Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadline

Kemenag Maluku Gandeng Gereja Katolik Bangun Gerakan Ekologis Lintas Iman

6
×

Kemenag Maluku Gandeng Gereja Katolik Bangun Gerakan Ekologis Lintas Iman

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Krisis lingkungan yang semakin nyata mendorong lahirnya gerakan bersama lintas agama untuk menjaga bumi. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Maluku mengambil langkah konkret dengan mencanangkan program Ekoteologi dan penanaman pohon di Stasi Santo Carolus Hatu, Paroki Santo Ignasius Laha, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (14/6/2026).

 

Kegiatan bertema “Menanam Harapan, Merajut Ciptaan: Implementasi Ekoteologi Merawat Bumi sebagai Rumah Bersama” tersebut menjadi simbol kuat kolaborasi antara pemerintah dan komunitas keagamaan dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.

 

Kepala Kanwil Kemenag Maluku, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan bahwa Ekoteologi merupakan salah satu program prioritas nasional Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.

 

Menurutnya, konsep Kemenag Berdampak menghendaki agar setiap program keagamaan tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

 

“Ekoteologi mengajarkan bahwa hubungan manusia tidak hanya dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga dengan alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dijaga,” ujar Yamin.

Ia menilai persoalan lingkungan saat ini telah melampaui isu ekologis dan berubah menjadi tantangan kemanusiaan yang membutuhkan keterlibatan semua pihak.

 

Perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, hingga menurunnya kualitas lingkungan hidup, kata dia, merupakan panggilan moral dan spiritual bagi seluruh umat beragama untuk mengambil bagian dalam menjaga bumi.

 

“Menjaga lingkungan hidup adalah bagian dari pengamalan iman. Karena itu, setiap pohon yang ditanam hari ini bukan sekadar simbol penghijauan, tetapi simbol tanggung jawab kepada generasi masa depan,” katanya.

 

Bangun Kolaborasi Lintas Iman

Pencanangan Ekoteologi di lingkungan Gereja Katolik menjadi gambaran konkret bahwa isu lingkungan mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat tanpa memandang perbedaan agama.

 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Amboina RD. Anton Kewole, jajaran pejabat Kanwil Kemenag Maluku, unsur Forkopimka Leihitu Barat, Pemerintah Negeri Hatu, tokoh agama, serta umat Katolik Stasi Santo Carolus Hatu.

 

Kakanwil menilai kolaborasi tersebut sejalan dengan semangat Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar bersama Paus Fransiskus, yang menekankan pentingnya solidaritas lintas iman dalam menghadapi krisis global.

“Persoalan lingkungan tidak mengenal batas agama maupun wilayah. Karena itu, solusi yang dibangun juga harus bersifat kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya.

 

Laudato Si’ dan Ekoteologi

Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Yamin juga mengaitkan program Ekoteologi dengan Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus.

 

Dokumen tersebut menyerukan pertobatan ekologis dan mengajak umat manusia mengubah cara pandang terhadap alam sebagai rumah bersama yang wajib dijaga.

Menurut Yamin, nilai-nilai yang terkandung dalam Laudato Si’ memiliki keselarasan dengan semangat Ekoteologi Kementerian Agama.

 

“Keduanya menegaskan bahwa merawat bumi merupakan panggilan iman dan tanggung jawab moral kepada Tuhan, sesama manusia, dan generasi yang akan datang,” ujarnya.

 

Gerakan Berkelanjutan

Kanwil Kemenag Maluku berharap gerakan Ekoteologi tidak berhenti pada seremoni penanaman pohon, melainkan berkembang menjadi budaya bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan komunitas masyarakat.

 

Kesadaran ekologis, menurut Yamin, harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari agar keberlanjutan lingkungan dapat terjaga.

 

“Bumi bukan hanya warisan dari leluhur, tetapi titipan yang harus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu. Kita menanam harapan bagi generasi masa depan dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” pungkasnya.

 

Melalui gerakan ini, Kementerian Agama Maluku ingin menegaskan bahwa merawat lingkungan bukan sekadar agenda pembangunan, tetapi juga bentuk ibadah, kesaksian iman, dan tanggung jawab kebangsaan dalam menjaga masa depan bumi.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *