Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahHeadline

Huamual dalam Bayang-Bayang Konflik yang Tak Kunjung Usai

13
×

Huamual dalam Bayang-Bayang Konflik yang Tak Kunjung Usai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PIRU,MM. – Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), kembali menjadi perhatian setelah bentrokan antarwarga pecah dan menimbulkan korban luka serta kerusakan fasilitas negara. Peristiwa yang melibatkan warga Dusun Olas dan Dusun Katapang, Desa Lokki, Sabtu (6/6/2026), menambah daftar panjang konflik sosial yang berulang di wilayah tersebut.

 

Konflik terbaru ini kembali memperlihatkan bahwa berbagai persoalan yang selama ini menjadi sumber ketegangan antarwarga belum sepenuhnya terselesaikan. Meski aparat keamanan berulang kali melakukan pengamanan dan mediasi, benturan sosial masih terus terjadi dengan pemicu yang berbeda-beda.

 

Peristiwa terakhir bermula ketika seorang warga Dusun Olas, La Ilham Rumbia (49), mengalami luka bacok saat dalam perjalanan menuju kebun. Korban yang berprofesi sebagai petani itu diduga diserang oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor.

 

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka pada bagian pipi kiri dan berhasil menyelamatkan diri dengan berlari menuju permukiman warga untuk meminta pertolongan. Korban sempat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.

 

Kabar pembacokan itu dengan cepat menyebar di tengah masyarakat dan memicu kemarahan warga. Dalam waktu singkat, puluhan warga mulai berkumpul dan melakukan pemblokiran Jalan Trans Seram menggunakan kayu, batu, dan ranting pohon.

 

Ketegangan meningkat ketika kelompok massa dari kedua dusun mulai bergerak menuju wilayah perbatasan. Aparat gabungan TNI dan Polri yang telah bersiaga sejak pagi berupaya menghalau massa agar bentrokan terbuka tidak terjadi.

 

Namun situasi di lapangan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Di tengah memuncaknya emosi warga, massa melakukan pembakaran terhadap kendaraan dinas yang berada di lokasi pengamanan.

 

Satu unit mobil dinas milik Polres Seram Bagian Barat dan satu unit sepeda motor dinas milik Bhabinkamtibmas dilaporkan hangus terbakar. Aksi tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik tidak lagi hanya mengarah pada benturan antarwarga, tetapi juga menyasar aset negara yang digunakan dalam upaya pengamanan.

 

Kapolsek Huamual, Iptu Luken Soplanit, membenarkan adanya pembakaran kendaraan dinas tersebut. Aparat, kata dia, saat ini masih fokus menjaga stabilitas keamanan dan mencegah bentrokan susulan.

 

Hingga Sabtu sore, sekitar 100 personel gabungan dari Polres SBB, Polsek Huamual, Brimob Polda Maluku dan TNI masih disiagakan di lokasi konflik. Pengamanan diperkuat dengan penambahan personel Brimob untuk mengantisipasi kemungkinan aksi balasan.

 

Selain La Ilham Rumbia, dua warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dalam rangkaian bentrokan tersebut. Sejumlah tanaman produktif milik warga juga dilaporkan mengalami kerusakan.

 

 

Konflik yang Berulang

 

Bagi masyarakat Huamual, bentrokan kali ini bukanlah kejadian pertama. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah wilayah di Kecamatan Huamual berulang kali menjadi lokasi konflik antarwarga.

 

Sebelumnya bentrokan pernah terjadi antara warga Dusun Ani dan Dusun Pawae. Konflik serupa juga sempat melibatkan warga Dusun Tanah Goyang dan Desa Ariate. Berulangnya peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran karena menunjukkan adanya persoalan sosial yang belum terselesaikan secara tuntas.

 

Setiap konflik memang memiliki pemicu yang berbeda. Namun pola yang muncul hampir selalu sama, yakni adanya persoalan di tingkat masyarakat yang berkembang menjadi ketegangan kelompok, kemudian berujung pada aksi kekerasan.

 

Informasi yang berkembang terkait konflik terbaru menyebutkan adanya persoalan sosial yang sebelumnya belum menemukan titik penyelesaian. Namun aparat masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab utama yang melatarbelakangi bentrokan tersebut.

 

 

Penegakan Hukum Jadi Harapan

Saat ini kepolisian memfokuskan penyelidikan pada kasus pembacokan yang diduga menjadi pemicu utama bentrokan. Pengungkapan pelaku dinilai penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus menjawab tuntutan keadilan dari masyarakat.

 

Langkah hukum yang cepat dan transparan dianggap menjadi salah satu cara untuk meredam potensi konflik lanjutan. Sebab dalam banyak kasus, lambatnya penyelesaian persoalan sering kali memunculkan ketidakpuasan yang kemudian berkembang menjadi aksi balas dendam.

 

Selain pendekatan hukum, aparat keamanan bersama tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah daerah juga terus melakukan komunikasi dengan kedua kelompok warga guna menjaga situasi tetap kondusif.

 

Mencari Jalan Keluar

Peristiwa yang kembali terjadi di Huamual menjadi pengingat bahwa penyelesaian konflik sosial tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata. Pengamanan memang diperlukan untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak, namun akar persoalan yang memicu konflik juga harus diselesaikan secara menyeluruh.

 

Dialog antarwarga, penguatan peran tokoh masyarakat, penegakan hukum yang adil, serta keterlibatan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial menjadi bagian penting untuk memutus siklus konflik yang terus berulang.

 

Meski situasi di Desa Lokki berangsur kondusif pasca bentrokan, bayang-bayang konflik masih menyelimuti Huamual. Masyarakat kini berharap peristiwa kali ini menjadi yang terakhir dan menjadi momentum bagi semua pihak untuk mencari solusi damai yang berkelanjutan demi menjaga keamanan dan persatuan di wilayah tersebut.(MM)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *