Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomi

Ketua DPRD Maluku Desak OJK Buka Data Penipuan Keuangan: Jangan Hanya Ajarkan Menabung

2
×

Ketua DPRD Maluku Desak OJK Buka Data Penipuan Keuangan: Jangan Hanya Ajarkan Menabung

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. — Ajakan menabung bagi pelajar yang digencarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendapat apresiasi dari Ketua DPRD Provinsi Maluku,Benhur Watubun. Namun, di balik kampanye literasi keuangan tersebut, ia meminta OJK tidak hanya berbicara tentang budaya menabung, tetapi juga terbuka mengenai maraknya penipuan keuangan yang menyasar masyarakat di Maluku.

 

Pernyataan itu disampaikan Benhur menyusul pelaksanaan Hari Indonesia Menabung (HIM) yang digelar di Auditorium Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, dengan melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai SD sederajat, SMP sederajat hingga SMA sederajat di Kota Ambon.

 

Menurut Benhur, program membangun kebiasaan menabung sejak usia sekolah merupakan langkah strategis dalam membentuk perilaku keuangan yang sehat. Pelajar, kata dia, bukan hanya menjadi sasaran edukasi, tetapi juga dapat menjadi teladan bagi keluarga dalam mengelola keuangan secara lebih bijak.

 

“Saya kira ini sesuatu yang diapresiasi. Di daerah-daerah besar belum tentu orang menabung. Orang banyak memanfaatkan keuangan untuk hal yang tidak produktif. Tapidengan memasyarakatkan seperti ini, siswa ini menjadi teladan bagiorang tuanya,” ujar Benhur. Namun,apresiasi tersebut sekaligus disertai catatan kritis.

 

Benhur mempertanyakan sejauh mana masyarakat Maluku telah terlindungi dari berbagai modus penipuan yang berkaitan dengan aktivitas keuangan.Ia meminta OJK memberikan gambaran yang jelas mengenai jumlah kasus penipuan keuangan di Maluku, modus yang digunakan, jumlah masyarakat yang menjadi korban, hingga langkah penanganan yang telah dilakukan.

 

“Menurut saya OJK juga harus membeberkan seberapa banyak penipuan yang terjadi di Maluku,” tegasnya. Benhur memahami bahwa momentum tersebut merupakan agenda khusus untuk mendorong budaya menabung. Karena itu, ia tidak ingin substansi peringatan Hari Indonesia Menabung bergeser. Namun, menurutnya, literasi keuangan akan jauhlebih lengkap apabila masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai risiko penipuan dan cara melindungi diri dari praktik-praktik keuangan ilegal.

 

“Untuk kali ini saya maklumi karena hari ini adalah Hari Menabung. Tidak apaapa. Tetapi saya berharap OJK dapat memberikan gambaran tentang berapa banyak orang di Maluku yang tertipu dengan modus-modus operandi yang dilakukan dan akhirnya berapa banyak masyarakat yang menjadi korban,” katanya. Menurut Benhur, kampanye menabung harus berjalan beriringan dengan peningkatan kewaspadaan masyarakat. Sebab, masyarakat yang di dorong untuk aktif menggunakan produk dan layanan keuangan juga harus memiliki kemampuan mengenali risiko, memahami legalitas Lembaga keuangan, serta mengetahui saluran pengaduan ketika menjadi korban.

 

Ia menilai, edukasi semacam itu penting diberikan sejak bangku sekolah agar generasi mudatidak hanya mengenal manfaat menyimpan uang,tetapi juga memahami konsekuensi ketika menggunakan produk dan layanan keuangan secara tidak hatihati.Di sisi lain, Benhur menilai budaya menabung sejak usia sekolah dapat memberikan dampak positifter hadap pola pengelolaan keuangan keluarga.

 

Menurutnya, masih terdapat kecenderungan sebagian masyarakat menggunakan bantuan atau pendapatan untuk kebutuhan yang kurang produktif.”Kalau anakanak diajarkan menabung sepertiini, saya kira sangat positif.

 

Dari tingkat sekolahsampai mereka kuliah di perguruan tinggi, kebiasaan itu bisa terbentuk,” ujarnya. Ia berharap program Hari Indonesia Menabung tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. OJK, pemerintah daerah, sekolah, perbankan, dan lembaga terkait dinilai perlu membangun edukasi keuangan yang berkelanjutan, termasuk memperkuat perlindungan konsumen.

 

Dengan demikian, masyarakat bukan hanya didorong untuk menyimpan uang, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menjaga uangnya dari jebakan penipuan. Bagi Benhur, membangun budaya menabung tanpa memperkuat kewaspadaan masyarakat terhadap penipuan ibarat mengajarkan seseorang cara mengisi dompet, tetapi tidak mengajarkan bagaimana menjaganya.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *