Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadline

IAMM Angkat Kisah Enrique Maluku, Bangun Kesadaran Sejarah dan Identitas Maritim Bangsa

11
×

IAMM Angkat Kisah Enrique Maluku, Bangun Kesadaran Sejarah dan Identitas Maritim Bangsa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. – Upaya mengembalikan Maluku ke panggung sejarah maritim dunia terus digelorakan. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Inspirasi Anak Muda Maluku (IAMM) menggelar Bedah Buku “Enrique Maluku” karya Helmy Yahya dan Reinhard Tawas yang dirangkai dengan Pagelaran Seni Budaya Maluku di Taman Budaya Maluku, Selasa (14/7/2026).

Mengusung tema “Menguatkan Semangat Kebangsaan melalui Penguatan Identitas Maritim dan Perjuangan Maluku sebagai Provinsi Kepulauan”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sejarah sekaligus ajakan membangun masa depan Maluku melalui penguatan identitas maritim.

Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, akademisi, budayawan, dan pegiat literasi tersebut tidak sekadar membedah isi buku, tetapi juga membangun kesadaran bahwa Maluku merupakan salah satu pusat peradaban maritim dunia yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah pelayaran internasional.

Nuansa kebudayaan mewarnai pembukaan acara melalui penampilan stand-up comedy Jhon Laratmase, yang mengangkat pesan kebangsaan dengan gaya satir khas Maluku. Suasana semakin hidup ketika Sanggar Tamariska membawakan lagu-lagu daerah Toma Maju, Pohon Sagu, dan Toki Gaba-Gaba, diiringi petikan ukulele dan tarian tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya masyarakat kepulauan.

Literasi Sejarah Harus Menjadi Gerakan Generasi Muda

Ketua IAMM Venesia Lesnussa menegaskan bahwa generasi Maluku tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya sendiri. Menurutnya, literasi sejarah merupakan fondasi penting untuk membangun rasa percaya diri dan kebanggaan sebagai anak negeri.

“Cerita dan karya tentang Enrique Maluku adalah satu dari banyaknya cerita tentang kehebatan Maluku yang akan terus kita munculkan di kemudian hari. Generasi Maluku saat ini harus terus disuguhi literasi sejarahnya sendiri,” tegas Venesia.

Ia mengatakan, sejarah tidak boleh berhenti menjadi arsip di perpustakaan, tetapi harus dihidupkan menjadi inspirasi yang mampu membentuk karakter, memperkuat nasionalisme, dan mendorong generasi muda menjadi pelaku pembangunan.

Maluku, Jantung Jalur Rempah Dunia

Akademisi FISIP Universitas Pattimura, Dr. M. Jen Latuconsina, S.IP., M.A., menjelaskan bahwa sejarah pelayaran dunia selama ini lebih banyak menyoroti bangsa-bangsa besar seperti Tiongkok, Arab, Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris. Padahal, menurutnya, bangsa-bangsa tersebut datang ke Nusantara karena Maluku merupakan pusat rempah-rempah dunia yang sangat bernilai.

Ia memaparkan bahwa Enrique diyakini berasal dari Maluku dan menjadi bagian penting dalam ekspedisi Ferdinand Magellan setelah ditawan ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Dengan kemampuan bahasa dan pemahamannya terhadap kawasan Nusantara, Enrique memainkan peran strategis dalam ekspedisi yang kemudian dikenal sebagai pelayaran pertama mengelilingi dunia.

Jen juga menjelaskan bahwa kejayaan rempah-rempah Maluku telah tercatat sejak ribuan tahun silam. Cengkih dan pala digunakan sebagai bumbu, obat-obatan, pengawet makanan, hingga wewangian. Jejak rempah Maluku bahkan ditemukan dalam proses pengawetan mumi Mesir dan peradaban Mesopotamia sekitar 3000 SM, menunjukkan bahwa Maluku telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan dunia jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Patahkan Klaim Asing dengan Dokumen Klasik 1523

Salah satu pembahasan yang paling menarik dalam bedah buku tersebut adalah mengenai asal-usul Enrique.
Selama ini, terdapat sejumlah klaim dari sejarawan asing, di antaranya Carlos Quirino, yang menyebut Enrique berasal dari Cebu, Filipina. Namun, dalam forum ilmiah tersebut dijelaskan bahwa klaim tersebut ditentang oleh sejumlah dokumen primer yang berasal dari masa awal pelayaran dunia.

Salah satu bukti penting berasal dari buku klasik De Moluccis Insulis (1523) karya Maximilianus Transylvanus, yang disusun berdasarkan wawancara dengan para awak kapal Victoria yang selamat kembali ke Spanyol setelah ekspedisi Magellan.
Dalam naskah asli pada halaman 26 tertulis:

“Magellan memiliki seorang budak yang berasal dari Kepulauan Maluku, yang sebelumnya ia beli di Malaka.”

Kutipan tersebut dipandang sebagai salah satu sumber primer penting dalam historiografi awal abad ke-16 yang sering dijadikan rujukan dalam kajian mengenai ekspedisi Magellan. Dalam forum ini, narasumber menilai dokumen tersebut memperkuat argumentasi bahwa Enrique memiliki keterkaitan dengan Maluku, sekaligus menjadi bahan penting dalam diskusi akademik mengenai asal-usul tokoh tersebut.

Dr. Jen Latuconsina menilai sosok Enrique memiliki posisi penting dalam sejarah pelayaran dunia dan sudah sepantasnya mendapatkan perhatian yang lebih besar dalam literatur sejarah Indonesia.

Maluku Harus Kembali Jadi Poros Maritim

Sejarawan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku, Mezak Wakim, S.Pd., M.Si. menilai buku Enrique Maluku berhasil membuka perspektif baru tentang sejarah pelayaran dunia dengan menghadirkan Enrique bukan sekadar sebagai penerjemah, tetapi sebagai diplomat ulung yang memiliki kecerdasan lintas budaya, bermental baja, dan berperan penting dalam keberhasilan ekspedisi Magellan.

Menurutnya, Maluku harus kembali ditempatkan sebagai pusat sejarah maritim dunia. Namun tantangan saat ini adalah semakin pudarnya kesadaran sejarah akibat gempuran budaya populer dan rendahnya minat membaca arsip sejarah.
Karena itu, ia mengajak generasi muda mendigitalisasi sejarah melalui komik digital, podcast, film animasi, video kreatif, hingga gim edukatif agar kisah Enrique dan kejayaan rempah Maluku tetap hidup di tengah perkembangan teknologi. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga bahasa daerah, budaya sasi, pela gandong, dan karakter bahari sebagai identitas masyarakat Maluku.

Sejarah sebagai Inspirasi Membangun Indonesia

Ketua ICM Kota Ambon, Dr. A. Manaf Tubaka, menambahkan bahwa sejarah Enrique memiliki makna pragmatis sekaligus filosofis dalam membangun Indonesia.

Menurutnya, kejayaan Maluku lahir karena posisinya sebagai pusat perdagangan rempah dunia, ketika nilai cengkih bahkan disejajarkan dengan emas.
Ia menilai sejarah Maluku mengajarkan bahwa keberagaman tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun persatuan.

“Buku Enrique Maluku memperlihatkan bahwa sejak berabad-abad lalu Maluku menjadi ruang perjumpaan berbagai bangsa dan budaya. Sejarah itu harus menjadi inspirasi membangun masa depan, bukan menjadi sumber perpecahan,” ujarnya.

Dalam sesi bedah buku juga ditegaskan bahwa semangat kemaritiman harus diterjemahkan ke dalam pembangunan Maluku sebagai provinsi kepulauan melalui penguatan konektivitas antarpulau, pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia maritim, perlindungan ekosistem pesisir, serta pengembangan pelabuhan dan pusat logistik sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.

Para narasumber sepakat bahwa perjuangan menjadikan Maluku sebagai provinsi kepulauan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari upaya menghadirkan keadilan pembangunan yang sesuai dengan karakter geografis wilayah.

Melalui kegiatan ini, IAMM berharap semangat kebangsaan tidak hanya dipahami sebagai slogan, tetapi diwujudkan melalui penguatan literasi sejarah, pelestarian budaya, serta pembangunan berbasis kemaritiman.

Pesan utama yang mengemuka dalam forum tersebut adalah bahwa kejayaan Maluku di masa lalu tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah, namun harus menjadi energi kolektif untuk membangun masa depan Indonesia sebagai bangsa maritim yang kuat, berdaulat, dan berkepribadian.(MM)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *