lewerissa menegaskan, agenda tersebut bukan semata-mata agenda pemerintah, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk mengubah kekayaan dan posisi strategis Maluku menjadi konektivitas, ketahanan pangan, investasi, lapangan kerja, serta keadilan pembangunan bagi masyarakat.

 

“Saya percaya doa gereja adalah kekuatan moral bagi setiap perjuangan yang baik. Karena itu, mari kita satukan kerja pemerintah, doa gereja, dan kekuatan rakyat,” ajaknya.

 

Memasuki perjalanan menuju satu abad GPM, Lewerissa kembali mengajak seluruh warga gereja untuk terus bermisi di berbagai ruang kehidupan. Misi gereja, menurutnya, tidak terbatas di dalam gedung gereja, tetapi harus hadir di sekolah, pasar, rumah sakit, kantor, toko, rumah tangga, laut hingga kebun.

 

“Selagi matahari masih terbit di timur dan gelombang masih memukul pantai-pantai pulau kita, percaya dan yakinlah, Tuhan tidak pernah meninggalkan Maluku,” katanya.

 

Ia berharap GPM tetap menjadi gereja yang mampu menghadirkan kebenaran, terang, kasih, keadilan, dan pengharapan di tengah masyarakat.

 

Perayaan HUT ke-91 GPM turut dihadiri Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode GPM beserta jajaran, Ketua DPRD Provinsi Maluku selaku Ketua Panitia HUT ke-91 Sinode GPM, jajaran Forkopimda Provinsi Maluku, Wali Kota Ambon beserta jajaran Forkopimda Kota Ambon, Tenaga Ahli Menteri ESDM, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, para Ketua Majelis Pekerja Klasis dari 34 Klasis GPM, serta pimpinan perguruan tinggi se-Maluku.(MM)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *