AMBON, MM. — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku terus mendorong sektor jasa keuangan agar semakin dekat dengan masyarakat, seiring pertumbuhan ekonomi Maluku yang mencapai 5,31 persen pada Triwulan II 2026 atau sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, mengatakan momentum pertumbuhan tersebut harus diikuti dengan perluasan akses pembiayaan, peningkatan literasi dan penguatan perlindungan konsumen.
Hingga Juni 2026, kredit perbankan di Maluku mencapai Rp20,79 triliun, tumbuh 5,84 persen secara tahunan. Kredit UMKM mencapai Rp6,31 triliun, sementara penyaluran KUR Januari-Juni 2026 mencapai Rp649,58 miliar kepada 12.148 debitur.
Di sisi lain, akses keuangan masyarakat juga semakin luas. OJK mencatat terdapat 7.316 agen Laku Pandai dan 117.636 merchant QRIS di Maluku hingga Juni 2026.
Namun, OJK mengingatkan pertumbuhan akses keuangan harus dibarengi kemampuan masyarakat memahami risiko. Indeks literasi keuangan Maluku tercatat 63,87 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 87,59 persen.
“Pertumbuhan ekonomi harus diikuti perluasan akses keuangan, peningkatan literasi dan penguatan pelindungan konsumen. Sektor jasa keuangan harus hadir semakin dekat dengan masyarakat dan memberikan manfaat nyata,” ujar Haramain.
OJK juga terus memperkuat edukasi keuangan. Hingga Juli 2026, sebanyak 76 kegiatan edukasi telah dilaksanakan dengan menjangkau sekitar 8.500 masyarakat, termasuk UMKM, pelajar, nelayan, petani dan kelompok masyarakat lainnya.
Menurut Haramain, sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, TPAKD, dunia pendidikan, pelaku usaha dan media menjadi kunci agar pertumbuhan sektor keuangan benar-benar berdampak terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat Maluku. (MM-3)
















