AMBON, MM. – Perayaan tahbisan 14 Diakon di Gereja St. Joseph Poka-Rumah Tiga, Ambon, Rabu (10/6/2026), menjadi momentum penting bagi Gereja Katolik di Maluku dalam menyiapkan generasi pelayan umat yang siap mengabdi. Dalam kesempatan itu, Uskup Amboina, Seno Ngutra, menegaskan bahwa diakonat bukanlah jabatan kehormatan, melainkan panggilan untuk melayani dengan rendah hati dan penuh pengorbanan.
Dalam homilinya, Uskup Seno mengingatkan bahwa tahbisan Diakon merupakan anugerah Tuhan bagi Gereja melalui pemilihan orang-orang yang dipanggil secara khusus untuk menjalankan pelayanan. Karena itu, setiap Diakon dituntut menghadirkan semangat pengabdian yang nyata dalam kehidupan dan karya pastoral mereka.
“Diakon harus hadir untuk melayani, bukan untuk dilayani. Ketika semangat pelayanan itu hilang, maka jabatan tersebut kehilangan maknanya. Jadilah seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani,” tegas Uskup Seno di hadapan umat yang memadati gereja.
Sebanyak 14 frater dari Seminari Tinggi Santo Fransiskus Xaverius Keuskupan Amboina menerima tahbisan Diakon dalam perayaan yang berlangsung khidmat. Jumlah tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Keuskupan Amboina dan dipandang sebagai tanda bertumbuhnya panggilan hidup membiara dan imamat di wilayah Maluku dan Maluku Utara.
Menurut Uskup Seno, masa diakonat merupakan periode penting yang akan menentukan kesiapan para calon imam sebelum menerima tahbisan presbiter. Selama satu tahun ke depan, para Diakon akan menjalani masa pelayanan dan pembinaan yang menjadi tolok ukur kedewasaan iman, karakter, serta kemampuan mereka dalam melayani umat.
“Kalian akan dinilai bukan dari gelar atau status yang diterima hari ini, tetapi dari kesetiaan dan kualitas pelayanan yang ditunjukkan kepada umat. Masa diakonat adalah kesempatan untuk membuktikan diri,” ujarnya.
Ia menambahkan, Gereja membutuhkan pelayan yang tidak hanya mampu berkhotbah, tetapi juga hadir di tengah umat, mendengarkan pergumulan mereka, dan menjadi tanda kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Uskup Seno juga memberikan penghargaan kepada para orang tua dan keluarga yang telah mendukung perjalanan panggilan para Diakon hingga mencapai tahap tersebut. Menurutnya, dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam menjaga kesetiaan para calon imam terhadap panggilan hidup mereka.
“Doa dan pengorbanan orang tua merupakan kekuatan besar yang menopang perjalanan panggilan anak-anak mereka. Gereja berterima kasih atas kesediaan keluarga yang mempersembahkan putra-putranya untuk melayani Tuhan dan umat,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Kota Ambon menilai kehadiran para Diakon baru memiliki peran strategis tidak hanya dalam kehidupan Gereja, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku yang majemuk.
Dalam sambutan Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, yang dibacakan Penjabat Sekretaris Kota Ambon, Robby Sapulette, pemerintah berharap para Diakon mampu menjadi agen perdamaian, persaudaraan, dan kerukunan di tengah masyarakat.
Menurutnya, di tengah berbagai tantangan sosial yang berkembang saat ini, kehadiran pelayan Gereja yang membawa pesan kasih dan toleransi menjadi kebutuhan penting untuk memperkuat harmoni kehidupan antarumat beragama di Maluku.
“Para Diakon diharapkan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat dan menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarumat beragama demi menjaga persatuan dan kedamaian di daerah ini,” ujar Sapulette membacakan sambutan wali kota.
Perayaan tahbisan tersebut turut dihadiri unsur DPRD Provinsi Maluku, para imam diosesan dan religius, pastor paroki se-Kota Ambon, pimpinan Seminari Tinggi Santo Fransiskus Xaverius, pimpinan komunitas religius, keluarga para Diakon, serta ratusan umat Katolik dari berbagai wilayah.
Tahbisan 14 Diakon itu tidak hanya menjadi sukacita bagi Gereja Katolik, tetapi juga menghadirkan harapan baru akan lahirnya pelayan-pelayan umat yang mampu membawa nilai kasih, persaudaraan, dan perdamaian dalam kehidupan masyarakat Maluku yang plural dan harmonis. (MM-3)
















