Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Amboina

Rakerwil Ambon Ubah Pola Pelayanan Pastoral

3
×

Rakerwil Ambon Ubah Pola Pelayanan Pastoral

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. — Keuskupan Amboina mulai membongkar pola kerja pastoral yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri di tingkat paroki. Melalui Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kevikepan Kota Ambon 2026, lebih dari 200 peserta didorong membangun sistem pelayanan yang terintegrasi, lintas paroki, dan berbasis program yang terukur.

 

Rakerwil yang berlangsung di Gedung Katolik Center Yohanes Paulus II, Ambon, Selasa (25/8/2026), mengusung tema “Berjalan Bersama dalam Merevitalisasi Pelayanan Pastoral”. Forum ini diikuti fungsionaris Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan perwakilan umat dari delapan paroki di wilayah Kevikepan Kota Ambon.

 

Vikaris Episkopal Kevikepan Kota Ambon, RD Amandus Oratmangun, menegaskan revitalisasi yang sedang dibangun bukan sekadar pergantian struktur. Yang hendak diubah adalah cara kerja pelayanan pastoral agar tidak lagi terjebak pada kepentingan dan program masing-masing paroki.

 

“Kita mengharapkan melalui pertemuan ini kita akan menghasilkan program-program yang tidak lagi berbicara mewakili paroki, tetapi berbicara mewakili wilayah,” ujar Amandus.

 

Perubahan utama dalam Rakerwil 2026 adalah pembentukan tiga forum yang akan menjadi bagian dari sistem kerja baru, yakni Forum Pastoral, Forum Pastoral Serumpun, dan Forum Komunikasi Pastoral.

 

Forum pastoral akan melibatkan unsur umat dan fungsionaris pastoral, sedangkan para pastor akan membentuk Forum Komunikasi Pastoral.

 

Menurut Amandus, pola tersebut diharapkan menjadi ruang koordinasi lintas paroki sehingga setiap bidang pelayanan tidak lagi merancang agenda secara terpisah.

 

“Masing-masing akan duduk dengan seksinya lintas paroki. Begitupun dengan organisasi kategorial dan organisasi masyarakat lintas paroki, lalu berbicara bersama tentang program apa yang akan dibuat,” katanya.

 

Dengan mekanisme ini, program yang memiliki kebutuhan dan tantangan serupa dapat dirancang secara bersama. Selain memperkuat koordinasi, sistem tersebut diharapkan mencegah tumpang tindih maupun pengulangan program antarparoki.

 

Ketua Rukun Tak Lagi Jadi Fokus Raker

Perubahan sistem juga menyentuh komposisi peserta Rakerwil. Jika sebelumnya ketua-ketua rukun menjadi bagian penting dalam rapat kerja, mulai tahun ini representasi diarahkan kepada seksi-seksi yang berada dalam struktur paroki.

 

“Selama ini kita Raker kita minta ketua-ketua rukun. Mulai tahun ini tidak ada lagi. Seluruh seksi yang terbentuk di paroki itulah yang kita akomodasi dalam forum pastoral serumpun,” jelas Amandus.

 

Menurut dia, langkah tersebut dimaksudkan agar pembahasan lebih fokus pada tugas, fungsi dan program masing-masing bidang pelayanan.

 

Namun, perubahan sistem tersebut tidak berlangsung tanpa perdebatan. Dalam Rakerwil muncul pro dan kontra terkait sejauh mana hasil Musyawarah Pastoral (Muspaspas) di Saumlaki serta berbagai statuta telah tersosialisasi hingga tingkat umat di paroki.

 

Perbedaan pemahaman tersebut kemudian dibahas dalam forum dan dijelaskan secara lebih terperinci oleh Tim Sistem Keuskupan Amboina, termasuk oleh RD Amandus Oratmangun, RD Costans Fatlalon, dan RD Ignasius Samson Sudirman Refo.

 

Amandus menegaskan, pembentukan struktur baru hanya langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap pengurus memahami tugas dan kewenangannya.

 

“Yang paling penting adalah kita sudah ada strukturnya. Kalau sekarang kita belum mengerti, kita boleh merencanakan sosialisasi supaya kita mengerti ketika kita dipilih, kita mengerti apa yang kita kerjakan,” ujarnya.

 

Karena itu, Tim Sistem Keuskupan Amboina akan membantu melakukan penguatan kapasitas terhadap masing-masing seksi berdasarkan statuta dan pedoman yang telah ditetapkan.

 

Dengan pemahaman yang seragam, setiap seksi diharapkan mampu menerjemahkan tugasnya menjadi program kerja yang konkret, bukan sekadar mengisi struktur organisasi.

 

Program Diuji, Bukan Sekadar Disusun

Rakerwil juga tidak berhenti pada penyusunan daftar kegiatan. Setelah forum pastoral dan forum pastoral serumpun dirancang, peserta langsung menyusun program berdasarkan kebutuhan masing-masing seksi.

 

Program yang telah disusun kemudian dipresentasikan untuk melihat sejauh mana setiap bidang mampu menerjemahkan tugas dan fungsinya ke dalam rencana kerja tahunan.

 

Model ini menjadi penting karena ukuran keberhasilan revitalisasi bukan semata-mata banyaknya struktur atau program yang dibuat, melainkan kemampuan setiap bidang mengimplementasikan program sesuai kebutuhan umat.

 

Menuju Keuskupan Amboina Mandiri 2043

Amandus menempatkan pembenahan sistem pastoral tersebut sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju cita-cita Keuskupan Amboina yang Mandiri pada 2043.

 

Namun, menurut dia, target tersebut tidak dapat dicapai tanpa pembenahan internal.

 

“Memang kita belum sampai kepada tahap kedua, ‘Berjalan bersama menuju Keuskupan Amboina yang Mandiri Tahun 2043’. Tetapi yang terpenting adalah sekarang struktur yang kita bangun ini kita mengerti dan kita pahami,” tandasnya.

 

Ia menekankan, pemahaman terhadap tugas menjadi fondasi sebelum setiap seksi menentukan program.

 

“Kalau kita tahu kita punya tugas, maka kita tahu apa yang bisa kita kerjakan dan programkan untuk masing-masing seksi,” katanya.

 

Dalam konteks tersebut, Rakerwil 2026 menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk menguji apakah sistem pastoral yang telah dirumuskan melalui proses sinodal benar-benar mampu diterjemahkan menjadi praktik pelayanan di tingkat wilayah dan paroki.

 

Amandus juga memberikan apresiasi kepada Tim Sistem Keuskupan Amboina yang selama ini mengawal implementasi hasil Sinode Ketiga, termasuk penyusunan berbagai statuta dan pedoman pelayanan.

 

Menurutnya, tahapan berikutnya bukan lagi sekadar menghasilkan dokumen, tetapi memastikan dokumen tersebut dipahami dan dijalankan.

 

“Terima kasih kepada Tim Sistem yang telah mengawal Sinode Ketiga sampai saat ini dengan membuat statuta, pedoman-pedoman, dan sekarang ini sudah mau sampai kepada implementasi,” ungkapnya.

 

Sejumlah pedoman telah diterbitkan dan mulai diarahkan pada tahap implementasi, termasuk pedoman berkaitan dengan pembinaan anak-anak Sekami.

 

Rangkaian Rakerwil kemudian ditutup dengan Misa Syukur yang dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Amboina, RD Anton Kawole.

 

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain RP Carol Yamrewav, MSC; RD Agustinus Arbol; RD Kor Serlarat; Ekonom Keuskupan Amboina RP Amandus Jemi Balubun, MSC; Vikaris Judicial RD Paulinus Kalkoy; RD Jon Luturmas; RD Lucky Kelwulan; RD Angky Kandungmas; RP Antonius Mayabubun, MSC, serta sejumlah frater yang ditugaskan membantu Tim Sistem.

 

Dengan lebih dari 200 peserta dari delapan paroki, Rakerwil Kevikepan Kota Ambon 2026 memperlihatkan bahwa revitalisasi pelayanan pastoral kini memasuki tahap yang lebih konkret: dari dokumen menuju sistem, dari paroki menuju wilayah, dan dari struktur menuju program yang dapat dirasakan umat.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *