Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
AmboinaHeadline

Diduga Akibat Kelalaian 3 Kapal Nelayan Terbakar , Rony Rambitan Lari Dari Tanggungjawab

196
×

Diduga Akibat Kelalaian 3 Kapal Nelayan Terbakar , Rony Rambitan Lari Dari Tanggungjawab

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON,MM. – Pemilik KM Delta King, Hamidu Marua, SH mengaku kecewa dan menyesalkan sikap istri Direktur sekaligus pemilik PT Sumber Rejeki, Ronny Rambitan alias Kiat, yang terkesan tidak bertanggungjawab dalam insiden kebakaran yang ikut menghanguskan 3 kapal nelayan, 2019 silam di Tulehu.

 

Hamidu bersama rekannya Yohanis Hattu, ST (pemilik KM Ampry) merupakan korban dari kelalaian yang dilakukan oleh ABK KM Taman Pelita milik PT Sumber Rejeki.

 

Pernyataan tersebut disampaikan Hamidu, setelah upaya konfirmasi yang dilakukan   wartawan kepada Ny. Rambitan hanya ditanggapi  dengan kata-kata yang tidak memuaskan.

 

Kepada wartawan, istri Kiat mengatakan  tragedi kebakaran kapal sebagai “musibah” dan meminta para korban untuk “takut akan Tuhan” serta tidak menuntut ganti rugi.

 

“Anggap saja rumah terbakar lalu ikut bakar rumah tetangga. Masa kita ganti rumah tetangga? Namanya juga musibah. Jangan cari-cari masalah. Kalau sekarang baru mengungkit, itu dosa,” ucapnya santai via telepon.

 

Ia malah meminta agar korban kebakaran kapal Nelayan di Tulehu Takut Tuhan, sehingga  ditanggapi  balik Hamidu  bahwa justru sebaliknya Ny. Rambitan bersama suaminya yang harus takut Tuhan.

 

Hamidu Marua,  menyebut pernyataan tersebut sangat tidak berperasaan. Ia menegaskan, api yang membakar kapalnya bersama dua kapal lainnya itu berasal dari KM Taman Pelita milik PT Sumber Rejeki dan menghanguskan tiga kapal lainnya, termasuk miliknya dan milik Yohanis Hattu.

 

“Yang harus takut Tuhan itu Ibu Kiat. Api itu bukan turun dari langit. Itu akibat kelalaian manusia,” ujar Hamidu geram.

 

Menurutnya, mereka sudah berulang kali mencoba bertemu dengan  Tonny Rambitan dan isterinya untuk  menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan sejak 2019, namun selalu ditolak.

 

“Kami diam bukan karena takut, tapi karena berharap ada niat baik. Tapi yang kami terima? Ancaman dan kesombongan,”tutur Hamidu kesal

 

,“Kebakaran ini bukan musibah alam. Ini kelalaian manusia. Jadi jelas ada pihak yang harus bertanggung jawab. Kalau tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan, kami akan menempuh jalur hukum,” tegasnya.

 

Di tempat yang sama, Yohanis Hattu menyatakan kekecewaan mendalam juga atas sikap PT Sumber Rejeki yang ditunjukkan oleh Ny. Rambitan alias isteri bos PT. Sumber Rejeki itu.

Ia menilai, pernyataan isteri Kiat mencerminkan tidak adanya rasa empati terhadap puluhan bahkan ratusan nelayan yang kehilangan mata pencaharian.

 

“Api itu bukan datang dari Tuhan. Itu murni kelalaian ABK kapal mereka. Dan pernyataan isteri Kiat soal takut Tuhan? Justru dia yang tak takut Tuhan!”papar Hattu

 

Hattu menyebut, insiden terjadi pada 4 Oktober 2019 pukul 19.00 WIT, dan hingga kini belum ada itikad baik dari pihak perusahaan.

 

“Kami sudah menunggu lima tahun, berharap ada pendekatan kekeluargaan. Tapi justru kami dianggap sepele dan diancam jangan ‘macam-macam’”ujarnya kecewa

 

Ia menambahkan, akibat insiden ini, banyak nelayan kini menganggur karena kapal tempat mereka bekerja musnah terbakar api.

 

“Ini bukan cuma soal ganti kapal. Ini soal kehidupan. Kita ini manusia. Jangan karena kami bukan pengusaha besar lalu dianggap tak layak bicara. Kalau mereka enggan bertanggung jawab, biar pengadilan yang tentukan siapa yang salah,” pungkas Hattu.

 

Para korban kini bersiap menempuh jalur hukum. Mereka menegaskan, bukan karena kejadian ini sudah lama lalu lantas gugur hak menuntut. Mereka menunggu karena masih percaya pada penyelesaian kekeluargaan. Namun kini, pilihan itu sepertinya tertutup.

 

Untuk diketahui Kasus ini bisa menjadi pintu masuk penyelidikan dugaan kelalaian perusahaan dan perlindungan hukum terhadap nelayan kecil.

 

Sementara itu upaya konfirmasi yang dilakukan oleh media kepada Direktur PT. Sumber Rejeki yakni, Ronny Rambitan  belum berhasil. Ia terkesan menghindar dan menyatakan sedang berada di luar daerah saat dikonfirmasi 18 Februari lalu.   Konfirmasi pada 6 Maret 2025 juga tidak direspon.

 

Selanjutnya Pemilik Swissbel Hotel ini kembali dihubungi  Selasa, 27 Mei 2025,  lagi-lagi pengusaha yang saat ini juga diduga tersangkut dugaan spekulasi  pajak pada PT Dok Waiame ini  lagi-lagi tak menggubris.

 

Melalui penerima tamu, Ia juga menolak untuk bertemu langsung dengan wartawan yang mendatangi perusahannya.

 

Ia meminta wartawan untuk meninggalkan nama dan nomor Hp,  dan sore harinya barulah menghubungi salah satu wartawan untuk memberikan keterangan. (MM-3)

 

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *