PIRU,MM. – Fajar baru saja menyingsing ketika puluhan warga Desa Ahiolo, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat, mulai berkumpul. Di tengah dinginnya udara pegunungan, mereka memikul harapan sekaligus kecemasan. Seorang ibu hamil yang akan melahirkan harus segera dibawa keluar desa. Namun, perjalanan menuju fasilitas kesehatan tidak dapat ditempuh dengan ambulans atau mobil, melainkan dengan tandu sederhana yang dipikul bergantian oleh warga.
Ibu Marici Haikutty (40), yang diperkirakan sudah memasuki masa persalinan, terpaksa dievakuasi sekitar pukul 04.00 WIT. Tidak adanya akses jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat membuat satu-satunya pilihan adalah ditandu melewati jalan setapak, menuruni perbukitan, hingga tiba di Kali Tala.
Perjuangan belum berakhir di sana. Setibanya di kali Tala, Marici kembali dipindahkan ke atas rakit bambu untuk menyeberang sebelum akhirnya mencapai jalan utama. Dari titik itulah kendaraan baru dapat menjemputnya dan membawanya menuju Puskesmas Elpaputih guna mendapatkan penanganan medis.
Pemandangan tersebut bukanlah peristiwa yang terjadi sekali dua kali. Bagi warga Desa Ahiolo, menggotong orang sakit, ibu hamil, hingga warga lanjut usia dengan tandu bambu sudah menjadi kenyataan yang mereka hadapi selama bertahun-tahun. Ketiadaan akses jalan membuat desa itu seolah terisolasi dari pelayanan dasar yang seharusnya mudah dijangkau masyarakat.
Ketika keadaan darurat terjadi, seluruh warga bergotong royong memikul tandu secara bergantian. Jalan yang licin, medan berbukit, hingga derasnya aliran sungai menjadi tantangan yang harus dilalui demi menyelamatkan nyawa sesama warga.
“Kami tidak punya pilihan. Kalau ada ibu hamil atau orang sakit, harus dipikul ramai-ramai sampai ke jalan besar. Baru bisa naik mobil,” ungkap salah seorang warga.
Kondisi ini menggambarkan masih lebarnya kesenjangan pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah pedalaman Indonesia. Di saat sebagian daerah telah menikmati layanan ambulans yang dapat menjangkau hingga pelosok desa, warga Ahiolo masih harus mengandalkan tenaga manusia dan rakit bambu sebagai moda transportasi darurat.
Persoalan yang dihadapi warga tidak hanya terbatas pada akses jalan. Desa Ahiolo juga belum memiliki tenaga medis yang menetap. Meski telah tersedia bangunan Polindes, pelayanan kesehatan belum dapat berjalan optimal karena tidak adanya petugas kesehatan yang bertugas secara permanen di desa tersebut.
Akibatnya, setiap kali terjadi kondisi darurat, termasuk ibu hamil yang hendak melahirkan, warga harus menempuh perjalanan panjang menuju Puskesmas Elpaputih. Situasi tersebut tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan medis yang dapat membahayakan keselamatan pasien.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi yang mereka alami. Mereka meminta pembangunan akses jalan yang layak hingga ke Desa Ahiolo agar kendaraan, termasuk ambulans, dapat menjangkau desa secara langsung.
Selain pembangunan infrastruktur, masyarakat juga mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat untuk menempatkan tenaga medis di Desa Ahiolo sehingga pelayanan kesehatan dasar dapat dinikmati warga tanpa harus mempertaruhkan keselamatan dalam perjalanan panjang menuju fasilitas kesehatan.
Bagi masyarakat Ahiolo, jalan bukan sekadar sarana transportasi. Jalan adalah akses menuju kehidupan yang lebih baik, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan untuk mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara. Selama jalan itu belum terbangun, tandu bambu dan rakit akan terus menjadi saksi bisu perjuangan warga pedalaman Maluku mempertahankan harapan di tengah keterisolasian.(R-L)
















