AMBON, MM. – Sebanyak 350 pemuda memadati talk show Ambon Youth Campus 2026 yang digelar Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Inspirasi Anak Muda Maluku (IAMM) di Aula Kampus Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mengobarkan kembali semangat Sumpah Pemuda sekaligus mendorong generasi muda Maluku mengambil peran nyata di tengah perkembangan era digital.
Ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan komunitas kepemudaan tersebut tidak sekadar menghadiri peringatan Sumpah Pemuda. Mereka diajak membangun kesadaran bahwa masa depan Maluku membutuhkan generasi yang kreatif, kritis, melek teknologi, serta mampu menjaga identitas budaya dan persatuan bangsa.
Ambon Youth Campus: Talkshow, Creative Competition and Festival 2026 mengusung pendekatan berbeda dengan memadukan diskusi kepemudaan, kompetisi konten kreatif, dan festival. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan sekaligus panggung bagi anak muda untuk mengembangkan gagasan, kemampuan literasi digital, dan kreativitas berbasis kekayaan budaya Maluku.
Selain 350 pemuda yang mengikuti talk show, kegiatan tersebut melibatkan 140 pelajar dari berbagai sekolah di Kota Ambon yang tergabung dalam 44 tim kompetisi konten kreatif bertema Sumpah Pemuda.
Ketua IAMM, Vanesia Lesnussa, SH, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan maupun romantisme sejarah. Nilai persatuan harus diterjemahkan melalui karya, inovasi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Generasi muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menjadi pencipta konten, penggerak kreativitas, dan pelaku perubahan. Tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diteruskan melalui karya dan kontribusi nyata,” tegas Lesnussa.
Menurutnya, keterlibatan ratusan peserta menunjukkan besarnya potensi anak muda Maluku apabila diberikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk berkembang.
Ia menekankan, kebudayaan Maluku bukan sekadar warisan masa lalu yang hanya dipertontonkan dalam acara seremonial. Kekayaan budaya harus terus dihidupkan melalui kreativitas generasi muda agar dikenal luas dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Lesnussa juga menyampaikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Dinas Pendidikan Provinsi Maluku, Dinas Pendidikan Kota Ambon, pimpinan sekolah, guru, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Dody Wiranto, S.S., M.Hum., mengingatkan bahwa pemuda Maluku memiliki jejak penting dalam sejarah perjuangan persatuan bangsa, salah satunya melalui keterlibatan Jong Ambon dalam Kongres Pemuda 1928.
Tokoh Maluku Johannes Leimena menurutnya menjadi salah satu figur yang merepresentasikan keterlibatan pemuda dari kawasan Indonesia Timur dalam perjuangan membangun persatuan bangsa.
Semangat tersebut, katanya, harus dilanjutkan melalui tindakan konkret. Pemuda perlu mengambil peran dalam mendokumentasikan tradisi, mempromosikan potensi daerah, serta memperkenalkan identitas budaya Maluku melalui berbagai platform digital.
Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan program Mangente Budaya untuk mengenal Tari Seka dari Maluku Barat Daya, permainan tradisional, ukulele, dan berbagai ekspresi kebudayaan lainnya.
Elly Toisutta: Medan Perjuangan Pemuda Kini Berada di Ruang Digital
Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, yang membuka kegiatan melalui pemukulan tifa, memberikan apresiasi kepada IAMM karena menghadirkan ruang aktualisasi pemuda melalui pendekatan kreatif dan edukatif.
Menurut Toisutta, tantangan generasi muda saat ini tidak lagi sama dengan perjuangan pemuda pada 1928. Jika dahulu perjuangan diwujudkan melalui ikrar persatuan, kini generasi muda menghadapi ancaman disinformasi, berita palsu, dan narasi provokatif di ruang digital.
“Kalau dulu pemuda berikrar dengan sumpah, hari ini pemuda berjuang melawan disinformasi dan narasi provokatif media sosial. Dengan kata lain, medan juang kita sudah berada di ruang digital,” tegasnya.
Ia mendorong pemuda menggunakan media sosial bukan sekadar untuk mengikuti tren, tetapi menjadikannya sarana edukasi, promosi budaya, dan penyebaran informasi yang membangun.
“Saya bangga kepada kalian. Kalian adalah generasi yang membangun Maluku, khususnya Kota Ambon, dengan karya, bukan dengan kata-kata negatif. Jadikan Maluku sebagai identitas dan toleransi kita sebagai konten yang mengedukasi serta menginspirasi Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.
Toisutta juga mendorong anak muda menjadikan media sosial sebagai ruang edukasi dan publikasi yang produktif. Kekayaan budaya Maluku, kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi, serta berbagai kreativitas generasi muda perlu diperkenalkan lebih luas melalui platform digital.
Selain persoalan literasi digital, Toisutta mengingatkan pentingnya menjaga keamanan, persatuan, dan keharmonisan sosial di Kota Ambon.
Toisutta juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan, persatuan, dan keharmonisan sosial. Generasi muda diharapkan menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan daerah, termasuk kepedulian terhadap lingkungan di tengah kemarau berkepanjangan dan ancaman kebakaran lahan.
Talk Show dan Kompetisi Kreatif Jadi Ruang Aktualisasi
Diskusi kepemudaan menghadirkan Kabid Layanan Kominfo Provinsi Maluku, Andreas Yules Handono, dan Dosen FISIP Universitas Pattimura, Beny Ritiauw, sebagai pemateri.
Talk show mengusung tema Maluku Membangun Pemuda Berkarya, Wujud Nyata Sumpah Pemuda di Era Digital” membahas relevansi Sumpah Pemuda dalam perkembangan era digital, termasuk pemanfaatan teknologi secara bijak, penguatan wawasan kebangsaan, serta kemampuan membangun narasi positif di tengah derasnya arus informasi.
Sementara itu, kompetisi konten kreatif yang diikuti 44 tim dengan total 140 pelajar menjadi ruang bagi peserta untuk menuangkan gagasan melalui karya digital bertema Sumpah Pemuda.
Keterlibatan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kreativitas dan literasi digital perlu dimulai sejak dini.
Generasi muda tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi harus mampu menghasilkan karya edukatif, inspiratif, dan bernilai budaya.
Kegiatan ini turut dihadiri Pembantu Rektor I UKIM Vick Salenussa, perwakilan organisasi kepemudaan, LSM, mahasiswa, serta pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kota Ambon.
Rangkaian Ambon Youth Campus 2026 ditutup dengan pembacaan kembali deklarasi Sumpah Pemuda secara bersama-sama oleh seluruh peserta.
Wakil Walikota Ambon usai membuka kegiatan juga menyempatkan diri untuk mengunjungi pameran UMKM yang berada di halaman kampus, dan merupakan rangkaian dari kegiatan IAMM untuk ikut memajukan ekonomi rakyat.
Melalui kegiatan ini, IAMM menegaskan bahwa kebangkitan pemuda tidak cukup diukur dari banyaknya peserta dalam sebuah perayaan. Ukuran sesungguhnya terletak pada keberanian melahirkan gagasan, menghasilkan karya, menjaga kebudayaan, dan mengambil tanggung jawab terhadap masa depan Maluku.
Sebanyak 350 pemuda yang memenuhi ruang talk show menjadi pesan bahwa semangat Sumpah Pemuda masih hidup. Tantangannya kini adalah mengubah semangat tersebut menjadi gerakan, kreativitas, dan karya nyata bagi Maluku dan Indonesia. (MM)















