Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahHeadline

Excavator Misterius Ditemukan di Hutan Gunung Nona: Siapa di Balik Jejak Tambang Emas Ilegal di Buru?

2
×

Excavator Misterius Ditemukan di Hutan Gunung Nona: Siapa di Balik Jejak Tambang Emas Ilegal di Buru?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BURU,MM. — Satu unit excavator tersembunyi di tengah hutan, lubang galian menganga, serta jejak pengerukan alat berat menjadi temuan kunci dalam pemantauan kawasan Gunung Nona, Desa Wapsalit,  Kecamatan Lolong Guba,  Kabupaten Buru.

 

Pemantauan dilakukan oleh Bupati Buru bersama Forkopimda  yang turun langsung  ke lokasi,  Senin (26/10/2026).

 

Bekas aktivitas pengerukan terlihat jelas, sementara  jejak penambangan manual ditemukan berlangsung di sepanjang Sungai Wamkedan.  Gundukan tanah, lubang galian cukup dalam, peralatan penyaringan, dan jalur lintasan alat berat,  menjadi petunjuk yang perlu ditelusuri secara serius oleh pihak berwenang.

 

Temuan ini juga memunculkan pertanyaan serius: siapa pemilik excavator tersebut, siapa yang bertanggung jawab atas jejak pengerukan, dan sejauh mana aktivitas yang diduga berkaitan dengan  pertambangan emas tanpa izin PETI itu telah berdampak pada lingkungan?

 

Temuan paling mencolok muncul melalui pemantauan udara menggunakan drone milik Pemerintah Kabupaten Buru. Sebuah excavator terlihat berada di antara semak-semak dan vegetasi hutan lebat dalam kondisi tidak beroperasi.

 

Identitas pemilik alat berat tersebut belum diketahui. Belum ada pula kepastian mengenai kapan alat itu ditempatkan di lokasi, siapa yang mengoperasikannya, serta apakah alat tersebut berkaitan langsung dengan aktivitas PETI yang ditemukan di kawasan Gunung Nona.

 

Keberadaan excavator di tengah kawasan hutan, disertai bekas pengerukan dan lubang galian, menjadi petunjuk awal yang membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam. Namun, temuan visual tersebut belum cukup untuk memastikan siapa pemilik alat, siapa yang mengendalikan kegiatan, ataupun apakah seluruh jejak pengerukan berasal dari satu rangkaian aktivitas yang sama.

 

Penambangan Masih Berlangsung, Sungai Wamkedan Perlu Diawasi

 

Di tengah temuan bekas pengerukan, Rombongan Bupati juga mendapati sejumlah kelompok penambang masih melakukan aktivitas manual di sepanjang aliran Sungai Wamkedan. Mereka menggunakan peralatan sederhana berupa linggis, sekop, dulang, dan karpet penyaring emas.

 

Di bagian hulu sungai, ditemukan satu unit tromol atau gelundung pengolahan emas yang sedang tidak beroperasi.

 

Temuan ini  memperlihatkan bahwa pengawasan terhadap PETI di Gunung Nona tidak cukup hanya diarahkan pada alat berat. Aktivitas penambangan manual dan pengolahan material emas juga perlu diperiksa untuk memastikan legalitas kegiatan serta dampaknya terhadap badan sungai dan kawasan sekitarnya.

 

Bekas pengerukan, lubang galian, dan perubahan permukaan tanah menjadi alasan penting untuk mengevaluasi dampak lingkungan di Gunung Nona. Jika tidak ditangani, lahan yang terbuka dan tidak dipulihkan berpotensi mengalami erosi, meningkatkan sedimentasi ke aliran sungai, serta memperbesar kerentanan terhadap longsor di lokasi yang kondisi tanah dan lerengnya tidak stabil.

 

Dampak terhadap Sungai Wamkedan juga perlu menjadi perhatian. Sedimentasi akibat aktivitas pengerukan dapat menurunkan kualitas habitat perairan. Sementara itu, penggunaan bahan kimia dalam pengolahan emas, termasuk merkuri apabila digunakan dapat menimbulkan risiko pencemaran dan membahayakan kesehatan manusia.

 

Forkopimda Turun ke Lapangan, Pengawasan Diuji oleh Tindak Lanjut

 

Pemantauan kawasan Gunung Nona dilakukan oleh Kapolres Buru AKBP Andi Zulkifli bersama jajaran Polres Buru dan unsur Forkopimda Kabupaten Buru. Rombongan dipimpin Bupati Buru Ikram Umasugi dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, Kejaksaan, dan Satuan Polisi Pamong Praja.

 

Keterlibatan lintas instansi menunjukkan bahwa persoalan PETI membutuhkan koordinasi yang melampaui peninjauan lokasi. Diperlukan tindak lanjut untuk memetakan titik aktivitas, memeriksa status kawasan dan legalitas pertambangan, mengidentifikasi pihak yang terkait, serta mengevaluasi kerusakan lingkungan.

 

Bupati Buru Ikram Umasugi menegaskan bahwa penertiban tidak boleh hanya menyasar lokasi yang mudah terlihat dari jalur utama. Pengawasan, menurutnya, harus menjangkau kawasan perbukitan, lokasi perendaman, dan titik-titik tersembunyi yang berpotensi menjadi tempat berlangsungnya aktivitas pertambangan ilegal.

 

Sementara itu, Kapolres Buru AKBP Andi Zulkifli, S.I.K., M.M., melalui jajaran Polres Buru menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penanganan PETI secara berkelanjutan.

Penanganan tersebut perlu diikuti pendalaman informasi, pengawasan berkala, serta langkah hukum sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

 

 Penemuan Excavator Harus Berujung pada Pemeriksaan

 

Temuan excavator di tengah hutan seharusnya menjadi salah satu pintu masuk untuk menelusuri rangkaian aktivitas yang meninggalkan bekas pengerukan di Gunung Nona. Aparat perlu memastikan apakah alat tersebut berkaitan dengan kegiatan pertambangan, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah terdapat pelanggaran hukum maupun kewajiban pemulihan lingkungan.

 

Pemerintah daerah bersama instansi berwenang juga perlu memastikan adanya dokumentasi kondisi lahan, pemetaan lubang galian, pemeriksaan kualitas air, serta evaluasi potensi bahaya bagi masyarakat di sekitar lokasi.

 

Jika ditemukan kerusakan lingkungan, langkah pemulihan harus menjadi bagian dari penanganan, bukan sekadar agenda tambahan setelah penertiban. Jika ditemukan unsur pidana, proses hukum harus diarahkan kepada pihak yang terbukti bertanggung jawab berdasarkan alat bukti yang sah. Hingga identitas pemilik excavator, asal-usul pengerukan, dan dampak lingkungannya terungkap, sejumlah pertanyaan mendasar masih menunggu jawaban.

 

Gunung Nona kini menghadapi ujian bukan hanya dalam penertiban pertambangan ilegal, tetapi juga dalam memastikan hutan dan aliran Sungai Wamkedan tidak terus menanggung dampak dari aktivitas tersebut.

 

Penemuan alat berat adalah awal penelusuran, bukan akhir penyelidikan. Tanpa pemeriksaan lanjutan dan pemulihan lingkungan yang terukur, jejak pengerukan di Gunung Nona berisiko hanya menjadi dokumentasi sesaat, sementara persoalan di lapangan tetap menunggu penyelesaian.(MM)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *