AMBON, MM. – Kota Ambon terpilih menjadi salah satu kota percontohan (piloting project) program digitalisasi penyaluran bantuan sosial (Bansos) tingkat nasional. Hal ini menjadikan Ambon garda depan transformasi pelayanan publik berbasis teknologi.
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas kepercayaan tersebut saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Bansos di Ruang Rapat Vlissingen, Selasa (12/5/2026). Kegiatan ini dihadiri Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Maluku, narasumber Komite Percepatan Transformasi Digital, Penjabat Sekertaris Daerah kota Robby Sapulette, serta para pimpinan dinas dan peserta bimtek.
“Kita patut bersyukur. Di tengah segala keterbatasan, Ambon dipercaya memimpin perubahan sistem pelayanan bansos di Indonesia,” ujar Bodewin.
Ia menjelaskan, langkah ini diambil untuk menyelesaikan masalah yang selama ini sering dikeluhkan warga, yakni penyaluran bansos yang sering tidak tepat sasaran. Banyak laporan masuk di mana warga yang benar-benar butuh tidak mendapat bantuan, sementara yang mampu justru terus menerimanya.
“Masalah utamanya ada pada penentuan penerima yang masih sangat bergantung pada penilaian pribadi petugas di lapangan, mulai dari RT, RW, hingga kecamatan. Hal inilah yang harus kita hapuskan,” tegasnya.
Lewat sistem digital, seluruh data akan diolah menggunakan teknologi agar lebih akurat, transparan, dan tepat sasaran. Bantuan hanya akan diterima oleh mereka yang benar-benar berhak.
Wali Kota sangat mengapresiasi keterlibatan para peserta bimtek, yang sebagian besar adalah ASN dan CPNS baru. Ia yakin semangat dan kemampuan mereka menjadi kunci keberhasilan program ini.
Dalam paparannya, Bodewin juga menyampaikan data kependudukan hingga akhir 2025: jumlah penduduk Ambon mencapai 363.212 jiwa, dengan 265.472 jiwa wajib memiliki KTP. Dari jumlah itu, 95,32% sudah merekam KTP, namun penggunaan Identitas Kependudukan Digital (IKD) baru mencapai 15,39% atau sekitar 40.867 jiwa.
Angka ini menjadi tantangan besar. Pemerintah pun sudah berinovasi dengan menerapkan sistem “jemput bola”, mendatangi langsung warga, kampus, dan sekolah agar masyarakat lebih melek teknologi administrasi kependudukan.
Di akhir arahannya, Wali Kota berpesan agar peserta belajar sungguh-sungguh, sehingga saat diterapkan di lapangan nanti berjalan lancar tanpa kendala.
“Ambon mungkin kota kecil, secara fisik tidak bisa menyaingi kemegahan Jakarta atau Surabaya. Tapi soal kecepatan, ketepatan, dan kualitas pelayanan publik, kita tidak boleh kalah. Itulah kebanggaan yang harus kita wujudkan bersama,” tandasnya.(MM10)
















