AMBON,MM. – Hemodialisis atau cuci darah merupakan tindakan medis yang harus dijalani oleh penderita gagal ginjal atau penyakit ginjal kronis akibat gangguan fungsi ginjal. Tindakan ini merupakan upaya terapi yang harus dijalani secara rutin, umumnya satu hingga dua kali dalam seminggu atau lebih, bergantung pada kondisi pasien.
Untungnya, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan juga menjamin tindakan hemodialisis, sehingga peserta JKN dapat menjalani terapi tanpa khawatir memikirkan biaya.
Johan Samu Samu (67), salah satu peserta dengan riwayat diabetes dan hipertensi yang terindikasi sejak April 2025, telah rutin menjalani tindakan cuci darah akibat gangguan fungsi ginjal yang dialaminya.
“Sejak mendapat diagnosis, kami langsung bergegas memastikan keaktifan kepesertaan JKN milik ayah. Namun saat itu statusnya tidak aktif karena sebelumnya terdaftar melalui perusahaan. Hingga akhirnya kami memutuskan mendaftarkan beliau sebagai peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau mandiri kelas rawat tiga, namun kini telah dialihkan ke segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI),” ungkap Lanny, yang merupakan anak Johan, saat ditemui pada Senin (09/02).
Menurut Lanny, langkah tersebut dilakukan karena dirinya dan keluarga menyadari pentingnya Program JKN dalam menjamin keberlangsungan pengobatan ayahnya.
Lanny mengungkapkan bahwa biaya cuci darah sangat mahal. Satu kali tindakan membutuhkan biaya sekitar satu juta rupiah lebih, sedangkan ayahnya harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu.
“Jika dihitung dalam satu bulan, kami harus membayar kurang lebih sepuluh juta rupiah. Namun, jika menjadi peserta JKN, hanya perlu membayar iuran sekitar tiga puluh lima ribu rupiah setiap bulan. Bahkan kini kami tidak perlu membayar karena iurannya telah ditanggung pemerintah. Inilah peran penting Program JKN, mengingat pengobatan ini bersifat jangka panjang dan rutin. Terus terang, kami sangat bergantung pada Program JKN,” ujar Lanny.
Lanny menyampaikan terima kasih, serta harapannya terhadap Program JKN. Ia mengaku takjub dengan gotong royong yang diterapkan dalam program tersebut, yang dinilainya sangat efektif membantu banyak orang.
Ia menyadari bahwa proses penyembuhan ayahnya melibatkan peran banyak pihak. Selain pemerintah, peserta JKN yang tetap membayar iuran secara rutin meskipun masih sehat juga turut membantu.
“Tanpa disadari, banyak yang bergantung pada iuran yang dibayarkan secara rutin. Program JKN wajib tetap hadir di tengah masyarakat karena manfaatnya sangat besar. Sakit tidak ada yang tahu kapan datangnya dan tidak dapat diprediksi berapa biayanya. Oleh karena itu, memastikan kepesertaan JKN selalu aktif merupakan hal penting. Meski demikian, mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena itu, selalu jaga kesehatan diri dan keluarga,” tukasnya.(MM-3)
















