Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
DaerahEkonomiHeadline

Maluku Kaya Surga Wisata, Tapi Masih Tersandera Tiket Mahal dan Pengelolaan Setengah Hati

6
×

Maluku Kaya Surga Wisata, Tapi Masih Tersandera Tiket Mahal dan Pengelolaan Setengah Hati

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

AMBON, MM. – Maluku dinilai telah memiliki seluruh syarat menjadi destinasi wisata kelas dunia. Keindahan bahari, gugusan pulau eksotis, sejarah rempah yang mendunia hingga kekayaan budaya menjadikannya  sebagai salah satu wilayah dengan potensi pariwisata paling lengkap di Indonesia.

 

Namun di balik pesona itu, Maluku masih menghadapi persoalan klasik yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi: mahalnya akses transportasi, lemahnya konektivitas antarwilayah, fasilitas wisata yang terbatas serta pengelolaan destinasi yang belum profesional.

 

Akibatnya, sektor pariwisata Maluku dinilai belum benar-benar tumbuh sebagai kekuatan ekonomi daerah yang mampu memberikan dampak besar bagi kesejahteraan masyarakat.

 

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Melky Lohy, mengakui bahwa tantangan utama pariwisata Maluku saat ini bukan lagi sekadar memperkenalkan destinasi kepada dunia, tetapi memastikan wisatawan yang datang merasa nyaman dan ingin kembali lagi.

 

“Harapan kita bukan hanya orang datang ke Maluku, tetapi mereka pulang membawa cerita baik dan membuat orang lain ikut datang. Namun pertumbuhan wisata kita masih cukup lambat,” ujar Lohy di ruang kerjanya, Kamis (21/5/2026).

 

Padahal, Maluku memiliki sederet destinasi unggulan yang sudah dikenal luas, mulai dari Banda Neira dengan sejarah rempah dunia, Pantai Ora yang dijuluki surga tersembunyi Indonesia, Pantai Pasir Panjang di Kei, Welora di Maluku Barat Daya hingga wisata bahari di Buru dan Kepulauan Tanimbar.

Menurut Lohy, kekayaan itu belum sepenuhnya dikelola dengan pendekatan industri pariwisata modern.

 

“Potensi kita luar biasa, tetapi pengelolaannya belum dilakukan secara profesional sebagai industri pariwisata,” tegasnya.

 

Ia menilai pengembangan pariwisata Maluku selama ini masih berjalan parsial dan belum terintegrasi secara menyeluruh antara destinasi, transportasi, promosi, sumber daya manusia dan dukungan investasi.

 

Salah satu persoalan yang paling dikeluhkan wisatawan, kata Lohy, adalah mahalnya biaya perjalanan menuju Maluku maupun antarwilayah di dalam provinsi kepulauan tersebut.

“Kadang biaya datang ke Maluku lebih mahal dibanding ke luar negeri. Ini tantangan serius,” katanya.

 

Kondisi itu diperparah dengan belum stabilnya konektivitas transportasi menuju destinasi unggulan seperti Banda dan Ora yang membuat wisatawan kesulitan mendapatkan kepastian perjalanan.

 

Padahal menurutnya, wisata modern tidak hanya menjual pemandangan indah, tetapi juga kenyamanan, aksesibilitas dan pengalaman wisata yang berkualitas.

 

Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku kini mulai mendorong pembangunan ekosistem wisata yang lebih terintegrasi, termasuk memperkuat kerja sama dengan asosiasi pariwisata seperti PHRI, ASITA, GENPI, HPI hingga komunitas diving.

 

Salah satu fokus utama yang kini mulai didorong adalah penataan Pantai Liang Hunimua sebagai ikon wisata Pulau Ambon.

 

Meski dikenal memiliki pasir putih dan panorama laut yang indah, kawasan tersebut dinilai belum dikelola secara maksimal. Bahkan abrasi mulai mengancam garis pantai di kawasan wisata itu.

“Kalau tidak mulai ditata sekarang, Pantai Liang yang indah ini bisa menjadi kenangan,” ujar Lohy mengingatkan.

 

Selain itu, Pemerintah Provinsi Maluku juga terus mendorong Banda Neira masuk dalam kategori Destinasi Super Prioritas Nasional karena dianggap memiliki kekayaan wisata sejarah, budaya, bahari dan religi yang lengkap.

 

Menurut Lohy, jika Banda berhasil masuk kategori tersebut, maka pariwisata Maluku akan mendapatkan dorongan pembangunan yang jauh lebih besar dari pemerintah pusat.

 

Ia optimistis, bila pengelolaan wisata dilakukan lebih serius dan profesional, Maluku bukan hanya dikenal sebagai negeri indah, tetapi mampu menjadikan sektor pariwisata sebagai masa depan ekonomi daerah.

 

“Maluku tidak kekurangan keindahan. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian membangun dan menata pariwisata secara serius,” tegasnya.

 

Di tengah gugusan pulau, laut biru dan jejak sejarah rempah yang dimiliki, Maluku sebenarnya sudah mempunyai modal besar menjadi destinasi kelas dunia. Persoalannya kini bukan lagi soal potensi, tetapi sejauh mana keberanian semua pihak mengubah keindahan itu menjadi kekuatan ekonomi nyata bagi masyarakat.(MM-9)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *