Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadline

Bau Menyengat Ganggu Warga Gunung Nona, Limbah Dapur MBG Disorot

4
×

Bau Menyengat Ganggu Warga Gunung Nona, Limbah Dapur MBG Disorot

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. — Keluhan warga di kawasan Gunung Nona, Kota Ambon, terkait bau tidak sedap yang diduga muncul sejak beroperasinya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mengarah pada persoalan pengelolaan limbah dan sanitasi. Warga meminta instansi berwenang turun langsung memastikan sumber bau serta kondisi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di sekitar lokasi.

 

Sejumlah warga kepada media ini mengaku bau menyengat mulai terasa sejak akhir Agustus 2026. Mereka menyebut kondisi tersebut sebelumnya tidak pernah dirasakan di lingkungan permukiman mereka.

Bau yang disebut semakin mengganggu itu diduga berkaitan dengan aktivitas dapur MBG yang dikelola Yayasan Kalyana Mitra Mandiri.

 

Warga menduga persoalan bukan sekadar bau dari aktivitas memasak, tetapi kemungkinan berkaitan dengan rembesan atau pengelolaan limbah dari fasilitas dapur, termasuk area IPAL.

 

“Sebelumnya tidak ada bau seperti ini. Sejak akhir Agustus baru mulai tercium dan masuk ke lingkungan pemukiman,” demikian keluhan warga yang disampaikan kepada media ini.

 

Pengelola Bantah

 

Pihak pengelola dapur MBG melalui staf Yayasan Kalyana Mitra Mandiri, D.H., membantah dugaan tersebut. Ia menegaskan bahwa polusi udara maupun bau tidak sedap yang dikeluhkan warga belum dapat serta-merta dikaitkan dengan aktivitas dapur MBG.

 

Menurutnya, pengelola telah berupaya menjalankan operasional dapur dengan memperhatikan kebersihan serta kondisi lingkungan sekitar.

“Kami membantah kalau polusi udara yang terjadi di lingkungan Gunung Nona berasal dari dapur MBG milik kami. Kami selalu berupaya menjaga kebersihan dan lingkungan sekitar,” kata D.H.

 

Ia bahkan menyebut terdapat kemungkinan sumber bau berasal dari dapur sebuah wihara yang lokasinya berdekatan dengan dapur MBG.

.

D.H. menyatakan pihak yayasan terbuka terhadap pemeriksaan maupun evaluasi apabila ditemukan kekurangan dalam aktivitas operasional dapur.

 

“Kami terbuka terhadap kritik dan masukan. Kalau memang ada yang perlu diperbaiki, tentu akan kami tindak lanjuti. Tetapi sumber polusi juga harus dipastikan secara objektif,” ujarnya.

Menariknya, setelah dikonfirmasi mengenai keluhan warga, D.H. kemudian mengirimkan sejumlah foto kepada media yang disebut sebagai bagian dari penjelasan mengenai kondisi dapur dan lingkungan operasionalnya.

 

DLH Diminta Turun

 

Dengan munculnya keluhan warga dan bantahan dari pengelola, pemerintah daerah melalui instansi teknis dinilai perlu turun tangan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ambon bersama instansi terkait perlu memastikan apakah terdapat gangguan lingkungan, dari mana sumber bau berasal, serta apakah sistem pengelolaan limbah dapur telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

 

Pemeriksaan idealnya tidak hanya dilakukan terhadap dapur MBG, tetapi juga terhadap sumber-sumber lain yang berada di sekitar lokasi sehingga kesimpulannya objektif.

Sebab, persoalan utamanya bukan siapa yang harus disalahkan, melainkan apakah lingkungan warga benar-benar terganggu dan apa penyebabnya.

 

Jika tidak ada masalah, hasil pemeriksaan dapat sekaligus membersihkan nama pengelola dapur MBG dari dugaan tersebut. Namun apabila ditemukan persoalan pada pengelolaan limbah, pengelola wajib melakukan perbaikan agar program penyediaan makanan bergizi tidak justru menimbulkan persoalan lingkungan bagi masyarakat sekitar.

 

Kini publik menunggu satu hal: bukan lagi saling bantah, tetapi hasil pemeriksaan yang dapat menjawab dari mana sebenarnya bau menyengat di Gunung Nona berasal.(MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *