AMBON,MM. – Duka mendalam menyelimuti dunia pendidikan di Kota Ambon setelah seorang mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti), Abraham Meute (18), ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Lorong Pohon Mangga RT 04/RW 06, Desa Rumahtiga, Kecamatan Teluk Ambon, Sabtu (9/5/2026) malam.
Korban diketahui merupakan mahasiswa Fakultas Pertanian Program Studi Kehutanan Universitas Pattimura. Kepergian Abraham mengejutkan warga sekitar maupun rekan-rekan kampusnya yang tidak menyangka mahasiswa muda tersebut menyimpan beban batin cukup berat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal kepolisian, Abraham diduga meninggal akibat bunuh diri. Polisi mengungkapkan, korban diduga mengalami tekanan emosional terkait persoalan keluarga, khususnya perceraian kedua orang tuanya.
Kasi Humas Polresta Pulau Ambon dan P.P. Lease, Ipda Jenete S. Luhukay, menyebut korban diketahui kecewa dan terpukul atas kondisi keluarganya.
“Masalah dengan orang tua. Dia kecewa karena orang tuanya bercerai,” ungkap Ipda Jenete, Minggu (10/5/2026).
Menurut informasi yang dihimpun, Abraham selama ini tinggal sendiri di rumah kos sembari menjalani aktivitas kuliah sebagai mahasiswa perantau asal Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Di mata sejumlah warga sekitar, korban dikenal tertutup dan jarang bergaul.
Peristiwa tragis itu pertama kali diketahui setelah penghuni kos dan warga sekitar merasa curiga karena korban tidak terlihat keluar kamar seperti biasanya.
Setelah dilakukan pengecekan, korban ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kamar kosnya.
Petugas kepolisian yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Setelah proses identifikasi selesai, jenazah korban dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
“Jenazah korban sudah diambil pihak keluarga untuk dimakamkan di kampung halamannya,” tambah Ipda Jenete.
Kematian Abraham kembali membuka perhatian publik terhadap persoalan kesehatan mental di kalangan anak muda, terutama mahasiswa perantau yang kerap menghadapi tekanan hidup secara diam-diam.
Di tengah tuntutan pendidikan, persoalan ekonomi, hingga konflik keluarga, tidak sedikit mahasiswa memilih memendam masalah tanpa tempat bercerita.
Kondisi itu dinilai dapat memicu tekanan psikologis berkepanjangan apabila tidak mendapat pendampingan dan dukungan emosional yang cukup.
Sejumlah warga berharap tragedi tersebut menjadi pengingat pentingnya perhatian keluarga dan lingkungan pendidikan terhadap kondisi mental generasi muda, agar persoalan pribadi yang dialami tidak berujung pada kehilangan nyawa.(MM)
















