AMBON.MM,_ Peningkatan kualitas pendidikan di Kota Ambon tidak boleh lagi berjalan atas dugaan semata, melainkan harus berlandaskan data yang sah, terukur, dan akurat. Tegasan ini disampaikan Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena saat membuka Bimbingan Teknis Evaluasi dan Peningkatan Rapor Pendidikan jenjang SD dan SMP se-kota, di lantai V Manise Hotel, pada hari Kamis (24/9/2026).
Ia menegaskan pendidikan adalah tiang utama kemajuan daerah, sehingga layak menjadi prioritas mutlak—mulai dari alokasi anggaran, kesejahteraan tenaga pendidik, hingga pembaruan sistem pembelajaran. “Jika ingin melangkah lebih jauh, kita tak boleh berandai-andai. Data adalah kompas yang menuntun kita menuju perbaikan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Wali Kota mengingatkan, Rapor Pendidikan bukan sekadar deretan angka di atas kertas atau dokumen administratif semata. Dokumen ini wajib dijadikan cermin dan alat kerja: untuk meninjau capaian, memetakan kemajuan beberapa tahun terakhir, hingga menelusuri akar hambatan yang menghambat peningkatan kualitas belajar.
Diketahui, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan Ambon telah meloncat dari angka 60,51 persen menjadi sekitar 75 persen dalam kurun waktu empat tahun. Meski patut disyukuri, pencapaian ini bukan alasan untuk berpuas diri. Indikator yang masih berstatus “merah” harus segera didalami penyebabnya, lalu disusun langkah perbaikan yang terencana—termasuk mengarahkan penggunaan dana BOS sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan riil sekolah.
“Jangan biarkan rapor hanya jadi pajangan. Jadikan ia senjata untuk mengubah yang kurang menjadi lebih baik,” tandasnya.
Ia pun memperingatkan agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni semata. Kepala sekolah diminta berubah pola pikir: jadikan data sebagai landasan menyusun rencana dan menilai hasil kerja. Targetnya jelas: angkat indikator merah menjadi kuning, lalu hijau; pertahankan capaian yang sudah unggul.
Tak kalah penting, Wali Kota mendorong sekolah memasukkan kekhasan daerah ke dalam pembelajaran—khususnya seni musik dan budaya—sebagai sarana membangun karakter. Gelar Ambon sebagai Kota Musik Dunia adalah amanah semua pihak, sehingga kurikulum berbasis potensi lokal harus digalakkan lebih luas untuk menumbuhkan kreativitas, cinta budaya, dan sikap menghargai perbedaan. “Bukan sekadar kumpul dan berdiskusi, tapi pastikan ada perubahan nyata yang dirasakan siswa,” tegasnya.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Ambon, Imel Mansur, menjelaskan bimtek ini bertujuan memperkuat kemampuan sekolah membaca, menganalisis, dan menerapkan data rapor ke dalam rencana kerja nyata.
Wali Kota menutup dengan harapan tahun 2026–2027 menjadi babak pembaruan besar pendidikan Ambon: berjalan lebih sistematis, luwes, dan berfokus pada hasil, demi melahirkan generasi penerus yang tangguh dan berprestasi.(MM10)















