Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadline

Festival Katong Orang Basudara: Ambon Rayakan Harmoni, Rawat Daya Tahan Persaudaraan

4
×

Festival Katong Orang Basudara: Ambon Rayakan Harmoni, Rawat Daya Tahan Persaudaraan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM, — Hujan yang mengguyur dan gangguan teknis di awal acara tak menyurutkan semangat ribuan warga yang memadati kawasan Taman Gong Perdamaian Dunia, Sabtu (28/2/2026). Di ruang terbuka yang sarat makna sejarah itu, Pentas Seni Festival Budaya Katong Orang Basudara resmi dibuka, menghadirkan pesan kuat: Ambon memilih merawat harmoni sebagai daya tahan persaudaraan.

 

Mengusung tema “Harmoni dalam Keberagaman, Lestari dalam Budaya”, festival ini bukan sekadar panggung seni. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dan lintas iman, tempat nilai “orang basudara” ditegaskan kembali sebagai identitas kolektif warga Kota Ambon.

Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, membuka kegiatan dengan penuh semangat. Ia menegaskan bahwa hujan dan kendala teknis hanyalah ujian kecil dibanding tekad masyarakat menjaga kebersamaan.

 

“Kebersamaan kita tidak bisa digoyahkan. Inilah kekuatan yang membuat Ambon tetap berdiri tegak,” ujarnya.

Pemilihan lokasi di depan Monumen Gong Perdamaian Dunia disebutnya bukan tanpa alasan. Monumen itu menjadi pengingat bahwa Ambon pernah melewati masa-masa sulit, namun mampu bangkit dengan komitmen menjaga perdamaian.

 

“Kita tidak menyembunyikan masa lalu. Justru dari situlah kita belajar agar perpecahan tak pernah terulang. Gong Perdamaian Dunia adalah suara kita bahwa perdamaian harus terus hidup,” tegasnya.

 

Festival yang didominasi generasi muda ini turut dihadiri Asisten Pemerintah Kota Ambon Rustam Simanjuntak, Kepala Dinas Pariwisata Melky Lohy, tokoh agama dan masyarakat, termasuk Martin Patilemonia selaku penggagas.

Dalam balutan kolaborasi seni tradisional dan modern, rebana dan musik kontemporer berpadu dalam satu panggung. Perbedaan warna, ritme, dan keyakinan dirajut menjadi harmoni yang memikat. Di situlah filosofi lokal seperti ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging, hingga pela gandong menemukan napasnya kembali.

 

Wali Kota mengingatkan, keberagaman bisa menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan bijak, namun juga bisa menjadi ancaman bila tidak dirawat dengan semangat persaudaraan yang tulus.

“Narasi ‘Ambon Par Samua’ bukan sekadar slogan. Itu adalah kontrak hidup bersama,” katanya.

Pemerintah Kota Ambon pun berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pelestarian kebudayaan, agar budaya menjadi fondasi pembangunan kota yang berkelanjutan.

 

Festival ini diharapkan tak berhenti sebagai agenda tahunan seremonial, tetapi menjadi gerakan sosial yang meresap dalam kehidupan sehari-hari. Apresiasi pun diberikan kepada panitia dan generasi muda yang tetap setia menunggu lebih dari satu jam demi menyukseskan acara.

 

Festival Budaya Katong Orang Basudara menjadi lebih dari sekadar perayaan seni. Ia adalah deklarasi bahwa Ambon siap menatap masa depan dengan memegang erat tali persaudaraan—menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, dan harmoni sebagai identitas yang tak tergoyahkan. (MM10)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *