AMBON,MM. – Pemeriksaan perkara “mata ruma parenta” di Pengadilan Negeri Ambon (PN Ambon) yang menjadi perhatian dan sorotan masyarakat Negeri Porto, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, berlangsung Selasa (26/8/2025) .
Ketua Majelis hakim Wilson Manuhua SH didampingi dua hakim anggota memimpin jalannya sidang, sementara tergugat yang hadir adalah Marthen Abraham Nanlohy (mantan raja Porto yang pernah masuk penjara karena korupsi) dan Jacob Nanlohy yang memproklamirkan dirinya sebagai Kepala Mata Ruma Parenta dari almarhum Francois Nanlohy. Sedangkan penggugat adalah Julius Nanlohy dan Cory yang mantan AKBP serta Ois Tetelepta.
Sidang kasus ,”baku malawang” soal mata ruma parenta ini berawal dari penghilangan atau tidak dimasukannya moyang PAWA dalam silsilah keturunan Nanlohy. Almarhum moyang PAWA menurunkan Cory dan Julius Nanlohy dan sejumlah keturunan lainnya yg pernah menjadi Raja di Porto.
Kemarin, Marthen Abraham kelihatan mulai melemah dan linglung. Kalau tadi-tadinya dia tidak mengenal Cory dan Julius sebagai saudara, ternyata dia kini mendekati Cory dengan sapaan sebagai saudara. Bahkan dengan suara sendu dia mengatakan “kenapa kasus ini harus bermuara di pengadilan”.
Menanggapi ucapan Marthen Abraham ini, Cory dan Julius berbalik mengatakan “kenapa moyang PAWA yang menurunkan mereka harus dihilangkan dari silsilah”. Selain itu tergugat Marthen juga memohon “seandainya Cory memimpin Negeri Porto, agar Cory bisa melupakan apa yang pernah terjadi saat ini.
Dia juga mengatakan “kenapa Cory tidak ke rumahnya untuk berbicara baik-baik dari hati ke hati sebagai orang bersaudara, sehingga persoalan ini tidak ke pengadilan. Menanggapi usulannya yang sudah daluwarsa itu, Cory mengatakan “kalau dari struktur adat, dirinya adalah kakak, sehingga adalah tidak mungkin kakak mendatangi adik” dan yang seharusnya adik mendatangi kakak.
Kemarin Cory dan Julius juga memasukan silsilah keturunan yang asli serta hasil rapat musyawarah keturunan moyang PAWA serta Perneg atau Peraturan Negeri Mata Ruma Parenta No.01 Tahun 2011 yg dibuat oleh Ketua Saniri Porto waktu itu yakni Christian Nanlohy.
Perneg 01 Tahun 2011 yang diskrininatif inilah yang digunakan Marthen Abraham untuk mencalonkan dirinya sebagai Raja Porto beberapa tahun lalu. Perneg ini juga mendikreditkan moyang PAWA.
Sewaktu menjadi raja, Marthen atau Temy sesumbar dengan ucapannya yang mengatakan bahwa “dirinya akan menjadi Raja Porto sampai mati” karena tidak ada saingannya. Dengan dilihatnya silsilah keturunan asli yang dibawa Cory dan Julius sebagai barang bukti kepada majelis hakim kemarin, wajah Marthen terlihat melunak dan lunglai serta menyapa Cory dan Julius sebagai saudara padahal sebelumnya dia membuat jarak yang cukup jauh dan tidak mengenal mereka sebagai saudara dari turunan almarhum moyang PAWA dan Francois yg bersaudara.
Sidang akan dilanjutkan hari Selasa minggu depan tanggal 02/09 mendatang.
Nampaknya pemeriksaan sengketa atau “baku malawang” terhadap mata ruma parenta di Porto ini mulai menunjukan titik terang, dengan mulai melemahnya sikap tergugat Marthen Abraham dengan menyapa Cory dan Julius sebagai saudara setelah dia menyaksikan silsilah keturunan yang autentik menurunkan mereka.
Silsilah keturunan ini diserahkan kepada majelis hakim yang memeriksa perkara tersebut. (MM-01)
















