AMBON, MM. – Taman Budaya Provinsi Maluku terus mendorong pengembangan potensi generasi muda di bidang seni pertunjukan dan teater melalui Workshop Seni Pertunjukan dan Teater Tahun 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Harmoni Talenta Beta” ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengasah kreativitas, membangun keberanian berekspresi, serta menghasilkan karya seni yang berakar pada kekayaan budaya Maluku.
Kepala Seksi Penyajian Apresiatif Seni dan Budaya, Prihe Slamatin Letlora, S.S., M.Hum., dalam laporan kegiatan mengatakan, workshop tersebut merupakan wujud komitmen Taman Budaya Provinsi Maluku dalam memajukan kebudayaan sekaligus mengembangkan potensi dan talenta generasi muda.
Menurutnya, kegiatan ini berlandaskan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta sejalan dengan arah kebijakan Manajemen Talenta Nasional.
“Talenta tidak cukup hanya ditemukan, tetapi harus diasah, didampingi, dan diberi panggung untuk bertumbuh,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam laporan kegiatan tersebut.
Workshop yang berlangsung pada 26–30 Oktober 2026 ini diikuti 30 peserta dari SMA/SMK dan sanggar seni di Kota Ambon. Selama kegiatan, para peserta mendapat pendampingan dari dua narasumber, yakni Setya Budi Raharjo Situmorang, M.Sn., dan Theodora Melsasail, S.Pd.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan kreativitas, keterampilan, keberanian berekspresi, serta kemampuan berkolaborasi dalam seni pertunjukan dan teater.
Letlora menegaskan, workshop tersebut bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan imajinasi, menemukan karakter, dan menyuarakan gagasan melalui karya seni.
Sebagai tindak lanjut, karya para peserta akan ditampilkan pada 10 November 2026 dalam agenda Gelar Karya Seniman Muda Maluku. Para peserta workshop akan menjadi pengisi utama dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, panggung apresiasi itu menjadi bagian penting dari proses pembinaan, sebab pembelajaran seni harus diikuti kesempatan untuk berkarya, tampil, dan memperoleh apresiasi dari masyarakat.
“Proses belajar harus berujung pada kesempatan untuk berkarya dan diapresiasi,” menjadi pesan yang ditekankan dalam laporan tersebut.
Ia juga mengingatkan, momentum peringatan 36 tahun Taman Budaya Provinsi Maluku pada 24 Oktober 2026 menjadi refleksi bahwa pemajuan kebudayaan tidak dapat diselesaikan melalui satu kegiatan semata. Upaya tersebut membutuhkan proses berkelanjutan, ruang kreatif yang terbuka, serta keberanian memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk terlibat dalam perjalanan kebudayaan Maluku.
Dalam kesempatan itu, Letlora memohon kesediaan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku untuk membuka secara resmi Workshop Seni Pertunjukan dan Teater Tahun 2026. Kehadiran dan arahan pimpinan dinas diharapkan menjadi motivasi bagi peserta untuk terus mengembangkan talenta dan berkontribusi bagi kemajuan seni budaya daerah.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut, termasuk Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Maluku, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku.
Bagi Taman Budaya, “Harmoni Talenta Beta” bukan sekadar tema kegiatan, melainkan semangat untuk menyatukan potensi, menumbuhkan kreativitas, dan menghidupkan panggung-panggung kebudayaan.
Sebab, ketika talenta muda diberi ruang untuk berkembang, kebudayaan tidak hanya diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga menemukan masa depannya. (MM-3)















