Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Daerah

Redam Konflik Warga, Lanal Tual Turun Tangan Mediasi Ketegangan Wermaf dan Hoor

13
×

Redam Konflik Warga, Lanal Tual Turun Tangan Mediasi Ketegangan Wermaf dan Hoor

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. – Ketegangan sosial antara warga Desa Wermaf dan Desa Hoor di kawasan Kompleks Pertamina, Kota Tual, akhirnya mulai mereda setelah Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tual turun tangan memfasilitasi mediasi damai guna mencegah konflik meluas.

Langkah cepat dilakukan Lanal Tual menyusul meningkatnya kekhawatiran warga terhadap potensi bentrokan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah tersebut.

 

Mediasi yang berlangsung pada Minggu (10/05/2026) itu mempertemukan berbagai unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga pemuda setempat untuk mencari solusi bersama atas ketegangan yang terjadi.

 

Komandan Lanal Tual, Kolonel Laut (P) Andi Putro, mengutus Pasintel Lanal Tual Mayor Laut (P) Ali Siwasiwan dan Pgs. Dansatma Lanal Tual Kapten Laut (PM) Endang Kuswara untuk memimpin keterlibatan TNI AL dalam proses penyelesaian konflik.

 

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Kapolsek Dullah Selatan Ipda Muh Said, Camat Dullah Selatan Andreas, Babinsa Kelurahan Masrum Pelda Didik Kurniawan, Lurah Masrum Rahman, para ketua RT/RW, serta puluhan pemuda dan warga setempat.

 

Dalam forum mediasi itu, seluruh pihak sepakat bahwa konflik yang terjadi tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat merugikan masyarakat secara luas, baik dari sisi keamanan maupun hubungan sosial antarwarga.

 

Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh kehati-hatian. Masing-masing pihak diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan, keresahan, dan usulan penyelesaian agar ketegangan tidak kembali pecah di kemudian hari.

 

“Pertemuan ini menjadi bahan renungan bersama atas ketegangan yang sudah terjadi. Harapannya, persoalan dapat diselesaikan secara damai dan tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan,” ungkap salah satu peserta mediasi.

 

Sebagai langkah konkret menjaga situasi tetap kondusif, forum tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting. Salah satunya pemberlakuan wajib lapor 1×24 jam bagi setiap tamu atau warga pendatang yang tinggal lebih dari sehari di wilayah Kelurahan Masrum.

 

Selain itu, pemerintah kelurahan juga akan menerbitkan surat edaran terkait pemberlakuan jam malam dan pengawasan terhadap tamu dari luar kawasan kompleks.

Kesepakatan lainnya yang cukup menjadi perhatian adalah rencana pembangunan pos pemantauan di kawasan pertigaan Charli.

 

Pos tersebut nantinya akan dijaga pemuda setempat guna mencegah masuknya pihak luar yang diduga berpotensi memprovokasi warga dan memicu konflik baru.

Kehadiran aparat TNI AL dalam proses mediasi ini dinilai penting sebagai bentuk upaya preventif menjaga stabilitas keamanan di Kota Tual, khususnya di kawasan yang rawan gesekan sosial.

 

Masyarakat berharap hasil mediasi tersebut benar-benar dijalankan seluruh pihak sehingga hubungan antarwarga dapat kembali harmonis dan aktivitas masyarakat berjalan normal tanpa rasa takut.

 

Situasi di Kompleks Pertamina Kota Tual sendiri hingga kini dilaporkan mulai kondusif, meski aparat keamanan dan tokoh masyarakat masih terus melakukan pemantauan guna mencegah munculnya ketegangan lanjutan.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *