AMBON, MM. – Kesiapan menghadapi latihan tempur tidak hanya diukur dari kemampuan teknis dan penguasaan alutsista, tetapi juga kekuatan mental serta spiritual prajurit. Atas dasar itu, Komando Daerah Maritim (Kodaeral) IX menggelar doa bersama lintas agama menjelang pelaksanaan latihan penembakan senjata khusus TNI dalam rangka Latihan Operasi Amfibi (Latops Amfibi) pada Latihan TNI Terintegrasi Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Markas Komando Kodaeral IX, Halong, Kota Ambon, Selasa (4/8/2026), diikuti seluruh personel sesuai agama dan kepercayaannya sebagai bentuk ikhtiar memohon kelancaran, keselamatan, serta keberhasilan selama pelaksanaan latihan.
Personel beragama Islam melaksanakan doa bersama di Masjid Nurul Iman Kodaeral IX usai menunaikan Salat Zuhur berjamaah. Sementara personel Kristiani mengikuti doa di Gereja Mahanaim Kodaeral IX, sedangkan personel beragama Hindu beribadah di tempat ibadah yang telah ditentukan.
Aspers Dankodaeral IX, Kolonel Laut (KH) Rojilun, yang mewakili Dankodaeral IX Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, SH., MH., mengatakan doa lintas agama merupakan bagian dari persiapan menyeluruh sebelum prajurit menjalankan latihan dengan tingkat risiko yang tinggi.
Menurutnya, latihan penembakan senjata khusus menuntut kesiapan fisik, disiplin, profesionalisme, serta kondisi mental yang prima sehingga setiap personel mampu menjalankan tugas secara aman dan sesuai prosedur.
“Kegiatan doa bersama ini merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh rangkaian latihan dapat berlangsung dengan aman, tertib, lancar, serta mencapai sasaran latihan yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan doa lintas agama juga menjadi wujud penghormatan terhadap keberagaman yang hidup di lingkungan TNI. Semangat kebersamaan tersebut diharapkan semakin memperkuat soliditas prajurit dalam menghadapi setiap tahapan latihan.
Selain menjadi sarana memohon keselamatan, kegiatan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah operasi militer tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tempur dan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan mental, kedisiplinan, serta nilai-nilai spiritual yang menjadi pegangan setiap prajurit.
“Kami berharap seluruh prajurit yang terlibat dalam latihan senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, dan kelancaran sehingga mampu menjalankan tugas secara optimal demi menyukseskan Latihan TNI Terintegrasi Tahun 2026,” tutup Kolonel Laut (KH) Rojilun.(MM-3)
















