AMBON,MM. – Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, mengajak seluruh masyarakat tetap bersatu menghadapi berbagai konflik sosial yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah. Ia menegaskan, Maluku saat ini tengah diuji layaknya kapal besar yang diterpa badai.
Bersama Wakil Gubernur, Abdullah Vanath, Lewerissa mengaku telah memimpin selama 13 bulan 2 minggu dengan berbagai tantangan yang tidak mudah, termasuk konflik horizontal antar kampung bahkan di dalam desa yang jumlahnya cukup banyak.
“Kalau dilihat dari kacamata iman, ini adalah ujian bagi kita. Sebagai nahkoda kapal Maluku, beta dan pak Wagub sedang diuji apakah mampu membawa kapal ini melewati badai,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing untuk meninggalkan “kapal” Maluku di tengah badai. Menurutnya, setiap krisis pasti akan berlalu jika dihadapi dengan kebersamaan dan kesabaran.
“Dalam perjalanan jangan ada yang keluar dari kapal. Suatu saat badai pasti berlalu, dan kita akan sampai di pelabuhan tujuan,” tegasnya.
Lewerissa juga menyoroti kondisi Maluku yang kaya sumber daya alam, namun belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Ia menyebutkan sejumlah potensi besar seperti pengembangan Blok Masela dan hilirisasi kelapa di wilayah Elpaputih yang belum berjalan maksimal.
“Kita ini kaya sumber daya, tetapi masih dalam kondisi sulit. Jadi untuk apa energi kita habiskan untuk konflik dan pertikaian?” katanya.
Dalam upaya meredam konflik, Lewerissa mengaku kerap berdialog langsung dengan pihak-pihak yang bertikai. Ia mengajak mereka untuk melihat persamaan, bukan perbedaan, sebagai dasar hidup orang basudara di Maluku.
“Coba taru cermin besar di depan, lihat apa yang beda? Tidak ada. Muka sama, warna kulit sama, bahkan memuja Tuhan yang sama. Lalu kenapa harus bertikai sampai mencabut nyawa?” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui mekanisme hukum, bukan dengan kekerasan. Menurutnya, Indonesia adalah negara hukum, sehingga setiap konflik harus dibawa ke jalur yang benar.
“Kalau masalah pribadi, jangan digeser menjadi konflik komunal antar negeri atau dusun. Bawa ke proses hukum,” tegasnya.
Lebih jauh, Lewerissa menekankan pentingnya perubahan pola pikir dan karakter masyarakat untuk mendorong transformasi Maluku ke arah yang lebih baik. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjalankan peran dan tanggung jawab masing-masing dengan menjunjung nilai persaudaraan dan toleransi.
“Mari katong hidup sebagai satu keluarga besar orang Maluku, jalankan tugas dan panggilan hidup masing-masing dengan baik,” ajaknya.
Ia juga mengingatkan generasi muda yang lahir setelah tahun 2003-2004 agar belajar dari sejarah konflik yang pernah terjadi di Maluku. Menurutnya, konflik tidak membawa manfaat apa pun selain kehancuran.
“Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Tidak ada manfaat dari konflik, yang ada hanya kehancuran kemanusiaan,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu dan bersama-sama membangun Maluku dengan energi positif.
“Mari gabungkan semua kekuatan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi Maluku, par Maluku pung bae,” pungkasnya.(MM-9)
















