Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomi

Transportasi Maluku Melemah, Arus Penumpang dan Barang Tertekan

3
×

Transportasi Maluku Melemah, Arus Penumpang dan Barang Tertekan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Aktivitas transportasi Maluku menunjukkan sinyal perlambatan pada Mei 2026. Penurunan terjadi pada sejumlah indikator utama, mulai dari kedatangan pesawat dan kapal hingga arus penumpang serta volume barang yang dimuat.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat jumlah pesawat yang datang pada Mei 2026 sebanyak 662 penerbangan, turun 1,93 persen dibanding April 2026.

 

Angka tersebut menjadi salah satu indikator melemahnya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi antardaerah. Sebab, transportasi udara memiliki posisi strategis bagi Maluku yang karakter wilayahnya tersebar di pulau-pulau dan sangat bergantung pada konektivitas.

 

Kepala BPS Maluku Pattiwaellapia menyampaikan data tersebut dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Provinsi Maluku, pekan lalu.

 

Tekanan lebih besar terlihat pada transportasi laut. Jumlah kunjungan kapal pada Mei 2026 tercatat 866 kapal, turun 9,32 persen dibanding bulan sebelumnya.

 

Penurunan juga terjadi pada pergerakan penumpang udara domestik. Penumpang yang berangkat tercatat 29.238 orang, anjlok 12,05 persen dibanding April yang mencapai 33.242 orang.

 

Lebih tajam lagi, penumpang domestik yang datang hanya mencapai 33.031 orang, turun 19,45 persen dari 41.007 orang pada April.

 

Arus Penumpang Laut Ikut Tertekan

Tekanan konektivitas juga terlihat di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon. Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang berangkat melalui pelabuhan utama tersebut pada Mei mencapai 37.916 orang, turun 20,68 persen dibanding April yang mencapai 47.803 orang.

 

Namun, tidak seluruh jalur laut mengalami kontraksi. Pada tujuh pelabuhan pengumpul, jumlah penumpang yang berangkat justru meningkat tipis 1,44 persen, dari 45.477 orang menjadi 46.131 orang.

 

Perbedaan ini menunjukkan pergerakan penumpang antarpelabuhan di Maluku tidak seragam. Aktivitas di sejumlah simpul transportasi masih bertahan, sementara pusat mobilitas utama justru mengalami tekanan.

 

Pelemahan tidak hanya terlihat pada mobilitas orang, tetapi juga pada arus barang.

 

Barang dan bagasi yang dimuat melalui angkutan udara pada Mei 2026 tercatat 543,77 ton, turun 8,40 persen dari 593,63 ton pada April.

 

Melalui jalur laut, barang yang dimuat turun lebih dalam, yakni 9,65 persen, dari 104,05 ribu ton menjadi 94,01 ribu ton.

 

Namun terdapat anomali pada sisi bongkar. Barang yang dibongkar melalui angkutan laut justru meningkat 10,38 persen menjadi 207,37 ribu ton, dari 187,88 ribu ton pada bulan sebelumnya.

 

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara arus barang keluar dan barang masuk. Ketika muatan yang dikirim keluar menurun sementara barang yang masuk meningkat, struktur perdagangan dan distribusi antardaerah perlu menjadi perhatian.

 

Data transportasi Mei ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah. Di tengah ketergantungan Maluku terhadap transportasi udara dan laut, penurunan mobilitas dan muatan dapat berdampak terhadap perdagangan, pariwisata, distribusi kebutuhan pokok hingga aktivitas dunia usaha.

 

Angka BPS tersebut tidak semata mencerminkan statistik transportasi, namun  menjadi indikator awal mengenai seberapa kuat denyut aktivitas ekonomi Maluku bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya.(MM-3)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *