Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadlinePendidikan

Taman Budaya Maluku Berburu Talenta Seni, 30 Pelajar Diasah Jadi Kreator Masa Depan

10
×

Taman Budaya Maluku Berburu Talenta Seni, 30 Pelajar Diasah Jadi Kreator Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. – Upaya melahirkan generasi kreatif berbasis budaya lokal terus dilakukan Pemerintah Provinsi Maluku. Melalui UPTD Taman Budaya Maluku, sebanyak 30 pelajar tingkat SMA, SMK, dan SLB dari 20 sekolah mengikuti Workshop Seni Rupa dan Kriya Tahun 2026 yang berlangsung selama lima hari di Gedung Galeri Lia-Lia, Karang Panjang, Ambon.

 

Kegiatan yang mengusung tema “Harmoni Talenta Beta” itu resmi dibuka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M.Pd., Senin (8/6/2026).

 

Pembukaan workshop ditandai dengan pencoretan garis pada papan gambar oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan bersama peserta, guru pendamping, dan kepala sekolah sebagai simbol dimulainya proses kreatif dan pengembangan talenta seni generasi muda Maluku.

 

Dalam sambutannya, Sarlota menegaskan bahwa pengembangan seni dan budaya harus tetap menjadi prioritas meski daerah menghadapi keterbatasan anggaran. Menurutnya, kreativitas tidak boleh berhenti hanya karena persoalan fiskal.

 

Ia memberikan apresiasi kepada UPTD Taman Budaya Maluku yang tetap konsisten menyelenggarakan program pembinaan seni bagi pelajar di tengah tantangan keuangan daerah.

“Tidak ada uang bukan berarti tidak ada kegiatan. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus bergerak dan membuka ruang bagi anak-anak Maluku mengembangkan bakat mereka,” ujarnya.

 

Menurut Sarlota, pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan saat ini memberikan perhatian besar terhadap pembangunan sektor kebudayaan sebagai bagian dari strategi menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Taman Budaya yang dimanfaatkan untuk pembinaan dan pengembangan talenta seni di daerah.

 

Meski demikian, ia menilai potensi seni yang dimiliki generasi muda Maluku masih belum tergarap secara optimal. Dari sekitar 98 ribu pelajar yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, jumlah yang aktif mengikuti kegiatan seni dinilai masih sangat kecil.

 

Karena itu, kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan Taman Budaya perlu terus diperkuat agar semakin banyak bakat seni yang dapat ditemukan dan dikembangkan.

Sarlota juga menekankan pentingnya memberikan ruang ekspresi kepada peserta didik. Menurutnya, kreativitas lahir ketika anak-anak diberi kesempatan untuk mencoba, berinovasi, dan menampilkan gagasan mereka kepada publik.

 

Ia mengingatkan bahwa karya besar sering kali berawal dari ide sederhana yang diberi ruang untuk berkembang.

Selain mendorong kreativitas, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Maluku juga mengajak para peserta menjadikan budaya lokal sebagai sumber inspirasi utama dalam berkarya. Kekayaan tradisi, adat istiadat, serta keindahan alam Maluku dinilai memiliki nilai artistik tinggi yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk karya seni kontemporer.

 

“Kita ingin anak-anak Maluku mampu menghadirkan karya yang modern, tetapi tetap berpijak pada identitas budaya daerahnya,” katanya.

Lebih jauh, Sarlota menilai seni rupa dan kriya memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Melalui proses berkarya, pelajar belajar tentang disiplin, ketekunan, kesabaran, kemampuan berpikir kreatif, hingga keterampilan menyelesaikan masalah.

 

Ia bahkan mendorong agar karya-karya terbaik yang lahir dari workshop tersebut nantinya dapat didaftarkan untuk memperoleh Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sebagai bentuk perlindungan sekaligus penghargaan terhadap kreativitas pelajar.

 

Sementara itu, Kepala Seksi Penyajian Apresiatif Seni dan Budaya UPTD Taman Budaya Maluku sekaligus Ketua Panitia, Prihe S. Letlora, S.S., M.Hum., menjelaskan workshop tersebut merupakan bagian dari program pembinaan manajemen talenta seni budaya bagi generasi muda Maluku.

Menurutnya, seni rupa dan kriya bukan sekadar keterampilan teknis seperti menggambar, melukis, memahat atau membuat kerajinan tangan, tetapi juga menjadi media bagi pelajar untuk mengekspresikan identitas budaya, gagasan, dan pandangan mereka terhadap kehidupan.

 

“Melalui kegiatan ini peserta tidak hanya belajar teknik berkarya, tetapi juga dibimbing untuk membangun portofolio, memperluas jejaring kreatif, serta meningkatkan kepercayaan diri sebagai calon seniman masa depan,” jelasnya.

 

Workshop tersebut menghadirkan tiga narasumber berpengalaman, yakni Helmi Ishak Johanes dan Klemens Sarimanela pada bidang seni rupa, serta Minondhy Kastanya pada bidang kriya.

 

Selama lima hari pelaksanaan, peserta akan mendapatkan pembekalan teori, praktik, serta pendampingan langsung dalam proses penciptaan karya.

 

Hasil karya para peserta nantinya akan dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa dan Kriya Pelajar yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Pameran itu diharapkan menjadi wadah apresiasi sekaligus etalase kreativitas generasi muda Maluku kepada masyarakat luas.

 

Melalui kegiatan ini, Taman Budaya Maluku tidak hanya membina kemampuan artistik pelajar, tetapi juga menyiapkan ruang lahirnya generasi kreatif yang mampu menjadikan seni sebagai sarana pengembangan diri, pelestarian budaya, serta kontribusi nyata bagi pembangunan daerah di masa depan.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *