Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomiHeadline

Angkutan Udara Menguat, Arus Barang Laut Maluku Justru Tertekan

3
×

Angkutan Udara Menguat, Arus Barang Laut Maluku Justru Tertekan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. — Aktivitas transportasi Maluku pada Juli 2026 memperlihatkan pergerakan yang tidak seragam. Moda udara mencatat penguatan pada hampir seluruh indikator utama, sementara angkutan laut yang menjadi tulang punggung konektivitas provinsi kepulauan masih menghadapi tekanan pada arus kapal, penumpang, dan terutama bongkar muat barang.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku menunjukkan jumlah pesawat yang datang pada Juli 2026 mencapai 782 penerbangan, meningkat 11,08 persen dibandingkan Juni 2026.

Kenaikan juga tercermin dari pergerakan penumpang domestik. Jumlah penumpang yang berangkat melalui angkutan udara mencapai 34.464 orang, naik 1,72 persen dari 33.881 orang pada bulan sebelumnya.

 

Arus penumpang yang datang bahkan tumbuh lebih tinggi. Pada Juli 2026 tercatat 44.742 orang, meningkat 11,41 persen dibandingkan Juni yang mencapai 40.159 orang.

Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, menyampaikan data tersebut dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Maluku secara daring melalui kanal YouTube BPS Provinsi Maluku, Selasa (1/9/2026).

 

Laut Masih Fluktuatif

 

Berbeda dengan moda udara, indikator transportasi laut menunjukkan pergerakan yang lebih beragam.

Jumlah kunjungan kapal pada Juli 2026 tercatat 872 kapal, turun 1,02 persen dibandingkan Juni.

 

Penurunan lebih terlihat pada arus penumpang yang berangkat melalui Pelabuhan Yos Sudarso. Pada Juli tercatat 46.671 penumpang, turun 7,49 persen dari 50.447 penumpang pada Juni.

 

Namun, penurunan tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh pelabuhan. Pada tujuh pelabuhan pengumpul, jumlah penumpang yang berangkat justru meningkat menjadi 52.395 orang, atau tumbuh 13,96 persen dibandingkan Juni yang mencapai 45.978 orang.

 

Perbedaan tersebut menunjukkan mobilitas masyarakat melalui jalur laut masih bergerak fluktuatif dan tidak terkonsentrasi pada satu titik pelabuhan.

 

Arus Barang Laut Mengalami Kontraksi

 

Tekanan paling terlihat pada aktivitas angkutan barang.

Barang dan bagasi yang dimuat melalui angkutan udara pada Juli mencapai 583,10 ton, naik 5,16 persen dibandingkan Juni yang sebesar 554,48 ton.

 

Sebaliknya, angkutan laut mencatat penurunan pada aktivitas bongkar muat.

Barang yang dimuat melalui angkutan laut turun 9,81 persen, dari 122,85 ribu ton pada Juni menjadi 110,80 ribu ton pada Juli. Penurunan lebih tajam terjadi pada barang yang dibongkar. Volumenya merosot 18,70 persen, dari 199,76 ribu ton pada Juni menjadi 162,40 ribu ton pada Juli 2026.

 

Angka tersebut memperlihatkan adanya pelemahan aktivitas arus barang melalui jalur laut pada periode tersebut. Kondisi ini menjadi indikator penting bagi perekonomian Maluku mengingat distribusi kebutuhan masyarakat, perdagangan antarpulau, serta pasokan berbagai komoditas di provinsi kepulauan sangat bergantung pada konektivitas laut.

 

Di sisi lain, pertumbuhan aktivitas penerbangan dan kenaikan arus penumpang udara menunjukkan moda udara semakin aktif menopang mobilitas masyarakat.

Namun, data Juli belum cukup untuk menyimpulkan adanya pergeseran permanen dari transportasi laut ke udara. Fluktuasi bulanan dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola perjalanan, jadwal kapal dan penerbangan, musim, serta aktivitas distribusi barang.

 

Dengan demikian, perkembangan transportasi Maluku pada Juli 2026 memperlihatkan dua wajah: angkutan udara tumbuh lebih kuat, sementara angkutan laut masih menghadapi volatilitas, terutama pada arus barang. Kondisi tersebut menjadi gambaran penting bagi pemerintah dalam menjaga konektivitas antarpulau sekaligus memastikan kelancaran distribusi logistik di wilayah Maluku.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *