AMBON, MM. — Dunia tinju Maluku tengah menghadapi sorotan serius. Sejumlah mantan petinju yang pernah mengharumkan nama Maluku di pentas nasional maupun internasional menilai prestasi tinju daerah saat ini mengalami kemunduran tajam dibandingkan era kejayaan masa lalu.
Kekecewaan para mantan atlet tersebut bukan sekadar persoalan kalah dan menang di atas ring. Mereka mempertanyakan arah pembinaan atlet, tata kelola organisasi, kesinambungan program prestasi hingga kemampuan Maluku mencetak petinju yang mampu bersaing di level nasional. Mereka bahkan mendesak turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi organisasi dan pembinaan tinju di Maluku.
Menurut para mantan petinju, Maluku pernah memiliki reputasi sebagai salah satu kekuatan tinju Indonesia. Nama-nama seperti WiemGomies, Hery Maitimu, Max Auty, DjabirOhorela, Hamdani Tomagola, Poly Pesireron, Max Aponno, David Matita, Yanes Nahumury dan Jopy Akywen menjadi bagian dari sejarah panjang kejayaan tinju Maluku.
Pada masa tersebut, petinju Maluku bukan hanya menjadi peserta dalam kejuaraan nasional, tetapi juga diperhitungkan sebagai lawan tangguh oleh daerah lain. Kini, kondisi itu dinilai mulai memudar.
Bukan Sekadar Minim Medali
Para mantan atlet menilai, persoalan PERTINA Maluku tidak boleh hanya diukur dari jumlah medali yang diraih dalam sebuah kejuaraan.
Menurut mereka, indikator yang jauh lebih penting adalah bagaimana organisasi membangun sistem pembinaan dari tingkat paling dasar hingga menghasilkan atlet elite.
Pembinaan usia dini, kompetisi berjenjang, kualitas pelatih, pemusatan latihan, kesejahteraan atlet, regenerasi hingga sistem evaluasi prestasi harus menjadi satu kesatuan.
Jika rantai pembinaan tersebut terputus, maka prestasi tidak akan lahir secara konsisten.
Karena itu, mereka mempertanyakan apakah program pembinaan tinju Maluku saat ini benar-benar berjalan berdasarkan target prestasi atau sekadar berorientasi pada keikutsertaan dalam event.
Persoalan lain yang ikut disorot adalah transparansi dan tata kelola organisasi. Para mantan petinju meminta agar pengelolaan PERTINA Maluku dilakukan secara terbuka, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan kepada atlet, pelatih, pengurus maupun publik olahraga.
Petinju Harus Serius Mengejar Prestasi
Mantan petinju Maluku, Hery Maitimu, yang dikenal sebagai salah satu raja kelas terbang pada masanya, menilai kualitas atlet tidak dapat dipisahkan dari keseriusan menjalani proses latihan.
Ia membandingkan kondisi sekarang dengan masa ketika dirinya aktif bertanding dan harus menjalani latihan keras untuk menghadapi kejuaraan nasional maupun PON.
Hery sendiri kemudian membela Provinsi Jambi dalam sejumlah kejuaraan dan PON. Prestasinya mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jambi hingga dirinya memperoleh kesempatan menjadi PNS di daerah tersebut.
Saat ini, Hery tetap berada di dunia tinju sebagai pelatih dan tengah mempersiapkan tim tinju Jambi menghadapi agenda pertandingan di Manado.
Bagi Hery, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembinaan atlet yang serius harus diikuti penghargaan dan perhatian pemerintah terhadap masa depan atlet.
Maluku Pernah Menghasilkan Petinju Berkelas Nasional
Pandangan serupa disampaikan WiemGomies, salah satu legenda tinju Maluku yang pernah tampil di gelanggang Olimpiade mewakili Indonesia.
Bersama nama-nama seperti Djabir Ohorela, Hamdani Tomagola dan Apeles Letty, mereka menjadi generasi yang pernah membuat nama Maluku disegani dalam dunia tinju nasional.
Apeles Letty, mantan juara kelas ringan 60 kilogram yang kemudian mengabdi di institusi Polri hingga berpangkat AKBP, juga menjadi contoh bagaimana seorang atlet dapat melanjutkan kehidupan setelah meninggalkan ring.
Djabir Ohorela bahkan kemudian menjadi PNS di Jawa Barat. Sementara Yongky Tibalimetten yang pernah menjadi juara PON di Kalimantan Timur disebut mendapatkan apresiasi berupa rumah dan kesempatan menjadi PNS di Jawa Barat.
Cerita tersebut memperlihatkan satu persoalan penting, bagaimana pemerintah Maluku memberikan jaminan masa depan kepada atlet berprestasi sehingga mereka tidak harus mencari masa depan di daerah lain?
Talenta Ada, Sistem yang Dipersoalkan
Para mantan petinju menilai Maluku tidak kekurangan bakat.
Karakter masyarakat Maluku yang dikenal memiliki tradisi olahraga keras dan kompetitif semestinya menjadi modal besar bagi pembinaan olahraga tinju.
Namun bakat tanpa sistem pembinaan tidak cukup. Atlet membutuhkan pelatih berkualitas, kompetisi yang rutin, fasilitas latihan memadai, pemusatan latihan yang terukur, dukungan anggaran yang transparan serta kepastian masa depan setelah karier sebagai atlet berakhir.
Jika semua unsur tersebut tidak berjalan, maka daerah berpotensi kehilangan atlet terbaiknya.Fenomena sejumlah mantan petinju Maluku yang kemudian membela daerah lain menjadi sinyal yang patut dievaluasi.
Pertanyaannya sederhana, mengapa atlet yang lahir dan besar dari tradisi tinju Maluku justru mendapatkan ruang pengembangan lebih baik setelah memperkuat daerah lain?.
KONI Diminta Jangan Sekadar Menjadi Penonton
Kondisi tersebut mendorong para mantan petinju meminta KONI Maluku melakukan evaluasi terhadap PERTINA.
Mereka berharap pemerintah daerah dan KONI tidak hanya turun ketika menghadapi agenda PON atau kejuaraan besar, tetapi ikut memastikan pembinaan berlangsung sepanjang tahun.
Evaluasi juga dinilai perlu menyentuh aspek kepengurusan, program kerja, pembinaan atlet, mekanisme seleksi, prestasi pelatih, penggunaan anggaran dan target prestasi.
Mereka meminta agar organisasi olahraga tidak dikelola berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi oleh figur yang memahami karakter olahraga tinju sekaligus memiliki kapasitas manajerial.
Kembalikan Marwah Tinju Maluku
Bagi generasi emas tinju Maluku, persoalan yang terjadi saat ini bukan sekadar tentang nostalgia masa lalu. Mereka ingin kejayaan tersebut dijadikan pelajaran untuk membangun kembali sistem pembinaan.
Max Aponno, mantan petinju yang kini menjadi wasit tinju internasional, mengatakan, Maluku pernah memiliki masa ketika petinju dari daerah lain datang ke sebuah pertandingan dengan penuh perhitungan karena mengetahui kualitas petinju Maluku.
Reputasi tersebut, menurut para mantan atlet, tidak boleh berhenti sebagai cerita sejarah.
Mereka meminta Pemprov Maluku dan KONI segera mencari figur yang tepat untuk membenahi PERTINA Maluku dan mengembalikan organisasi tersebut kepada tujuan utamanya: melahirkan atlet berprestasi dan mengangkat martabat Maluku di atas ring nasional maupun internasional.
Sebab jika pembinaan terus kehilangan arah, yang terdegradasi bukan hanya prestasi PERTINA, tetapi juga kesempatan generasi muda Maluku untuk meneruskan tradisi panjang sebagai salah satu daerah yang pernah disegani dalam dunia tinju Indonesia.(Max Aponno Wasit Tinju Internasional)
















