Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomi

Daya Beli Petani Maluku Masih Lemah, NTP April 2026 Hanya 93,77

4
×

Daya Beli Petani Maluku Masih Lemah, NTP April 2026 Hanya 93,77

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. — Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Maluku pada April 2026 tercatat sebesar 93,77 atau mengalami kenaikan 0,68 persen dibandingkan Maret 2026 yang berada di angka 93,14.

Meski mengalami peningkatan, posisi Maluku masih menjadi provinsi dengan NTP terendah secara nasional.

 

Data tersebut disampaikan Pejabat Fungsional Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Jessica E Pupella dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Provinsi Maluku, kemarin.

 

Kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) meningkat sebesar 1,32 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,64 persen.

 

NTP sendiri merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan dan daya beli petani di wilayah perdesaan. Angka NTP di bawah 100 menunjukkan bahwa pengeluaran petani masih lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima dari hasil produksi pertanian.

“Peningkatan NTP menunjukkan adanya perbaikan daya tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi. Namun kondisi Maluku masih berada di bawah angka ideal,” jelas Jessica.

 

Secara nasional, Provinsi Riau mencatat NTP tertinggi pada April 2026 dengan angka mencapai 206,19. Sementara Maluku berada di posisi paling bawah dari total 38 provinsi di Indonesia.

 

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa tekanan ekonomi yang dihadapi petani di Maluku masih cukup berat, terutama akibat tingginya biaya produksi dan distribusi, serta belum stabilnya harga komoditas pertanian.

 

Dari lima subsektor pertanian yang dipantau BPS, hanya subsektor hortikultura yang mengalami kenaikan NTP signifikan sebesar 6,85 persen. Kenaikan ini dipicu membaiknya harga sejumlah komoditas sayuran dan buah-buahan di tingkat petani.

 

Sebaliknya, empat subsektor lainnya justru mengalami penurunan. Subsektor tanaman pangan turun 0,92 persen, tanaman perkebunan rakyat turun 0,03 persen, peternakan turun 0,95 persen, dan subsektor perikanan mengalami penurunan paling besar yakni 1,45 persen.

 

Penurunan pada subsektor perikanan menjadi perhatian serius mengingat sektor tersebut merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat pesisir di Maluku.

Selain itu, BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pada April 2026 meningkat sebesar 0,72 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya kenaikan pengeluaran konsumsi rumah tangga petani di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.

 

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Provinsi Maluku pada April 2026 mengalami kenaikan sebesar 1,28 persen, dari 102,56 pada Maret menjadi 103,87 pada April 2026.

 

Kenaikan NTUP menandakan bahwa usaha pertanian secara umum masih mampu memberikan keuntungan operasional bagi petani, meskipun belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani secara menyeluruh.

 

Pengamat ekonomi menilai pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan perlindungan harga hasil pertanian, memperbaiki rantai distribusi, serta menekan biaya produksi agar kesejahteraan petani Maluku dapat meningkat dan tidak terus berada di posisi terbawah nasional. (MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *