Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahHeadline

Kebakaran Hebat Hanguskan Pasar Piru, Respons Lambat Pemadam Tuai Sorotan Tajam

14
×

Kebakaran Hebat Hanguskan Pasar Piru, Respons Lambat Pemadam Tuai Sorotan Tajam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PIRU,MM.— Kebakaran besar melanda kawasan Pasar Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), pada Selasa (21/04/2026), menghanguskan sejumlah kios dan pertokoan milik warga.

Insiden ini tidak hanya menyebabkan kerugian material yang besar, tetapi juga memicu kemarahan masyarakat terhadap lambannya penanganan dari pihak pemadam kebakaran.

Api dilaporkan mulai berkobar pada siang hari dan dengan cepat membesar, merambat ke bangunan lain yang berada di sekitar pasar.

Material bangunan yang didominasi kayu serta jarak antar kios yang berdekatan membuat kobaran api sulit dikendalikan.

Warga yang berada di lokasi langsung panik. Sebagian berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya, sementara yang lain berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka. Namun, upaya tersebut tidak mampu menahan laju api yang terus meluas.

“Kami hanya bisa lihat api membesar. Barang-barang banyak yang tidak sempat diselamatkan,” ungkap salah satu pedagang dengan wajah penuh kepanikan.

Situasi semakin memanas ketika mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi dengan keterlambatan. Kehadiran petugas yang dinilai tidak sigap memicu kekecewaan warga.

Mereka menilai, lambannya respons menjadi salah satu faktor utama yang memperparah dampak kebakaran.

Seorang warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut mengkritik keras kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana kebakaran.

Menurutnya, peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi di wilayah Piru.
“Di Piru ini sudah sering terjadi kebakaran, baik di hutan maupun permukiman. Harusnya pemerintah belajar dan meningkatkan kesiapsiagaan, jangan terkesan acuh,” tegasnya.

Selain soal keterlambatan, kondisi armada pemadam kebakaran juga menjadi sorotan. Warga menilai kendaraan yang dikerahkan sudah tidak layak digunakan dalam kondisi darurat.

“Mobil yang datang itu mobil lama, alat-alatnya juga tidak maksimal. Dalam kondisi darurat seperti ini, seharusnya yang diturunkan adalah peralatan yang siap pakai. Kami juga bertanya-tanya, mobil yang baru itu di mana?” tambahnya.

Tak hanya itu, kemampuan dan kesiapan personel pemadam kebakaran turut dipertanyakan. Warga berharap adanya peningkatan kapasitas melalui pelatihan rutin dan simulasi penanganan kebakaran agar respons di lapangan bisa lebih cepat dan terkoordinasi.

Peristiwa ini pun memunculkan kritik terhadap penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) oleh pemerintah daerah, khususnya dalam sektor penanggulangan bencana.

Masyarakat menilai pelayanan yang diberikan belum memenuhi standar yang diharapkan, sehingga berimbas pada kerugian yang lebih besar saat musibah terjadi.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran.

Sementara itu, jumlah kerugian masih dalam proses pendataan, namun diperkirakan mencapai angka yang signifikan mengingat banyaknya kios yang terbakar.

Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi para pedagang yang kehilangan sumber mata pencaharian mereka. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh serta mengambil langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang. (R-L)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *