AMBON, MM. – Maluku memasuki periode rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 838 titik panas (hotspot) kategori tinggi terdeteksi sepanjang Januari hingga 31 Agustus 2026. Angka tersebut menjadi alarm serius di tengah kondisi lahan yangsemakin kering dan terbatasnya akses menuju sejumlah kawasan rawan kebakaran.
Data pemantauan citra melalui aplikasi SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan ancaman kebakaran tidak terkonsentrasi padasatu wilayah. Hotspot ditemukan disejumlah kabupaten, dengan konsentrasi terbesar antara lain di Buru, BuruSelatan, Kepulauan Tanimbar, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat, serta Maluku Tengah, khususnya kawasan Seram Utara.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku, Haikal Baadilla, mengatakan ratusan titik tersebut masuk kategori high atau tinggi sehingga memiliki potensi untuk berkembang menjadi kebakaran.“Berdasarkan hasil pemantauan kami melalui aplikasi SiPongi Kementerian Kehutanan, dari 1 Januari sampai 31Agustus terdapat 838 hotspot dengan kategori high atau tinggi yang berpotensi terbakar,”kata Haikal, Selasa (8/9/2026).
Namun, angka 838 belum menggambarkan seberapa besar kerusakan yang telah terjadi. Dinas Kehutanan masih harus melakukan analisis citra untuk memastikan titik panas mana yang benar-benar berkaitan dengan kebakaran serta menghitung luas areal yang terdampak. Artinya, hingga kini jumlah hotspot belum dapat dijadikan angka luas kawasan yang terbakar. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena karakter geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan membuat respons terhadap kebakaran tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat.Haikal mengakui, salah satu kendala utama pengendalian karhutla adalah akses menuju lokasi.
Sejumlah kawasan berada di wilayah yang sulit dijangkau, sementara tidak semua titik di daratan memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung mobilisasi petugas dan peralatan pemadam. Persoalan tidak berhenti pada akses. Keterbatasan sarana dan prasarana juga masih menjadi pekerjaan rumah, terutama untuk mendukung kelompok masyarakat peduli api yang berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran. Padahal, kecepatan penanganan menjadi sangat menentukan.
Ketika api muncul dilokasi yang jauh dari jangkauan petugas, masyarakat sekitar menjadi lapis pertama yang diharapkan mampu melakukan pemadaman awal sebelum kebakaran berkembang.“Kalau masyarakat di sekitar lokasi dibekali sarana dan prasarana, mereka bisa lebih cepat membantu melakukan penanganan awal. Kami sedang mengusahakan agar kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui anggaran yang tersedia,” ujar Haikal.
90 Persen Kebakaran Berawal dari Lahan Kering dan Dinas Kehutanan Maluku mencatat sekitar 90 persen kejadian kebakaran selama initerjadi pada kawasan alangalang dan semak belukar. Vegetasi yang mengering akibat kondisi musim kemarau membuat kawasan tersebut menjadi bahan bakar yang mudah tersulut. Risikonya meningkat ketika aktivitas manusia tidakterkendali.“Kalau ada kegiatan yang memantik api, sangat mudah terjadi kebakaran karena kondisi lahan maupun hutan saatini cukup kering,” katanya.
Dengan kondisi tersebut, persoalan karhutla tidak sematamata berkaitan dengan fenomena alam. Aktivitas manusia,khususnya pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah dan pembuangan puntung rokok sembarangan, menjadi faktor yang berpotensi mengubah kondisi keringmenjadi bencana kebakaran.
Sebaran hotspot juga memperlihatkan bahwa ancamant idak hanya berada di Kawasan perkotaan atau wilayah yangmudah dijangkau. Kabupaten-kabupaten dengan karakter geografis luas dan akses terbatas justru masuk dalam wilayah dengan konsentrasi hotspot tinggi. Sebaliknya, hotspot relatif lebih sedikit ditemukan di Maluku Tenggara, Kota Tual,Kepulauan Aru dan Kota Ambon.
Untuk mengantisipasi eskalasi kebakaran, Dinas Kehutanan Maluku telah melakukan koordinasi dengan BPBD, UPT Kementerian Kehutanan, TNI dan Polri. Personel serta sarana pendukung di 11 kabupaten/kota juga disiapkan menghadapi kemungkinan meningkatnya kejadian karhutla.Pemantauan hotspot dilakukan secara berkala melaluisistem SiPongi, disertai patrolidan sosialisasi kepada masyarakat di kawasan rawan.
Namun, tantangan terbesara dalah memastikan informasi hotspot berubah menjadi tindakan cepat di lapangan. Sebab, sebuah titik panasyang terdeteksi dari citra satelit tidak otomatis menjadi kebakaran besar. Tetapi jika berada dikawasan dengan vegetasi kering, akses terbatas dan responsyang terlambat, api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. Karena itu, penguatan masyarakat di sekitar kawasan rawan menjadi penting. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai objek imbauan,tetapi harus memiliki kemampuan dan peralatan memadai untuk melakukan deteksi serta penanganan awal.
Haikal kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran untuk membuka lahan, tidak membakar sampah sembarangan dan tidak membuang punting rokok di kawasan yang mudah terbakar.“Mencegah api muncul jauh lebih mudah daripada memadamkannya setelah meluas.”(MM-9)















