Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomiHeadline

Inflasi Maluku Tembus 4,21 Persen, Transportasi Melonjak 13,48 Persen

3
×

Inflasi Maluku Tembus 4,21 Persen, Transportasi Melonjak 13,48 Persen

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Tekanan harga di Provinsi Maluku belum mereda. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Maluku mencapai 4,21 persen pada Oktober 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,23. Kenaikan harga tertinggi justru terjadi pada kelompok transportasi yang melonjak hingga 13,48 persen.

 

Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi masih membayangi masyarakat, terutama melalui kenaikan biaya transportasi dan kebutuhan pokok yang berpotensi menambah beban pengeluaran rumah tangga.

 

Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (2/11/2026), mengungkapkan inflasi Oktober 2026 juga tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan (month to month/m-to-m). Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 3,08 persen.

 

Secara kewilayahan, Kota Ambon mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 4,77 persen dengan IHK 115,37. Sedangkan Kabupaten Maluku Tengah mencatat inflasi terendah sebesar 3,26 persen dengan IHK 112,37.

 

Pattiwaellapia menjelaskan, inflasi tahunan Maluku dipengaruhi kenaikan indeks harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi menjadi penyumbang kenaikan paling menonjol dengan inflasi 13,48 persen.

 

Tekanan berikutnya terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 5,62 persen serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,51 persen. Kenaikan pada kelompok makanan dan minuman menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kebutuhan konsumsi masyarakat sehari-hari.

 

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan 2,67 persen; perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 2,14 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,06 persen; serta rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,92 persen.

 

Kenaikan juga tercatat pada kelompok pendidikan sebesar 1,71 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,29 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,11 persen.

Sebaliknya, hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami penurunan indeks, yakni sebesar 2,45 persen.

 

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa tekanan inflasi Maluku tidak hanya terkonsentrasi pada satu sektor. Kenaikan merambah berbagai kelompok pengeluaran, mulai dari transportasi, kesehatan hingga kebutuhan konsumsi rumah tangga.

 

Dengan inflasi tahunan mencapai 4,21 persen, pengendalian harga menjadi perhatian penting, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan berbagai komponen pengeluaran.

BPS mencatat, inflasi Maluku pada Oktober 2026 secara bulanan sebesar 0,23 persen, secara tahun kalender 3,08 persen, dan secara tahunan mencapai 4,21 persen. (MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *