JAKARTA, MM .— Rekam jejak kepemimpinan Irjen Pol. Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si. di Maluku menjadi salah satu alasan Pimpinan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Badan Permusyawaratan Desa (BPD) se-Indonesia, Amustofa Besan, S.H., M.H., CPM., CPArb., menyatakan dukungan terhadap penunjukannya sebagai Kapolda Metro Jaya.
Amustofa yang juga praktisi hukum dari Jagalihong Law Office (JLO) menilai Dadang merupakan figur dengan pengalaman kepemimpinan yang kuat, tegas dalam menjalankan tugas, tetapi tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam menghadapi persoalan keamanan dan sosial kemasyarakatan.
“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya dan mendukung penuh tugas beliau sebagai Kapolda Metro Jaya. Penunjukan beliau adalah langkah yang sangat tepat,” tegas Amustofa di Jakarta.
Menurut Amustofa, kemampuan kepemimpinan Dadang telah teruji melalui sejumlah penugasan yang pernah dijalaninya. Ia menilai ketegasan, disiplin dan kemampuan mengendalikan situasi menjadi karakter yang menonjol dari sosok perwira tinggi Polri tersebut.
Ia juga menyinggung pengalaman Dadang ketika dipercaya memimpin upacara HUT Kepolisian di kawasan Monumen Nasional (Monas). Menurut Amustofa, penampilan kepemimpinan tersebut menunjukkan kemampuan Dadang dalam mengelola pasukan sekaligus menjaga disiplin dalam sebuah agenda kenegaraan.
“Ketegasan dan wibawa beliau memimpin pasukan di Monas mendapat apresiasi dan pujian langsung dari Presiden Prabowo. Ini bukti kedisiplinan dan karakter kepemimpinan yang kuat,” ujarnya.
Pengalaman di Maluku Jadi Modal
Bagi Amustofa, pengalaman Dadang selama bertugas di Maluku menjadi salah satu catatan penting yang relevan dengan tantangan kepemimpinan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Ia menilai pengalaman menghadapi dinamika sosial dan potensi gangguan keamanan di Maluku memberikan bekal tersendiri bagi Dadang dalam membaca situasi, mengambil keputusan dan meredam ketegangan di tengah masyarakat.
“Beliau terbukti sukses meredam konflik di mana-mana saat berada di Maluku. Ketegangan yang berpotensi membesar mampu diredam dan dikendalikan dengan sangat baik, sehingga masyarakat merasa aman,” kata Amustofa.
Menurut dia, kemampuan tersebut tidak hanya bertumpu pada pendekatan penegakan hukum. Dadang dinilai mampu mengombinasikan langkah keamanan dengan pendekatan komunikasi dan kemasyarakatan.
Karakter tersebut, kata Amustofa, penting karena tantangan keamanan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan represif. Membangun komunikasi, kepercayaan dan rasa aman di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dari pemeliharaan keamanan dan ketertiban.
Pendekatan Humanis dan Lintas Agama
Amustofa juga menyoroti pendekatan Dadang dalam membangun komunikasi dengan masyarakat lintas agama selama bertugas di Maluku.
Menurutnya, Dadang tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan keamanan, tetapi juga berupaya membangun kedekatan sosial dengan masyarakat melalui kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.
“Beliau memiliki kebiasaan turun langsung mengelilingi masjid, berdialog dan menyalami umat Muslim. Di sisi lain, beliau juga sangat menghargai keberagaman dengan hadir memenuhi undangan kegiatan di gereja-gereja di Maluku,” jelasnya.
Bagi Amustofa, pola komunikasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Ia menilai pendekatan kultural dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi modal sosial yang dapat memperkuat stabilitas keamanan, terutama di wilayah yang memiliki kompleksitas sosial dan keberagaman masyarakat.
“Ketegasan dalam penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan kemampuan membangun komunikasi dan kepercayaan masyarakat,” katanya.
Dukungan untuk Stabilitas Jakarta
Dengan pengalaman tersebut, Amustofa meyakini Dadang memiliki modal kepemimpinan untuk menghadapi dinamika keamanan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Ia menyebut kawasan Jakarta dan sekitarnya memiliki karakter persoalan yang kompleks, mulai dari dinamika sosial, kepadatan penduduk, aktivitas ekonomi, demonstrasi, kejahatan perkotaan hingga berbagai persoalan yang membutuhkan respons kepolisian secara cepat dan terukur.
Karena itu, kemampuan membaca situasi dan mengendalikan eskalasi menjadi faktor penting dalam kepemimpinan kepolisian.
Amustofa berharap pengalaman Dadang di wilayah timur Indonesia dapat menjadi bekal dalam menjalankan tugas barunya di ibu kota.
Ia menegaskan dukungan yang diberikan bukan hanya ditujukan kepada sosok Dadang, tetapi juga terhadap upaya membangun penegakan hukum dan keamanan yang tetap mengedepankan profesionalisme serta pendekatan yang menghormati masyarakat.
“LBH BPD Seluruh Indonesia dan JLO berkomitmen terus bersinergi dan mendukung langkah-langkah penegakan hukum serta penjagaan keamanan yang dipimpin Irjen Dadang Hartanto,” tandasnya.
Bagi Amustofa, kombinasi ketegasan dalam menjalankan tugas, kemampuan merespons persoalan dan pendekatan humanis terhadap masyarakat menjadi karakter yang diharapkan dapat terus dibawa Dadang dalam memimpin Polda Metro Jaya.(MM-3)















