Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahHeadline

Di Bawah Cahaya Pelita: Anak-anak Pegunungan Belajar di Tengah Gelap, Menunggu Terang yang Tak Kunjung Datang

11
×

Di Bawah Cahaya Pelita: Anak-anak Pegunungan Belajar di Tengah Gelap, Menunggu Terang yang Tak Kunjung Datang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PIRU,MM. – Malam perlahan menyelimuti pegunungan Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Di Desa Huku Kecil, Desa Abio, dan Desa Watui, gelap bukan sekadar suasana, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

Di sebuah rumah kayu sederhana, lima  anak duduk melingkar menghadap satu lampu pelita. Asap tipis mengepul, membuat mata perih dan dada sesak. Namun tak satu pun dari mereka beranjak.

 

Buku pelajaran terbuka, suara bisik-bisik membaca pelajaran terdengar pelan.

“Kalau malam kami belajar begini terus,” kata Randi (12), siswa kelas enam SD, sambil mencondongkan tubuhnya mendekati pelita. “Kalau hujan atau minyak tanah habis, kami tidak belajar. Besok di sekolah kadang kami tertinggal pelajaran.”

 

 

Bagi anak-anak di desa ini, belajar bersama bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga cara bertahan. Satu pelita harus cukup untuk beberapa kepala. Minyak tanah mahal dan tidak selalu mudah didapat. Orang tua mereka hanya bisa menemani dalam diam.

 

Maria (38), seorang ibu rumah tangga, mengaku sering merasa sedih melihat anaknya belajar dalam kondisi seperti itu.

“Kadang beta  menangis sendiri,” ujarnya lirih. “Anak-anak sudah rajin, tapi fasilitas tidak ada. Katong (kami)  cuma ingin listrik supaya mereka bisa belajar seperti anak-anak di kota.”

 

Indonesia telah merdeka selama 80 tahun. Namun bagi warga di tiga desa pegunungan ini, kemerdekaan masih terasa setengah. Mereka hidup tanpa aliran listrik, tanpa lampu penerang, tanpa akses teknologi yang kini menjadi bagian penting pendidikan. Mereka tidak mengeluh. Mereka hanya belajar dalam gelap. Sementara di kota, anggaran pendidikan diperdebatkan di ruang ber-AC. Di desa ini, pendidikan dipertaruhkan dengan minyak tanah.

 

Namun  paling menyakitkan, menurut warga, adalah tiang-tiang listrik yang berdiri di sepanjang jalan desa. Sudah bertahun-tahun tiang itu ada, namun tak pernah dialiri arus.

“Kami kira sebentar lagi desa kami terang,” kata Yohanis (45), tokoh masyarakat setempat. “Tapi sampai sekarang, tiang itu cuma jadi saksi. Tidak ada kabel, tidak ada listrik.”

Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.

 

Mereka juga menanti langkah nyata dari PLN untuk melanjutkan pekerjaan yang terhenti.

“Listrik bukan kemewahan bagi kami,” lanjut Yohanis. “Ini soal masa depan anak-anak.”

 

Di bawah cahaya pelita yang hampir padam, anak-anak itu tetap menulis, tetap bermimpi. Mereka percaya, suatu hari nanti, malam di desa mereka akan berubah. Bahwa cahaya tak lagi datang dari pelita, melainkan dari listrik—tanda bahwa negara akhirnya hadir hingga ke pelosok pegunungan. (R-L)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *