AMBON,MM. — Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menelusuri jejak sejarah kolonial di Jazirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (8/4/2026). Kunjungan ini dipandang sebagai refleksi hubungan panjang antara Indonesia dan Belanda yang terekam dalam warisan bangunan bersejarah di Ambon.
Dalam agenda tersebut, Gerritsen bersama rombongan mengunjungi tiga situs penting, yakni Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Imanuel di Negeri Hila, serta Masjid Tua Wapaue di Negeri Kaitetu. Ketiga situs ini menjadi penanda kuat perjalanan sejarah kolonial sekaligus bukti keberlanjutan nilai budaya yang tetap terjaga hingga kini.
Rombongan tiba di Benteng Amsterdam sekitar pukul 15.25 WIT. Bangunan yang berdiri di tepi pantai itu menjadi simbol penting kehadiran kolonial Belanda di Maluku sejak abad ke-16. Gerritsen terlihat menyusuri setiap bagian benteng, dari lantai dasar hingga bagian atas, sambil mendengarkan penjelasan sejarah dari pemandu setempat.
Ia juga beberapa kali mengabadikan momen dengan memotret struktur bangunan dan lanskap laut di sekitarnya. Menurut pemandu, Dubes Belanda tersebut mengaku terkesan dengan kondisi benteng yang masih terawat meski telah berusia ratusan tahun.
“Beliau menyampaikan apresiasi karena bangunan ini tetap terjaga dengan baik sebagai bagian dari sejarah,” ujar pemandu.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Gereja Tua Imanuel dan Masjid Tua Wapaue yang berada tidak jauh dari lokasi benteng. Keberadaan dua situs keagamaan bersejarah ini mencerminkan dinamika sosial dan interaksi budaya yang telah berlangsung lama di kawasan Leihitu.
Lawatan ini tidak hanya menjadi kunjungan diplomatik semata, tetapi juga menegaskan pentingnya pelestarian warisan sejarah sebagai bagian dari identitas daerah. Di tengah perjalanan waktu, situs-situs tersebut menjadi penghubung antara masa lalu kolonial dan realitas Indonesia masa kini, sekaligus membuka ruang refleksi atas hubungan historis yang terus berkembang antara kedua negara.(MM)
















