Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
HeadlineOpini

*Kartini, Tiahahu, dan Suara Perempuan yang Belum Selesai*

25
×

*Kartini, Tiahahu, dan Suara Perempuan yang Belum Selesai*

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh : Imanuella Tahapary, S.I.Kom

Peringatan Hari Kartini sering kali dipahami sebatas seremoni kebaya, lomba, dan pujian terhadap Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi. Namun, jika dilihat dari perspektif ilmu komunikasi, perayaan ini justru menyisakan pertanyaan mendasar: apakah semua perempuan benar-benar sudah memiliki ruang untuk berbicara dan didengar?

Kartini memperjuangkan hak untuk berpikir dan menyampaikan gagasan. Ia melawan keterbatasan komunikasi pada zamannya di mana perempuan tidak memiliki akses untuk menyuarakan diri. Dalam arti sederhana, perjuangan Kartini adalah perjuangan untuk menjadi subjek dalam komunikasi, bukan sekadar objek.

Namun di Maluku, kita juga memiliki Martha Christina Tiahahu seorang perempuan yang tidak hanya berbicara tentang kebebasan, tetapi juga bertindak melawannya secara langsung. Jika Kartini melawan lewat kata, Tiahahu melawan lewat aksi. Keduanya memiliki semangat yang sama yaitu menolak dibungkam.

Masalahnya, dalam realitas hari ini, tidak semua suara perempuan diperlakukan setara.

Dalam teori komunikasi, siapa yang menguasai ruang bicara, dialah yang membentuk makna. Artinya, ketika suara perempuan dari daerah seperti Maluku jarang muncul dalam media atau diskusi publik, maka realitas mereka pun ikut tersingkir. Mereka ada, tetapi tidak dianggap penting. Ini bukan sekadar ketidakhadiran, melainkan bentuk ketidakadilan komunikasi.

Di sinilah letak persoalan kritisnya.

Hari Kartini sering dirayakan secara nasional, tetapi pengalaman perempuan tidaklah tunggal. Perempuan di pusat dan di daerah memiliki realitas yang berbeda. Ketika hanya satu jenis pengalaman yang terus diangkat, maka yang lain perlahan dilupakan. Ini adalah bentuk dominasi dalam komunikasi halus, tetapi nyata.

Secara filosofis, kebebasan bukan hanya tentang diberi kesempatan untuk berbicara, tetapi tentang diakui sebagai suara yang bermakna. Tanpa pengakuan itu, komunikasi hanya menjadi formalitas, bukan pembebasan.

Karena itu, mengingat Kartini tanpa menghadirkan semangat Martha Christina Tiahahu adalah kehilangan sebagian makna perjuangan perempuan Indonesia. Kartini mengajarkan kita untuk berpikir dan bersuara, sementara Tiahahu mengajarkan kita untuk berani melawan ketika suara itu diabaikan.

Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi kritik.

Kritik bahwa hingga hari ini, masih ada perempuan yang suaranya tidak didengar.
Kritik bahwa ruang komunikasi belum sepenuhnya adil.

Dan kritik bahwa emansipasi sering kali hanya dirayakan, tetapi belum benar-benar diwujudkan.

Kartini belum selesai.
Tiahahu juga belum selesai.

Dan mungkin, perjuangan terbesar hari ini bukan lagi sekadar berbicara tetapi memastikan bahwa setiap suara perempuan, dari mana pun asalnya, benar-benar dianggap berarti.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *