Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahHeadline

Atasi Tumpahan Oli di Laut Hative Besar, Komisi II DPRD Maluku Turun Tangan

75
×

Atasi Tumpahan Oli di Laut Hative Besar, Komisi II DPRD Maluku Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Keresahan masyarakat Negeri Hatiwe Besar, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, akibat tumpahan oli yang mencemari perairan Dusun Wailaha, mendapat perhatian serius dari Komisi II DPRD Provinsi Maluku. Dewan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Maluku, Pertamina, dan Pemerintah Negeri Hatiwe Besar melakukan peninjauan langsung (on the spot) ke lokasi kejadian, Senin (3/11/2025).

 

Tumpahan oli yang terjadi sejak Kamis (30/10/2025) itu membuat batu-batu yang berada di permukaan laut di sekitar pesisir Wailaha berubah hitam pekat. Batu-batu di bibir pantai terlihat dilapisi minyak berwarna hitam. Warga pun mengaku takut untuk melaut maupun beraktivitas di pantai karena khawatir akan dampak pencemaran.

 

Salah satu warga Dusun Wailaha, Popi Kiriweno, menceritakan bahwa tumpahan pertama kali diketahui warga pada Kamis pagi sekitar pukul 09.00 WIT.

“Waktu itu ada kegiatan kunjungan jemaat, lalu salah satu warga tunjukkan foto laut yang sudah menghitam. Kami langsung turun lihat ke pantai, ternyata benar. Minyak sudah menyebar di air,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, warga kini takut mandi dan melaut karena khawatir ikan dan air laut telah terkontaminasi.

“Biasanya malam, masyarakat beraktivitas melaut mencari ikan puri, tapi sekarang semua berhenti. Takut saja, jangan sampai racun atau limbah berbahaya,” katanya dengan nada cemas.

Ketua Komisi II DPRD Maluku, Irawadi, mengatakan kunjungan lapangan dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat.

 

“Sumber tumpahan belum diketahui dari kapal mana. Dari hasil tinjauan, masih ada sisa tumpahan di bibir pantai. Kita akan tindaklanjuti dengan Dinas Lingkungan Hidup dan KSOP yang memiliki kewenangan di bidang pelayaran,” ujarnya.

Ia menegaskan, Komisi II akan mengagendakan rapat bersama Komisi III DPRD Maluku agar penanganan dapat dilakukan lintas sektor, mengingat persoalan ini menyangkut lingkungan dan aktivitas kapal di wilayah perairan Ambon.

 

Sementara itu, Pengawas Dinas Lingkungan Hidup Maluku, Silvia, menjelaskan pihaknya telah mengambil sampel air laut dan oli untuk diuji laboratorium.

“Kita temukan ceceran oli di sepanjang bibir pantai sekitar 100 meter. Sampel sedang diuji, hasilnya diperkirakan keluar dalam 14 hari. Sambil menunggu, masyarakat kami arahkan untuk tidak mandi atau melaut di area tersebut,” jelasnya.

 

Dari pihak Pertamina, Novi Prasetyo, Integrated Terminal Manager Pertamina Wayame, menegaskan bahwa hasil pengecekan lapangan menunjukkan tumpahan tersebut bukan berasal dari produk Pertamina.

“Kami sudah pastikan, bukan dari kapal Pertamina. Semua kapal Pertamina memiliki prosedur ketat, tempat penyimpanan oli bekas disegel dan diawasi,” ungkapnya.(MM)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *