Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomi

Ekspor Maluku Anjlok 86,52 Persen, Defisit Neraca Perdagangan Tembus US$ 138,99 Juta

13
×

Ekspor Maluku Anjlok 86,52 Persen, Defisit Neraca Perdagangan Tembus US$ 138,99 Juta

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. — Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Maluku pada Maret 2026 menunjukkan ketimpangan signifikan antara ekspor dan impor. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat nilai ekspor daerah ini hanya mencapai US$ 0,11 juta, sementara impor melonjak hingga US$ 66,04 juta.

 

Data tersebut disampaikan Pejabat Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Maluku, Jessica E. Pupella, dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang digelar di ruang rapat Kantor BPS Provinsi Maluku, belum lama ini.

 

Jessica menjelaskan, nilai ekspor Maluku pada periode Januari–Maret 2026 mencapai US$ 10,79 juta atau mengalami penurunan sebesar 6,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Seluruh ekspor tersebut berasal dari sektor nonmigas.

 

“Ekspor Maluku pada Maret 2026 tercatat sebesar US$ 0,11 juta atau turun 86,52 persen dibanding Maret 2025 yang mencapai US$ 0,81 juta,” ujarnya.

 

Menurut BPS, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor Maluku dengan nilai mencapai US$ 10,11 juta atau sekitar 93,70 persen dari total ekspor Januari–Maret 2026. Sementara Hongkong menyumbang US$ 0,68 juta atau 6,30 persen.

 

Di sisi lain, ekspor komoditas asal Maluku melalui pelabuhan di luar Provinsi Maluku justru mengalami peningkatan cukup signifikan. Selama Januari–Maret 2026 nilainya mencapai US$ 9,33 juta atau naik 30,27 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Komoditas yang mendominasi ekspor melalui pelabuhan luar Maluku yakni perhiasan dan permata sebesar US$ 6,67 juta atau 71,54 persen, disusul ikan dan udang sebesar US$ 1,90 juta atau 20,41 persen.

 

Sementara itu, sektor impor menunjukkan lonjakan tajam. Nilai impor Maluku selama Januari–Maret 2026 tercatat mencapai US$ 149,77 juta atau naik 73,04 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

 

“Impor Maluku Maret 2026 mencapai US$ 66,04 juta atau naik 102,57 persen dibanding Maret 2025 yang sebesar US$ 32,60 juta,” jelas Jessica.

 

BPS mencatat seluruh impor Maluku berasal dari komoditas migas dan nonmigas. Singapura menjadi negara pemasok terbesar dengan nilai impor mencapai US$ 74,01 juta atau 49,42 persen dari total impor Maluku. Disusul Malaysia sebesar US$ 38,59 juta atau 25,76 persen, Finlandia US$ 36,46 juta atau 24,34 persen, serta Tiongkok sebesar US$ 0,71 juta atau 0,48 persen.

 

Tingginya angka impor dibanding ekspor menyebabkan neraca perdagangan Maluku pada triwulan pertama 2026 mengalami defisit cukup besar, yakni mencapai US$ 138,99 juta.

Defisit tersebut berasal dari sektor nonmigas sebesar US$ 26,39 juta dan sektor migas senilai US$ 112,60 juta.

 

Kondisi ini menunjukkan struktur perdagangan Maluku masih sangat bergantung pada barang impor, terutama sektor energi dan kebutuhan industri, sementara kontribusi ekspor daerah belum mampu menopang keseimbangan perdagangan secara optimal.

 

Pengamat ekonomi menilai, rendahnya ekspor Maluku perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama dalam memperkuat hilirisasi komoditas unggulan seperti perikanan dan hasil laut agar memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan ke luar negeri.

 

Selain itu, peningkatan aktivitas ekspor melalui pelabuhan luar Maluku dinilai menjadi indikasi bahwa rantai distribusi dan fasilitas ekspor di daerah belum sepenuhnya optimal, sehingga potensi penerimaan ekonomi daerah belum maksimal dinikmati Maluku sendiri.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *