AMBON,MM. – Di tengah keberagaman iman dan pengalaman sejarah konflik, Ambon terus mencari cara merawat perdamaian. Salah satunya melalui Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang mempertemukan guru Muslim dan Kristen dalam ruang belajar bersama, untuk saling mengenal, memahami, dan membangun kehidupan damai dalam perbedaan.
Program ini dilaksanakan oleh Institut Leimena bekerja sama dengan YPPK Dr. J.B. Sitanala dan Sasakawa Peace Foundation, serta didukung oleh Gereja Protestan Maluku (GPM), Templeton Religion Trust, dan Yayasan Sombar Negeri Maluku. Kegiatan yang berlangsung di Gereja Rehoboth, kamis (29/1/2026), diikuti oleh 40 peserta, terdiri dari 20 guru Muslim dan 20 guru Kristen.
LKLB merupakan pendekatan pendidikan yang mendorong kolaborasi lintas iman dengan tetap menghayati keyakinan masing-masing. Melalui literasi keagamaan yang tepat, peserta diajak memahami agama sendiri secara utuh sekaligus belajar menghormati keyakinan orang lain. Pendekatan ini diharapkan memperkuat saling pengertian dan menumbuhkan kolaborasi damai di tengah masyarakat yang majemuk.
Manajer Program Pelatihan Institut Leimena, Puan Sari, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperlengkapi guru dengan kompetensi hidup bersama dalam perbedaan.
“Guru tidak hanya diajak berdialog, tetapi juga dipersiapkan untuk menerapkan prinsip literasi keagamaan lintas budaya dalam pengajaran di kelas,” ujarnya.
Sejak dilaksanakan pada 2021, program LKLB telah menjangkau lebih dari 10.000 guru di 38 provinsi di Indonesia. Di Ambon, program ini memiliki makna khusus karena berakar pada nilai lokal hidup orang basudara, yang selama ini menjadi fondasi relasi sosial masyarakat Maluku.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah kunjungan ke rumah ibadah. Para peserta berdialog langsung dengan pimpinan rumah ibadah, bertanya, dan mendengarkan penjelasan dari pemeluk agama itu sendiri. Di Gereja Rehoboth, peserta dibagi dalam beberapa kelompok diskusi untuk membangun pengenalan dan pemahaman yang lebih utuh tentang kekristenan.
“Konflik sering lahir bukan karena perbedaan, tetapi karena ketidaktahuan dan kesalahpahaman,” kata Puan Sari. Karena itu, LKLB tidak bertujuan menjadikan peserta ahli agama lain, melainkan membekali mereka dengan pemahaman yang benar agar tumbuh rasa kasih sayang dan penghargaan.
Dampak program ini tidak berhenti pada ruang diskusi. Para guru peserta mampu mengintegrasikan nilai-nilai LKLB ke dalam berbagai mata pelajaran, bahkan menuangkannya dalam karya kreatif seperti lagu-lagu bertema perdamaian dan toleransi. Sejumlah karya tersebut telah dipentaskan dalam forum nasional dan internasional, serta mendapat apresiasi luas.
Ketua Majelis Jemaat GPM Rehoboth, Pdt. W.D. Tuhumena, menegaskan pentingnya merawat perdamaian secara berkelanjutan. Ia mengingatkan bahwa Ambon memiliki pengalaman pahit konflik kemanusiaan pada 1999, sehingga upaya membangun perdamaian harus dilakukan secara sadar dan terus-menerus.
“Perdamaian tidak cukup diwariskan, tetapi harus diajarkan dan dipraktikkan,” ujarnya.
Melalui program Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini, para guru diharapkan menjadi agen perdamaian di ruang kelas dan lingkungan sekolah. Dengan demikian, anak-anak Ambon dapat tumbuh sebagai generasi yang mampu belajar dalam perbedaan dan hidup bersama dalam damai, menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.(MM-9)
















