AMBON,MM. – Gangguan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan beras sempat terjadi di wilayah Kisar dan Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).
Hambatan tersebut dipicu oleh kesalahan dalam mengantisipasi kondisi cuaca buruk, baik dalam perencanaan distribusi BBM oleh Pertamina maupun pengiriman beras oleh Perum Bulog.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Maluku, Jhon Laipeny mengungkapkan, kapal pengangkut BBM (landing craft) awalnya telah berada di Pulau Leti untuk memasok BBM ke SPBU setempat. Namun, kapal tersebut tidak dapat melakukan bongkar muat akibat gelombang laut yang tinggi. Menyikapi kondisi itu, kapal kemudian diarahkan untuk berlayar ke Kisar dengan harapan cuaca lebih bersahabat.
Faktanya, setibanya di Kisar, kondisi cuaca masih belum memungkinkan kapal melakukan aktivitas bongkar muat. Kapal harus menunggu selama beberapa hari hingga gelombang mereda. Setelah cuaca relatif tenang, proses pembongkaran BBM akhirnya dapat dilakukan.
“Pada saat bongkar, stok BBM sebenarnya masih tersedia. Jadi tidak sampai terjadi kelangkaan panjang berhari-hari atau berminggu-minggu,” ujar Laipeny kepada wartawan di kantor DPRD Maluku, Senin (26/01/2026).
Situasi serupa juga terjadi pada distribusi beras. Pasokan beras di sejumlah wilayah, khususnya Moa, mulai mengalami keterbatasan dan memaksa pedagang melakukan penjatahan di pasar. Kondisi ini dipicu keterlambatan pengiriman akibat kesalahan perhitungan waktu muat dan keberangkatan kapal di tengah cuaca buruk.
Diketahui, pihak Bulog di Saumlaki sebelumnya telah bersiap mengirim beras ke Saumlaki, untuk selanjutnya didistribusikan ke wilayah MBD. Namun, kapal pengangkut tidak dapat berangkat karena cuaca ekstrem yang melanda perairan setempat. Pengiriman baru dapat dilakukan setelah peringatan cuaca buruk dinyatakan berakhir.
Beberapa hari sebelumnya, dua kapal Sabuk Nusantara dilaporkan sempat berlabuh di wilayah Kroing, sebelum kembali berlayar setelah kondisi cuaca membaik. Situasi ini menjadi penanda bahwa gangguan distribusi lebih disebabkan faktor alam yang tidak terantisipasi secara optimal.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai kondisi ini tidak untuk saling menyalahkan, melainkan menjadi catatan penting bagi Pertamina dan Bulog agar ke depan lebih siap dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Antisipasi dini dinilai krusial, terutama dengan meminta para operator di Moa, Kisar, dan Leti untuk menyetor permintaan pasokan lebih awal, sehingga ketersediaan BBM dan beras tetap terjaga.
“Kemarin itu masih bisa tertangani. Tapi kalau cuaca ekstrem berlarut-larut, bukan tidak mungkin terjadi kelangkaan beras di Leti dan Lakor, apalagi di Moa stok sudah mulai menipis,” ungkap Laipeny.
Dengan karakter wilayah kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi laut, kesalahan dalam membaca dan mengantisipasi cuaca dapat berdampak langsung pada ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.
Karena itu, Laipeny mengingatkan koordinasi yang lebih matang, perencanaan distribusi yang adaptif, serta antisipasi cuaca yang lebih akurat menjadi kunci agar kejadian serupa tidak kembali terulang di wilayah perbatasan seperti Kisar dan Moa.(MM-9)
















