Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomi

Daya Beli Petani Maluku Kian Tertekan, NTP Juni 2026 Terendah Nasional

9
×

Daya Beli Petani Maluku Kian Tertekan, NTP Juni 2026 Terendah Nasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Kondisi kesejahteraan petani di Provinsi Maluku kembali menghadapi tekanan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 turun menjadi 92,68, sekaligus menempatkan Maluku sebagai provinsi dengan NTP terendah di Indonesia.

 

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Provinsi Maluku, Rabu (1/7).

 

Maritje menjelaskan, NTP merupakan indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani melalui perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Semakin tinggi NTP, semakin besar daya beli petani terhadap kebutuhan rumah tangga maupun biaya produksi.

 

“Pada Juni 2026, NTP Provinsi Maluku tercatat sebesar 92,68 atau turun 0,34 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 93,00,” jelasnya.

Penurunan tersebut terjadi karena kenaikan harga hasil produksi pertanian sebesar 1,76 persen tidak mampu mengimbangi peningkatan biaya yang harus dikeluarkan petani. Selama Juni, indeks harga yang dibayar petani meningkat lebih tinggi, yakni 2,10 persen, sehingga keuntungan riil petani mengalami penyusutan.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas pertanian belum otomatis meningkatkan kesejahteraan petani apabila biaya produksi, kebutuhan konsumsi rumah tangga, hingga harga barang dan jasa ikut melonjak lebih cepat.

 

Secara nasional, Maluku berada di posisi paling bawah dari 38 provinsi. NTP tertinggi pada Juni 2026 tercatat di Provinsi Bengkulu sebesar 196,87, sedangkan Maluku menjadi provinsi dengan NTP terendah sebesar 92,68.

 

BPS juga mencatat penurunan NTP terjadi pada tiga subsektorutama. Subsektor tanaman pangan mengalami penurunan sebesar 1,60 persen, tanaman perkebunan rakyat turun 0,40 persen, sementara subsektor peternakan mengalami penurunan paling besar, yakni 2,50 persen.

 

Sebaliknya, dua subsektor masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Subsektor hortikultura meningkat 2,20 persen, sedangkan subsektor perikanan naik 0,59 persen, memberikan sedikit penopang terhadap kinerja sektor pertanian secara keseluruhan.

 

Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani meningkat 2,21 persen, mencerminkan naiknya pengeluaran rumah tangga petani selama Juni. Kenaikan biaya hidup tersebut menjadi salah satu faktor yang ikut menekan daya beli masyarakat perdesaan.

 

Meski demikian, indikator Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) justru menunjukkan perkembangan positif. NTUP Maluku naik 1,17 persen, dari 103,95 pada Mei menjadi 105,16 pada Juni 2026. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa dari sisi usaha tani, produktivitas masih mengalami perbaikan, meskipun belum mampu mengangkat kesejahteraan petani secara keseluruhan akibat tingginya beban pengeluaran.

 

Turunnya NTP menjadi sinyal bahwa sektor pertanian Maluku masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam mengendalikan biaya produksi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menekan beban biaya yang terus meningkat. (MM-3)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *