Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomiHeadline

Gubernur Lewerissa: Literasi Keuangan Harus Jadi Benteng Generasi Muda Maluku dari Jerat Pinjol dan Judi Online

3
×

Gubernur Lewerissa: Literasi Keuangan Harus Jadi Benteng Generasi Muda Maluku dari Jerat Pinjol dan Judi Online

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Pemerintah Provinsi Maluku menegaskan literasi dan inklusi keuangan tidak boleh berhenti pada kampanye menabung. Di tengah penetrasi teknologi digital yang semakin kuat, pemahaman masyarakat, terutama generasi muda—terhadap pengelolaan keuangan dinilai menjadi benteng penting untuk mencegah mereka terjerat pinjaman online ilegal, investasi bodong, judi online hingga berbagai modus penipuan digital.

 

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, saat membuka secara resmi kegiatan Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Puncak Bulan Literasi Keuangan (BLK) Nasional Tahun 2026 di Auditorium Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Kamis (3/9/2026).

 

Kegiatan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Maluku itu mengusung tema “Merajut Masa Depan Melalui Literasi dan Inklusi Keuangan” dan dihadiri ribuan pelajar serta guru dari berbagai sekolah di Kota Ambon.

 

Turut hadir Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur Watubun, jajaran OJK, Bank Indonesia, pimpinan industri perbankan, organisasi perangkat daerah terkait, tokoh agama serta pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran ribuan pelajar menjadi momentum penting karena kelompok usia muda merupakan salah satu segmen yang paling cepat beradaptasi dengan layanan keuangan digital, namun pada saat yang sama juga menghadapi risiko baru yang muncul dari perkembangan teknologi.

 

Gubernur Lewerissa dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada OJK yang telah mengambil inisiatif menyelenggarakan HIM dan Puncak BLK di Maluku. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Maluku terus memperkuat komitmen untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan di seluruh wilayah Maluku. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan agar masyarakat memiliki akses terhadap lembaga dan produk keuangan formal, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memahami risiko serta mengambil keputusan keuangan secara bijak.

 

“Literasi keuangan bukan hanya tentang bagaimana masyarakat bisa mengakses layanan keuangan, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu menggunakannya secara bijak, aman dan bertanggung jawab,” tegasnya.

 

KEJAR Antar Maluku Raih Pengakuan Nasional Lewerissa juga menyoroti konsistensi industri perbankan di Maluku dalam mendorong budaya menabung sejak usia sekolah. Salah satu program yang dinilai memberikan dampak nyata adalah Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Ia mengungkapkan, upaya tersebut telah mengantarkan Maluku meraih prestasi di tingkat nasional.

 

“Pada Peringatan Hari Indonesia Menabung tingkat Nasional di Bekasi akhir Agustus lalu, Provinsi Maluku dinobatkan sebagai Pemerintah Provinsi Terbaik dalam Implementasi Program KEJAR untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Ini bukti nyata komitmen kita bersama,” ujar Lewerissa. Penghargaan tersebut, kata dia, harus menjadi pemicu untuk memperluas gerakan menabung sekaligus meningkatkan kualitas edukasi keuangan di kalangan pelajar.

 

Budaya menabung sejak dini dipandang penting karena membentuk kebiasaan mengelola pendapatan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membangun kesadaran untuk merencanakan masa depan. Tidak hanya Pemprov Maluku, Pemerintah Kota Ambon juga mendapat apresiasi atas inovasi modul ajar literasi keuangan yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran IPS SMP/MTs.

 

Menurut gubernur, inovasi tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat dibangun melalui sistem pendidikan, bukan hanya melalui kegiatan sosialisasi yang bersifat insidental. Sementara itu, Bank Modern Express turut meraih penghargaan sebagai BPR terbaik dalam implementasi program KEJAR di wilayah timur Indonesia.

 

Generasi Muda Diingatkan Jangan Mudah Terjebak Di balik capaian tersebut, Gubernur Lewerissa mengingatkan bahwa kemajuan teknologi keuangan juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya berbagai bentuk kejahatan finansial. Karena itu, ia meminta generasi muda Maluku tidak hanya memiliki rekening dan menggunakan layanan keuangan digital, tetapi juga memahami risiko di balik setiap transaksi. Menurutnya, kemudahan mengakses layanan digital harus diimbangi dengan kemampuan mengenali ciri-ciri penipuan serta membedakan produk keuangan legal dan ilegal.

 

“Generasi muda harus ekstra waspada terhadap pinjaman online ilegal, investasi bodong, judi online, dan berbagai modus penipuan digital,” tegasnya. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan memberikan informasi yang dapat membuka akses terhadap rekening maupun akun keuangan pribadi.

 

“Jangan pernah membagikan data pribadi, PIN, maupun kode OTP kepada siapa pun, dan pastikan selalu menggunakan produk keuangan yang legal dan diawasi OJK,” katanya. Peringatan tersebut menjadi semakin relevan karena transformasi digital telah membuat aktivitas keuangan semakin mudah dilakukan melalui telepon genggam. Di sisi lain, celah keamanan dan rendahnya pemahaman pengguna dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menguras rekening atau menjerat korban dalam transaksi ilegal.

 

Dari Menabung ke Kecakapan Mengelola Uang Gubernur menekankan, gerakan Hari Indonesia Menabung seharusnya tidak dimaknai sebatas mendorong pelajar memiliki rekening bank. Lebih jauh, gerakan tersebut harus membentuk generasi yang memiliki kecakapan mengelola uang, memahami produk keuangan, mampu menghitung risiko dan memiliki disiplin dalam merencanakan masa depan.

 

Karena itu, sinergi antara pemerintah, OJK, Bank Indonesia, perbankan, sekolah, guru, orang tua dan lingkungan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam membangun budaya keuangan yang sehat. Bagi Maluku, tantangan tersebut menjadi semakin strategis karena literasi keuangan harus berjalan beriringan dengan perluasan akses layanan keuangan hingga masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.

 

Kegiatan HIM dan Puncak BLK 2026 di Ambon pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem literasi keuangan di Maluku. Pesan utamanya jelas: generasi muda tidak cukup hanya diajarkan cara menabung, tetapi juga harus dibekali kemampuan menjaga, mengelola dan mengambil keputusan atas uangnya sendiri.

 

Dengan demikian, literasi keuangan dapat menjadi investasi jangka panjang untuk membentuk generasi Maluku yang lebih mandiri, rasional dan tahan terhadap berbagai jebakan ekonomi digital. (MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *