AMBON, MM. —Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku memperkuat strategi literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda. Sebanyak 190 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Ambon dibekali pengetahuan pasar modal melalui Kick Off Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang dirangkaikan dengan Sekolah Pasar Modal Level 1 dan 2.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi OJK Provinsi Maluku bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Provinsi Maluku dan Phillip Sekuritas Indonesia Cabang Ambon.
Para peserta berasal dari Universitas Pattimura, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ambon. Kegiatan mengusung tema “Secure a Better Future: Cerdas Berinvestasi di Pasar Modal Indonesia, Melek Regulasi, dan Bebas Finansial.”
Kegiatan ini tidak sekadar diarahkan untuk memperkenalkan investasi kepada mahasiswa, tetapi juga membangun kesadaran bahwa keputusan keuangan harus dilakukan berdasarkan pengetahuan, pemahaman terhadap regulasi, serta kemampuan membaca risiko.
Langkah tersebut dinilai penting di tengah semakin luasnya akses masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan jasa keuangan. Perluasan akses tanpa dibarengi peningkatan pemahaman berpotensi membuat masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa mempertimbangkan manfaat, risiko, maupun kesesuaiannya dengan kebutuhan.
Literasi Maluku Masih Perlu Diperkuat
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen, meningkat dibandingkan 2025 sebesar 66,64 persen. Sementara indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, naik dari 92,74 persen pada periode sebelumnya.
Di Provinsi Maluku, indeks literasi keuangan tercatat 63,87 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 87,59 persen.
Data tersebut memperlihatkan adanya tantangan yang harus dijawab secara serius. Akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan harus berjalan beriringan dengan kemampuan memahami dan menggunakannya secara tepat.
Dengan kata lain, masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna produk keuangan. Mereka harus memiliki kemampuan untuk menilai manfaat, biaya, risiko, serta aspek perlindungan konsumen sebelum mengambil keputusan.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi generasi muda, termasuk mahasiswa yang dalam waktu dekat akan memasuki dunia kerja, menjadi pelaku ekonomi, dan mengambil keputusan finansial secara mandiri.
“Masyarakat perlu memahami dan mampu menggunakan produk keuangan secara tepat agar mengambil keputusan keuangan secara lebih mandiri dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan,” ujar Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady.
BIK Jadi Momentum Perkuat Ekosistem Keuangan
OJK melaksanakan Bulan Inklusi Keuangan setiap Oktober sebagai momentum untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan sekaligus mendorong pemanfaatannya secara tepat, bijak, dan bertanggung jawab.
BIK juga menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara regulator, pemerintah, industri jasa keuangan, dunia pendidikan, dan masyarakat.
Sinergi tersebut menjadi penting agar peningkatan inklusi keuangan tidak berhenti pada meningkatnya jumlah masyarakat yang menggunakan produk keuangan. Lebih jauh, masyarakat harus mampu membuat keputusan finansial yang rasional dan sesuai dengan kemampuan serta kebutuhannya.
Di Maluku, penguatan ekosistem tersebut salah satunya dilakukan melalui edukasi pasar modal kepada mahasiswa.
OJK bersama BEI dan Phillip Sekuritas Indonesia memberikan pembelajaran mengenai investasi sekaligus memperkenalkan aspek regulasi, risiko investasi, perlindungan konsumen, dan pentingnya pengambilan keputusan secara bertanggung jawab.
Mahasiswa Didorong Jadi Investor Berbasis Pengetahuan
Sekolah Pasar Modal Level 1 dan 2 menjadi salah satu rangkaian BIK Tahun 2026 sekaligus bagian dari kampanye World Investor Week (WIW) yang berlangsung pada 5–11 Oktober 2026.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan edukasi, kesadaran, dan perlindungan investor serta mendorong masyarakat memahami investasi secara lebih aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Haramain mengatakan edukasi investasi bagi mahasiswa merupakan langkah strategis untuk membentuk pola pikir dan kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi momentum bagi para mahasiswa untuk membangun pola pikir dan kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini,” katanya.
Menurut dia, keputusan investasi tidak boleh hanya didorong keinginan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. Investor harus memiliki pemahaman yang memadai mengenai instrumen yang dipilih, termasuk risiko yang melekat di dalamnya.
Investasi, kata Haramain, harus ditempatkan sebagai keputusan finansial yang membutuhkan pengetahuan dan pertimbangan matang, bukan sekadar mengikuti tren atau ajakan memperoleh keuntungan cepat.
Melalui edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan, OJK berharap semakin banyak generasi muda Maluku yang mampu mengelola keuangan secara sehat, memahami karakteristik produk investasi, mengenali risiko, serta mengambil keputusan finansial secara mandiri dan bertanggung jawab.
Penguatan literasi tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya generasi muda yang bukan hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga cerdas, kritis, dan terlindungi dalam menggunakan produk serta layanan jasa keuangan. (MM-3)















