Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadline

Festival Budaya Daerah 2025 Akhiri  Rangkaian Kegiatan BPKW XX Tahun 2025 di Ambon

85
×

Festival Budaya Daerah 2025 Akhiri  Rangkaian Kegiatan BPKW XX Tahun 2025 di Ambon

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XX Maluku menutup rangkaian kegiatannya di Kota Ambon dengan Festival Budaya Maluku 2025. Menurut Ketua Penyelenggara, Stenly R. Loupatty,  kegiatan ini merupakan simbol bahwa Ambon adalah pintu masuk dan keluar bagi masyarakat Nusantara dan mancanegara yang berkunjung ke Maluku.

 

Loupatty menjelaskan, BPKW XX saat ini tengah menyiapkan naskah akademis untuk mengusulkan _Tahuri_ sebagai warisan budaya ke UNESCO. ” Kami sudah menyiapkan itu, dan kami akan berjumpa dengan Walikota, Wakil Walikota dan jajaran, karena untuk sampai ke UNESCO harus ada rekomendasi yang diawali dari Pemerintah kabupaten Kota ,” ujarnya, di Ambon, Sabtu (13/12/2025).

Sesuai  undang-undang nomor 11 tahun 2010 terkait cagar budaya maupun UU nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan menurutnya,  perlu adanya kerjasama dengan pemerintah pada level provinsi dan kabupaten kota.

 

Festival ini bertujuan mendorong kolaborasi BPKW XX dengan Pemerintah Kota Ambon untuk mendukung Ambon sebagai Kota Musik Dunia. “Kami ingin pengakuan ini bukan sekadar simbol, tapi diwujudkan dalam aksi nyata para pelaku budaya dan masyarakat Ambon,” tambah Loupatty. Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat ekspresi budaya generasi muda, mensinergikan stakeholder kebudayaan, dan mempromosikan wisata budaya.

 

Tema festival, “Ambon Baileo Bersama,” menekankan pentingnya menjaga kerukunan dan memberi ruang ekspresi budaya. Loupatty juga menyoroti pentingnya pembentukan karakter generasi muda melalui agama, pendidikan, dan kebudayaan, seraya mengajak semua pihak menyuarakan perdamaian.

 

Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisuta, dalam sambutannya, mengapresiasi BPKW XX atas dukungannya. “Ambon bukan hanya untuk etnis Maluku, tapi ruang bagi kebudayaan Nusantara. Filosofi _’tampak kabaresi’_—gagah namun hati terbuka—menggambarkan keterbukaan Ambon,” katanya.

 

Festival Budaya Maluku ini, bertepatan dengan ruang ekspresi komunitas budaya di kota Ambon dalam mendukung Ambon sebagai kota musik dunia, karena kota Ambon menjadi identitas budaya yang mempesona, artinya siapa saja yang datang dan menikmati nuansa kota Ambon dari semua sudut ruang budaya

 

“Kesempatan ini atas nama warga kota Ambon saya memberikan apresiasi yang tinggi bagi Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku yang selama ini mendukung dan mensuport melalui program-program unggulan dalam mendukung Ambon sebagai kota musik dunia oleh UNESCO.”Ucap Tosuta.

 

Bahkan menurut Tousuta kota Ambon bukan lagi hanya untuk etnis Maluku saja namun telah memberi ruang bagi muncul dan berkembangnya kebudayaan suku dan bangsa Nusantara .

 

“Pada festival kali ini kita disuguhkan oleh tari-tarian tradisional pakaian adat musik tradisional yang tidak lagi didominasi oleh musik etnis dan budaya lokal saja ini berarti menemukan makna sesungguhnya dari keberagaman menjadi pusat kekuatan bersama dalam membangun Ambon sebagai musik kota dunia dimana ada filosofi budaya yang menyebut orang Ambon tampak kabaresi artinya gagah perkasa seperti pohon sagu namun hatinya terbuka bagaikan Patih sagu yang putih bersih,”jelasnya.

 

Festival ini menampilkan tarian, musik, dan pakaian adat, melibatkan sanggar budaya dan komunitas di Ambon, dengan pembiayaan dari DIPA BPKW XX 2025. Ibu-ibu PKK BPKW XX juga turut menyukseskan acara dengan menyediakan makanan dan minuman ringan. (MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *