AMBON, MM. — Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku mencatat Provinsi Maluku mengalami inflasi Month to Month (m-to-m) sebesar 0,58 persen pada Februari 2026. Secara kumulatif, inflasi Year-to-Date (y-to-d) tercatat 1,34 persen, sementara inflasi Year-on-Year (y-on-y) mencapai 5,97 persen.
Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) di Ambon, Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa inflasi tahunan (y-on-y) sebesar 5,97 persen tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,30.
Secara spasial, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Tual sebesar 6,77 persen dengan IHK 112,47. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 5,92 persen dengan IHK 112,38.
BPS mencatat kenaikan harga terjadi pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran.
Tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 21,40 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,05 persen, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,77 persen.
Kelompok kesehatan juga mengalami kenaikan 5,32 persen, pendidikan 2,84 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,95 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,52 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,94 persen, transportasi 0,39 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,32 persen.
Adapun satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah pakaian dan alas kaki sebesar 0,85 persen.
Dengan inflasi bulanan 0,58 persen pada Februari dan akumulasi awal tahun sebesar 1,34 persen, dinamika harga di Maluku menunjukkan adanya tekanan dari sektor kebutuhan dasar, terutama perumahan dan konsumsi rumah tangga. Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi pengendalian inflasi daerah guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.(MM-3)
















