AMBON, MM. – Konser Musisi Muda Maluku Tahun 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan musik, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan jati diri, merawat ingatan budaya, serta memperkuat keberagaman dalam satu harmoni.
Mengusung tema “Beringin Tua; Satu Pohong, Saribu Suara”, kegiatan yang digagas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku melalui Taman Budaya Provinsi Maluku ini digelar dalam momentum peringatan 98 Tahun Hari Sumpah Pemuda dengan semangat “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.
Ketua Panitia Penyelenggara, Files Wattimena, M.Hum., dalam laporannya mengatakan, tema Beringin Tua memiliki makna filosofis tentang keteguhan akar budaya, keberagaman, serta ruang tumbuh bagi generasi muda.
Menurutnya, beringin tua merupakan lambang keteguhan akar budaya dan tempat bernaungnya keberagaman. Dari satu pohon tumbuh banyak cabang, sebagaimana Maluku yang memiliki beragam irama, warna, dan ekspresi, namun tetap berakar pada tanah serta kebudayaan yang sama.
Dikatakan, Konser Musisi Muda Maluku 2026 merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berupaya memperkuat pembinaan, pengembangan, sekaligus memberikan ruang presentasi bagi karya unggulan talenta muda di bidang seni musik. Dengan demikian, generasi muda Maluku tidak hanya memiliki kemampuan bermusik, tetapi juga kesempatan untuk berkembang, berkarya, dan meraih prestasi.
Lebih lanjut dijelaskan, sebanyak 30 peserta yang sebelumnya mengikuti Workshop Seni Musik pada 3–7 Agustus 2026 kembali dipertemukan dalam proses kreatif yang lebih matang.
Di bawah pendampingan dua narasumber sekaligus penata artistik, Igor Sopamena dan Rido Kainama, para peserta mengembangkan pengalaman, mempertemukan gagasan, meramu bunyi, serta membangun identitas musikal masing-masing.
Dari 30 peserta tersebut, terbentuk empat kelompok musisi muda yang akan menampilkan karya unggulan hasil proses workshop, yakni KAMSURA, MATAWARI, HELA, dan KASUTAWA.
Keempat kelompok tersebut hadir dengan karakter, eksplorasi, dan ekspresi musikal yang berbeda, tetapi tetap berpijak pada semangat yang sama, yakni mengangkat kekayaan identitas dan kebudayaan Maluku melalui musik.
Selain konser, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penyerahan Buku Lagu Karya Seniman Maluku Tahun 2025 yang merupakan hasil karya lima penulis lagu, yakni Deetje Matulapelwa, Leopold Parinussa, Gerald Huwae, Esaf Malioy, dan Stane Latumahina.
Files mengatakan, buku tersebut merupakan jejak kreativitas, ingatan budaya, serta kekayaan rasa yang perlu diwariskan dari generasi ke generasi.
Diharapkan, kehadiran buku lagu itu dapat menjadi ruang bagi karya seniman untuk terus hidup, musik Maluku semakin berkembang, serta karya-karya anak daerah semakin dikenal, diapresiasi, dan diwariskan sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Pada kesempatan itu, pihak panitia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Maluku, khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, atas dukungan terhadap pengembangan talenta seni dan budaya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh peserta, tim pelaksana, serta semua pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menutup laporannya, Files berharap Konser Musisi Muda Maluku 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat eksistensi seni musik daerah sekaligus melahirkan generasi seniman muda yang kreatif dan berdaya saing.
“Beringin tua boleh berdiri dengan satu batang, tetapi ia hidup melalui ribuan ranting dan dedaunan. Maluku boleh berakar pada satu tanah, tetapi kebudayaannya tumbuh melalui seribu suara,” tutupnya.
Selanjutnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, yang diwakili Sekretaris Dinas, memberikan arahan sekaligus membuka secara resmi Konser Musisi Muda Maluku Tahun 2026.(MM-3)















