AMBON, MM. – Olahraga tinju Maluku yang bernaung dalam induk organisasi Olahraga Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PERTINA) Maluku kini tidak sudah setenar masa-masa lalu lagi.
Kalau di masa-masa lalu para petinju provinsi lain sudah merasa kalah sebelum bertanding di atas ring tinju kalau menghadapi atau di undi berjumpa dengan petinju dari Maluku namun di masa sekarang petinju-petinju Maluku sudah dianggap sebagai lawan biasa-biasa saja dan bahkan dengan mudah ditundukan atau dikalahkan.
Dari berbagai catatan yang kami miliki salah satunya adalah organisasi PERTINA dikelola oleh orang orang yang tidak mengerti, tidak bersemangat serta tidak paham akan dunia pertinjuan di Maluku. Mereka hanya mau dikenal di dunia olahraga saja padahal mereka bukan mantan atlet yang pernah merasakan kucuran kèringat dan kucuran darah di atas ring tinju. Kalau mereka seorang pengusaha maka yang diincar adalah proyek2 pemerintah yang nilainya milyaran rupiah. Kalau mereka Pegawai Negeri maka yang diincar adalah menjadi pejabat di lembaga tersebut.
Di masa Hadi Budoyo yang mantan atlet yudo nasional ini, Maluku sangat disegani. Dari segi organisasi beliau sering mengadakan rapat atau pertemuan dan meminta masukan dari senior-senior di atas ring tinju. Selain itu, sasana-sasana tinju diberi semangat dengan memberikan peralatan latihan misalnya sejumlah sarung tinju, pad, tali skipping, zansak, doumbles dll.
Pertandingan juga sering dilakukan secara routine sehingga tidak membosankan petinju yang terus berlatih tanpa pertandingan. Petinju akan bersemangat kalau latihan terus menerus dìikuti pertandingan. Dengan adanya exebisi secara routine maka kekuatan petinju di setiap kelas, berat badannya dapat ditentukan.
Ini sangat berbeda dengan pembinaan dunia pertinjuan di era sekarang. Di era Hadi Budoyo juga tim tinju Maluku sering dikirim untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan lain misalnya Kejuaraan Sarung Tinju Emas (STE) Kejuaraàn Nasional dan lain-lain. Ini menjadikan para olahragawan adu jotos ini tidak.bosan berlatih terus menerus tanpa adanya pertandingan.
Barusan dalam tahun 2025 atau 2023 tanpa mengadakan rapat dan masukan dari anggota pengurus PERTINA lainnya, Ketua Pengda Pertina secara diam-diam mengirimkan sejumlah petinju untuk Training Centre (TC) di luar negeri Bangkok (Thailand) dalam rangka menghadapi Pekañ Olahraga Nasional. Tim ini dipimpin oleh Ketua Harian. Hasilnya pada PON yang berlangsung di Aceh sangat mengecewakan.
Seharusnya dengan TC di Bangkok tim tinju Maluku menunjukan taringnya di gelanggang tinju karena TC di luar negèri. Ternyata tidak sama sekali dan tidak menggembirakan. Dari sekitar 8 petinju yang TC di Bangkok Thailand, hanya satu petinju yang merebut medali emas bagi kontingen Maluku. Ini sangat mengecewakan dan berbeda di zamannya dengan Pertina yang dipimpin oleh alm. Hadi Budoyo dengan pelatih legendaris Tedy van Room serta Oce Tehupeiory.
Pada PON 1981 dari ll petinju yang diturunkan digelanggang PON 1981, 8 petinju Maluku masuk di deretan final untuk merebut merebut medali emas dan satu medali perak serta 2 medali perunggu. Akhirnya tim tinju Maluku yg disapa sebagai the dream tim itu dipercayakan untuk Kejuaràan Sea Games di Manila Filipina.
Pada PON 1981 di Jakarta itu para petinju yang menyumbangkan medali emas bagi Maluku adalah Hery Maitimu, Eliyas Pical, Charles Thomas, Noce Thomas, Poly Pesireron, Max Auty, dan Wem Gomis, sedangkan Beny Keliombar harus merndapatkan medali perak karena di kalahkan oleh petinju Irja, Beny Maniani yang mantan juara Asia. Sedangkan Wiem Gomies mengalahkan petinju Jabar asal Maluku yaitu Meny Matatula sedangkan Lufti Mual dan Jefry Manusama merebut medali perunggu.
Dengan kondisi Tinju Maluku yang mulai tertinggal dan degradasi di arena percaturan tinju sekarang ini kami sarankan agar organisasi Pertina Maluku perlu direhab bahkan Ketua Pengda dan Ketua Hariannya segera diganti oleh orang yang paham dan mengerti olahraga tinju agar PERTINA Maluku bisa diperhitungkan lagi di atas gelanggang tinju nasional. (Max Aponno mantan Wasit Tinju Internasional)
















